
Ken memasuki kamar, melihat Sara berbaring diranjang memunggunginya.
Ken menghela nafas panjang lalu menghampiri Sara. Kini Ia berlutut didepan Sara dan siapa sangka Ken melihat Sara menangis tanpa bersuara.
Seketika Ken merasa sangat bersalah atas apa yang sedang terjadi saat ini.
"Aku memang pria yang jahat." gumam Ken membuat Sara menghentikan tangisnya, "Aku ingin meminta kesempatan padamu tapi aku rasa sangat memalukan karena kamu pasti tidak akan memberiku kesempatan." ungkap Ken "Dan saat ini aku hanya ingin meminta maaf padamu, Bisakah kau memaafkan ku atas segala kesalahan yang telah terjadi?"
Sara kembali menangis, entah mengapa dadanya terasa sesak mendengar ucapan permintaan maaf juga tatapan penuh penyesalan dari Ken.
"Aku tahu pasti sulit untuk memaafkan pria brengsek sepertiku, aku paham. Aku bisa mengerti." kata Ken yang kini menunduk tak menatap Sara.
"Apa kurangnya aku?"
Ken kembali menatap Sara, "Apa kurangnya aku hingga kamu melakukan ini padaku?"
Ken menggelengkan kepalanya, "Tidak ada yang kurang, tidak ada... Memang aku lah yang brengsek. Aku pantas menerima hukuman ini." akui Ken yang kini mulai menangis, Ken benar benar menyesali perbuatannya pada Sara.
"Apa kau belum bisa mencintaiku Ken? Katakan kau belum bisa mencintaiku?"
Ken kembali menunduk, tak menjawab ucapan Sara.
"Aku anggap memang begitu." gumam Sara tersenyum kecut, "Aku memang bukan wanita baik, pantas saja jika kau tidak pernah bisa mencintaiku."
Ken menggelengkan kepalanya, tak setuju dengan ucapan Sara, "Tidak sayang, kau istri terbaik. Istri terbaik yang pernah ku miliki."
Lagi lagi Sara tersenyum kecut, "Tapi itu tak mampu membuatmu bisa mencintaiku Ken."
"Maafkan aku Sara.
Sara mengangguk, "Tidak apa apa, sekarang kau bebas Ken. Lakukan apapun yang kau mau. Aku akan segera mengurus surat perceraian kita." ucap Sara lalu beranjak dari ranjang, keluar dari kamar meninggalkan Ken.
Sara sudah berada diluar kamar, Ia melihat ada Vanes berjalan ke arahnya dan tanpa mengatakan apapun Vanes memeluk dirinya.
Pelukan Vanes membuat tangis Sara kembali pecah, Ia menangis sesenggukan dipelukan sepupunya itu.
Vanes mengelus punggung Sara, "Sudah... Sudah... Jangan menangis lagi. Aku tahu kamu wanita kuat, jangan menangis lagi." hibur Vanes namun tetap tak membuat Sara diam.
Setelah beberapa menit, Vanes mengajak Sara ke kamarnya. Ia memberi Sara segelas air putih agar Sara merasa tenang.
"Aku siap mendengarkan ceritamu tapi jika kamu tidak mau menceritakan padaku, tidak apa apa." kata Vanes.
Sara masih diam dan Vanes pun ikut diam. Keduanya sama sama diam hampir 15 menit setelah itu Sara mulai berbicara, "Apa aku tidak cantik?"
Vanes tersenyum, "Kau sangat cantik." balas Vanes lalu mengambil cermin kecil yang ada dimeja rias, "Lihatlah dirimu dan tersenyumlah, kau bahkan lebih cantik dariku." puji Vanes.
Sara akhirnya tersenyum mendengar pujian Vanes, "Jangan membual, jika aku cantik kenapa aku tidak seberuntung dirimu?"
Vanes memanyunkan bibirnya tak terima, "Hey jangan berbicara seperti itu, apa kau lupa aku juga pernah menjadi janda. Suamiku dulu tidak mencintaiku dan memilih selingkuhannya, rasanya sangat menyakitkan."
Sara terkejut namun sedetik kemudian senyumnya kembali muncul, "Maaf."
"Terkadang kita memang harus gagal untuk mendapatkan yang terbaik Sara."
Sara menghela nafas panjang, "Tapi rasanya menyakitkan sekali, sangat membekas dan aku merasa akan sulit dilupakan."
Vanes tersenyum lalu mengenggam tangan Sara, "Setelah kau mendapatkan pengganti yang baik, kau bahkan tidak ingat apa yang terjadi hari ini."
Sara menatap Vanes penuh harap, "Benarkah?"
Vanes mengangguk, "Percayalah padaku. Kita hanya perlu melewati rasa sakit ini, menerima takdir yang tidak baik ini sebelum akhirnya kita bahagia."
Sara mengangguk, kembali memeluk Vanes dan Menangis di pelukan Vanes.
Beberapa menit Sara akhirnya menghentikan tangisnya, Ia sudah bercerita dengan Vanes namun rasanya masih ada yang mengganjal dihatinya.
"Berapa lama mantan suami mu berselingkuh?" tanya Sara penasaran dengan Rizal mantan suami Vanes.
Sara pernah mendengar sedikit cerita tentang pernikahan Vanes dengan Rizal yang dijodohkan namun Ia tak tahu apa yang masalah mereka hingga akhirnya bercerai.
"Mungkin selama pernikahan."
Mata Sara langsung saja melotot, "Dan kau bertahan?"
Vanes mengangguk, "Aku mencintai Mas Rizal jadi aku menerima perjodohan itu padahal aku tahu Mas Rizal tidak menyukaiku dan memiliki kekasih. Aku pikir seiring berjalannya waktu Mas Rizal akan menerimaku sebagai istrinya dan mencintaiku namun ternyata aku salah. Setiap malam bahkan Mas Rizal jarang pulang karena menginap dirumah kekasihnya itu dan kau tahu Sara apa yang lebih menyakitkan?"
Sara menatap Vanes menunggu Vanes melanjutkan ceritanya.
"Saat aku tahu jika Mas Rizal menikahiku karena perusahaan Papa."
Sara menggelengkan kepalanya, "Kejam sekali, tapi kini aku merasakannya. Sampai saat ini Ken juga belum bisa menerima ku."
"Itu sebabnya Ken berselingkuh?" tanya Vanes.
"Aku merasa dia menyukai seseorang."
Vanes menatap Sara, "Sebenarnya siapa selingkuhannya?"
"Alea."
Vanes terkejut hingga Ia tak mampu berkata kata lagi.
Sementara itu dikamar Sara, Ken masih tersimpuh dilantai. Ia tampak meratapi nasibnya yang sangat buruk. Ia sudah kehilangan Bayinya dan kini harus kehilangan istrinya pula. Benar benar nasib yang tak terduga.
"Jika saja aku tidak menuruti hawa nafsuku mungkin hidupku tidak akan seperti ini, hidupku benar benar mengecewakan." gumam Ken lalu tersenyum kecut.
Ken beranjak dari lantai, Ia mengambil koper lalu memasukan bajunya ke dalam koper. Setelah ini mungkin Ken akan pergi dari rumah ini. Ken tidak mau menyakiti Sara lebih dari ini.
Saat Ken tengah mengemasi bajunya, Alea masuk ke kamar Sara membawa baju yang sudah di laundry.
Alea terkejut saat melihat Ken mengemasi barangnya, "Tuan mau kemana?"
Ken menatap tajam ke arah Alea. Ia menghentikan gerakan tangannya dan berjalan mendekati Alea lalu mencekik Alea.
"Kau pikir aku mau kemana hah? Tentu saja aku akan pergi dari sini. Semua karena gadis sialan sepertimu." ucap Ken lalu mendorong Alea hingga gadis itu jatuh.
"Apa kau menceritakan hubungan kita pada Sara?"
Alea tampak menunduk takut menandakan jika kecurigaan Ken benar. Alea menceritakan hubungan mereka pada Sara.
"Brengsek! Beraninya kau!" Ken baru ingin menampar Alea namun akhirnya Ia tahan mengingat Ia tidak pernah menghajar wanita.
"Ampun Tuan... Ampun." suara Alea terdengar serak bahkan bibir Alea bergetar seolah Alea sedang ketakutan saat ini.
"Aku membayarmu dan seharusnya kau tutup mulut tapi ternyata kau.... Sialan benar benar sialan kau!"
"Bawa saya bersama Tuan." pinta Alea.
Ken terkejut, tak percaya dengan ucapan Alea yang sangat percaya diri, "Bawa saya pergi bersama Tuan."
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaaa