
Darah yang mengalir di kaki Rani membuat Dylan semakin panik hingga Ia berteriak memanggil suster agar segera membawa Rani ke ruang UGD.
Setelah Rani masuk ruangan, Dylan menunggu Rani dengan cemas, wajahnya pun ikut pucat. Dylan tak mau terjadi sesuatu pada Rani.
"Apa yang kau lakukan pada pasien?" tanya Dokter yang baru saja selesai memeriksa Rani.
"Maksud Dokter apa?" Dylan menatap dokter tak mengerti.
"Kau memberinya obat penggugur kandungan? Harus segera dikuretase agar tidak membahayakan nyawa pasien." ucap Sang Dokter yang langsung membuat Dylan tersungkur dilantai.
"Apa? Obat apa? aku bahkan tidak memberi Rani apapun apalagi obat penggugur kandungan, tidak mungkin aku melakukan itu." batin Dylan masih merasa tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Bagaimana? Pasien harus segera ditangani." ucap Dokter itu mendesak Dylan.
"Baiklah, lakukan apapun asal Rani bisa selamat."
Dokter itu mengangguk paham dan langsung pergi meninggalkan Dylan yang masih tersungkur dilantai.
"Apa mungkin wanita itu yang melakukan ini?" batin Dylan mengingat mereka berdua sempat minum air sirup buatan Siti.
"Tidak mungkin, mana ada seorang Ibu tega melakukan hal seperti itu pada putrinya." gumam Dylan.
Setelah dikuretase, Rani dibawa ke ruang perawatan.
"Anak kita..." ucap Rani dengan suara pelan.
"Ada yang ingin ku tanyakan tapi jangan marah." kata Dylan yang langsung diangguki oleh Rani.
"Apa mungkin kau minum obat penggugur kandungan?"
Rani tampak terkejut mendengar pertanyaan Dylan yang terkesan menuduh.
"Aku hanya bertanya, jangan marah. Dokter mengatakan jika kau minum obat penggugur kandungan dan Dokter juga menuduh aku yang melakukan itu padamu." jelas Dylan melihat Rani terdiam membuatnya bisa menebak jika Rani pasti tersinggung dengan pertanyaannya.
"Jika aku minum seharusnya kau melihatnya karena kita bersama sejak pagi." balas Rani dengan bibir bergetar tak menyangka penyebab Ia keguguran adalah obat.
"Jika bukan kamu berarti Ibumu."
Rani menatap Dylan tak terima.
"Apa kau tidak curiga, Ibumu membuatkan kita minum sirup padahal sebelumnya Ibumu tidak pernah peduli dengan kedatangan kita, bahkan Ia juga memaksa kita untuk menghabiskan sirup buatannya. Jika tidak ada sesuatu pasti Ibumu tidak akan sebaik itu pada kita terutama padaku." jelas Dylan.
Rani terdiam, apa yang dikatakan Dylan memang masuk akal. Jika tidak ada sesuatu mungkin Ibunya tidak akan sebaik itu pada mereka mengingat sejak kedatangan Dylan ibunya tidak pernah bersikap baik.
"Mungkin kau benar." gumam Rani lalu menangis.
"Ibumu memang keterlaluan, bagaimana bisa dia melakukan ini pada kita." ucap Dylan dengan nada marah.
Rani meraih tangan Dylan lalu mengenggamnya, "Kita yang salah, kita yang salah, tidak seharusnya aku hamil diluar nikah." ucap Rani mencoba merayu Dylan.
"Aku tahu kita yang salah tapi apa harus Ibumu berbuat seperti itu pada kita?"
Rani kembali terdiam.
"Aku ingin hubungan kita serius tapi lihatlah Ibumu tak menginginkan putrinya dinikahi malah ingin mencelakai putrinya sendiri." ucap Dylan lagi.
"Aku tahu Ibuku salah, maafkan dia. Sebaiknya kau keluar dulu, aku ingin menenangkan diri." pinta Rani.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Dylan keluar dari ruant rawat Rani.
Dylan memasuki mobil, Ia ingin pergi menemui Siti.
Sesampainya dirumah orangtua Rani, hanya ada Siti dirumah sendiri.
"Kau datang lagi? Ada apa? dimana Rani?" tanya Siti saat membuka pintu.
"Kenapa Anda melakukan itu?" tanya Dylan tak ingin basa basi dan bersikap sopan.
"Apa yang ku lakukan?" Tanya Siti pura pura tak mengerti.
"Oh kau sudah tahu?" tanya Siti dengan wajah datar, tak merasa bersalah sedikitpun.
"Apakah Anda gila? Bagaimana bisa Anda melakukan itu pada Rani!" Dylan mulai emosi.
"Jawabanku masih sama, aku tak ingin Rani buru buru menikah. Rani masih harus membiayai hidup keluarganya." kata Siti.
"Bahkan jika pun Rani sudah menikah, saya juga sanggup untuk memberi uang keluarganya setiap bulan!"
Siti tertawa, "Ya di awal memang seperti itu tapi nanti setelah kau bosan, kau tidak akan memikirkan keluarga ini lagi. Aku menyekolahkan Rani agar dia bisa lebih berguna untuk keluarganya dan penghambat seperti kau memang harus ku singkirkan." ucap Siti menatap Dylan tajam.
Dylan tersenyum, "Baiklah jika memang itu yang anda inginkan. Saya bisa memastikan setelah ini Anda tidak akan mendapatkan apapun." kata Dylan lalu pergi dari rumah Siti.
"Kau pikir kau siapa?" omel Siti namun tak didengar oleh Dylan.
Dylan kembali lagi ke klinik tempat Rani dirawat. Ia memasuki ruangan Rani dan melihat kekasihnya itu sudah terlelap.
Dylan keluar lagi karena tak ingin menganggu Rani istirahat.
Saat keluar, Ia berpapasan dengan Dokter yang akan masuk ke ruangan Rani, akan mengecek keadaan Rani.
Dylan menunggu diluar dan tak berapa lama Dokter keluar lagi.
"Kuretase berhasil dan sudah bersih. Sekarang hanya menunggu pasien pulih jadi harus bedrest paling tidak seminggu."
Dylan mengangguk paham, "Apa bisa rawat jalan dirumah Dok?"
"Ya jika memang ingin seperti itu juga tidak masalah."
Dylan mengangguk lagi. Ia harus segera membawa Rani pulang ke kota karena Ia juga tak bisa meninggalkan pekerjaan kantor lebih lama.
Paginya...
Dylan dan Rani bersiap pulang ke kota. Wajah Rani masih terlihat pucat.
Sampai dikota, Dylan tidak membawa Rani ke rumah Wira melainkan ke rumah sakit yang lebih besar agar Rani bisa mendapatkan perawatan lebih dulu.
"Mungkin aku harus menghubungi Mas Faris." ucap Dylan namun Rani langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, bilang saja kalau aku nginep dirumah Ibu." pinta Rani.
"Nggak bisa gitu, siapa yang mau ngerawat kamu disini kalau aku dikantor, hari ini weekend aku bisa merawatmu tapi besok aku harus ke kantor."
"Aku bisa melakukan apapun sendiri." ucap Rani.
Dylan berdecak kesal lalu pergi begitu saja meninggalkan Rani.
Rani menghela nafas panjang, sejak semalam Dylan selalu bersikap dingin padanya. Rani bisa mengerti, apa yang terjadi memang kesalahan Ibunya jadi wajar saja jika Dylan marah.
Dylan memasuki mobilnya, Ia berniat pergi kerumah Wira untuk mengatakan yang sejujurnya pada Faris. Tak peduli jika Faris marah dan mungkin saja akan menghajarnya, semua memang salahnya.
"Kenapa kau pulang sendiri? Mana Rani?" tanya Vanes yang membukakan pintu untuk Dylan.
"Mbak, aku mau ngomong sama Mas Faris."
Vanes mengerutkan keningnya heran, namun akhirnya Ia mempersilahkan Dylan untuk masuk dan segera memanggil Faris.
"Ada apa Lan?" tanya Faris langsung duduk disamping Dylan.
"Gini mas..."
Dylan menjelaskan segalanya pada Faris yang membuat Faris terkejut, menatap Dylan tak percaya.
"Maaf mas..."
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen ...