
Mira menatap Nathan lalu menatap wanita hamil itu bergantian. Rasanya baru siang tadi Mira mencoba percaya pada Nathan namun ternyata pria itu sama brengseknya dengan Rizal.
"Aku hamil, kau harus tanggung jawab!" pinta wanita itu lagi.
"Kau gila?" Nathan menatap wanita itu dengan geram. "Aku bahkan tidak mengenalmu."
Plak... Wanita hamil itu langsung menampar pipi Nathan.
"Kau yang gila, bagaimana bisa kau lari dari tanggung jawab setelah menghamiliku."
Mira kembali merasakan sakit kepalanya, Ia mengambil kunci dari tangan Nathan lalu memasuki mobil.
Nathan tampak membuka pintu mobil namun sayang pintunya terkunci dari dalam.
"Sayang, aku bisa menjelaskan padamu, jangan pergi dulu." teriak Nathan dari luar mobil namun tak digubris oleh Mira.
Mira melajukan mobilnya meninggalkan Nathan bersama wanita hamil tadi.
Nathan yang geram akhirnya mencekik leher wanita itu, "Kau siapa? Berani sekali kau menuduhku seperti itu!"
Wanita itu tak menjawab, mencoba melepaskan tangan Rizal dari lehernya.
"Katakan kau siapa, berani sekali kau menuduhku-"
Ucapan Nathan terpotong, suara pukulan bersamaan dengan tubuh Nathan yang terhuyung jatuh.
Dengan pandangan samar samar, Nathan melihat Wanita itu pergi bersama pria lain.
"Sial!" umpat Nathan hingga akhirnya Ia tak sadarkan diri.
...****************...
"Bagus, kau bekerja dengan sangat baik. Aku akan mentransfer uangnya untukmu." ucap Rizal lalu mengakhiri panggilannya.
Rizal menatap Tantri yang juga menatapnya dengan kesal.
"Bagaimana bisa kau menghamburkan uang seperti itu padahal kau tidak punya uang!" Sentak Tantri.
"Aku menjual rumah hadiah pernikahanku." kata Rizal santai.
Mata Tantri melotot, "Bagaimana bisa kau melakukan itu, apa kau sudah tidak waras?"
Rizal berdecak, "Aku terpaksa melakukan ini bu, kita butuh banyak uang untuk biaya rumah sakit dan merebut kembali perusahaanku." tegas Rizal.
"Tapi itu rumah pemberian Papa mertuamu, dia pasti kecewa melihatmu menjualnya."
Rizal menghela nafas panjang, "Aku akan membelinya lagi setelah mendapatkan perusahaanku kembali."
"Benar benar tidak menyangka!"
Pintu ruangan terbuka, Hendra pengacara Faris terlihat memasuki ruangan membawa sebuah koper.
"Ini uang hasil penjualan rumahmu." kata Hendra yang memang membantu menjual rumah Rizal.
Hendra membuka koper itu dimana ada bertumpuk tumpuk uang yang langsung membuat mata Tantri biru.
"Apa itu uang asli semua?" tanya Tantri yang langsung diangguki oleh Hendra.
"Berapa jumlahnya?" tanya Rizal.
"200 juta."
Rizal terkejut, "Hanya 200 juta? apa kau gila? Itu rumah sangat mewah" Rizal tampak kecewa.
Hendra berdecak, "Jika kau ingin 500 juta seharusnya kau jual saja sendiri. Mana bisa kau meminta 500 juta hanya dalam waktu 1 hari."
Rizal akhirnya pasrah, semua memang salahnya. Dirinya yang meminta rumah itu dijual dengan cepat oleh Hendra dan hasilnya tidak sesuai dengan harapannya.
"Uang ini hanya cukup untuk biaya rumah sakit dan membayarmu."
Seketika Tantri langsung mengambil beberapa gepok uang. "Ini untuk Mama, enak saja Mama tidak diberi bagian." kata Tantri memeluk erat uang yang diambil.
Rizal terlihat pusing ingin melarang namun tak berani akhirnya Ia pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh ibunya.
"Lalu berapa jatahku? Aku sudah memiliki rencana untuk merebut kembali perusahaanmu."
Kata Hendra.
Hendra berdecak, Ia terlihat kecewa, "Jadi aku tidak mendapatkan apapun?"
"Aku akan memberimu 10 juta karena kau sudah membantu menjual rumah, untuk urusan perusahaan aku akan mengurusnya sendiri."
"Apa kau yakin bisa berhasil?" tanya Tantri tampak tak percaya.
"Mama tenang saja, aku pasti akan mendapatkannya kembali."
Hendra akhirnya mengangguk dan langsung mengambil uang yang diberikan oleh Rizal, "Hubungi saja aku jika kau butuh bantuan." kata Hendra yang langsung diangguki oleh Rizal lagi.
Sementara itu Ken, anak buah Wira tampak memasuki ruangan dimana ada Wira dan Vanes yang tengah berada diruangan itu.
"Saya sudah mengirim berkas perceraian dipengadilan Tuan." lapor Wira.
"Bagus, aku harap tidak ada kendala apapun dan putriku segera bersih."
Ken mengangguk, "Jika Rizal tidak datang selama proses berlangsung, kemungkinan akan segera selesai Tuan."
Wira tersenyum, "Aku tahu kau pintar mengatur semua ini."
"Sekarang ada masalah baru lagi Tuan."
Wira menatap Ken, "Masalah apa lagi?"
"Rizal menjual rumah yang Tuan berikan sebagai hadiah pernikahan."
Wira terlihat biasa saja namun Vanes tidak, Wanita itu sangar terkejut.
"Apa dia gila? Bagaimana bisa dia melakukan itu!" omel Vanes.
"Apa sudah terjual?"
Ken tersenyum, "Maaf baru mengatakan sekarang, saya meminta Indah(bendahara diperusahaan Wira) untuk membayar rumah itu dengan harga yang sangat murah, 250 juta saja Tuan dan perwakilan Rizal setuju jadi rumah itu kini kembali pada Tuan," jelas Ken lalu membuka tas ranselnya dan memberikan sertifikat rumah pada Wira.
Vanes terlihat lega apalagi mendengar tawa renyah Wira, "Kau benar benar sangat pintar dan bisa diandalkan." puji Wira.
"Hanya seperti ini yang bisa saya lakukan untuk membalas semua kebaikan Tuan pada keluargA saya."
Wira mengangguk, "Baiklah, kau boleh pulang dan bertempurlah lagi untuk besok saat menghadiri sidang perceraian, aku tidak mau Vanes datang kesana."
"Baik Tuan." Ken segera pergi dari ruangan itu.
Kini tinggalah Wira dan Vanes yang ada diruangan itu, mereka tampak sibuk dengan pikiran masing masing.
"Tidurlah, sudah malam." pinta Wira.
"Apa aku boleh meminta sesuatu pada Papa?"
Wira mengangguk, "Tentu saja, apapun itu."
Vanes akhirnya menceritakan keinginannya pada Wira, "Aku harap Papa bisa-"
"Tidak Vanes, sudah cukup kau menderita karena ini semua."
"Tapi itu kebahagiaan Vanes Pa... Vanes mohon izinkan Vanes untuk mencari kebahagiaan Vanes." pinta Vanes.
"Apa kau ingat, sebelumnya kau juga seperti ini. Hanya karena rasa suka mu pada Rizal kau bahkan langsung menerima perjodohan yang dibuat oleh Tantriz dan sekarang lihatlah kau begitu menderita." kata Wira enggan memberikan apa yang di inginkan oleh Vanes.
"Tapi Vanes yakin kali ini tidak akan terulang lagi, Vanes bahagia bersama-"
"Sekali tidak tetap tidak Vanes! Jangan membantah lagi." ucap Wira sedikit keras lalu beranjak dari duduknya meninggalkan Vanes sendirian diruangan itu.
Vanes terlihat sangat sedih karena permintaannya tidak dipenuhi oleh Papanya.
"Aku bahkan bahagia bisa bercerai dari Rizal, aku pikir setelah ini juga akan bahagia bersama mas Faris tapi ternyata..."
Tadinya Vanes meminta pada Wira jika Ia ingin bersama dengan Faris, Vanes bahkan sudah menjelaskan pada Wira jika Faris itu orang yang sangat baik namun sepertinya Wira masih belum mempercayai pria manapun untuk Vanes setelah melihat kamdasnya hubungan Vanes dengan Rizal.
Vanes merasa akan sedikit sulit untuk bersama Faris namun Ia tak akan menyerah dengan mudah.
"Aku benar benar merindukan Mas Faris."
Bersambung....