TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
243


Arga mengumpulkan nyawa untuk bangun dan membantu Ayahnya kerokan sambil sesekali mengomeli Ayahnya yang terlalu bucin hingga tak memikirkan kesehatan sendiri.


Seharian ini Herman berada di luar rumah apalagi rumah sakit, tempat yang rawan dengan banyak penyakit. Herman yang sudah berumur tentu saja akan mudah terkena penyakit sepele seperti masuk angin.


"Berhentilah mengomel, jika aku sudah menikahi Dik Asih, aku tidak mungkin meminta bantuan mu seperti ini!" ucap Herman dengan nada kesal.


"Jika sudah menikah Ayah pasti akan sering masuk angin karena jarang memakai baju."


"Benar juga ucapanmu, lalu apa kau memiliki solusi agar aku tidak mudah masuk angin?" tanya Herman sedikit antusias.


"Jangan menikah dan jangan keluar rumah!"


Herman berdecak, "Itu bukan solusi, itu namanya penyiksaan."


Arga tertawa lalu menghentikan gerakannya, "Sudah selesai, aku harus kembali tidur dan jangan lagi menganggu ku atau aku akan mengadukan ini pada Bu Asih."


Herman langsung memukul lengan Arga, "Jangan berani berani kau mengatakan pada Dik Asih."


Arga kembali tertawa lalu berjalan meninggalkan Ayahnya.


"Ku bilang jangan katakan pada Dik Asihku!" teriak Herman yang masih bisa didengar oleh Arga.


"Dasar pria tua menyebalkan!" omel Arga kembali berbaring diranjangnya.


"Ayah kenapa mas?'" tanya Sara yang ikut bangun dan sempat mendengarkan teriakan Ayah mertuanya.


"Si bucin nggak jaga diri sampai kena angin dan aku disuruh ngerokin." omel Arga.


Sara tersenyum geli, "Jangan gitu mas, nanti kualat lho sama Ayah sendiri."


Arga tersenyum lalu memeluk istrinya, keduanya kembali terlelap.


Paginya...


Arga dan Sara baru saja turun ke lantai bawah. Keduanya sudah berpakaian kantor dengan rapi dan bersiap untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor.


"Ayah mau pergi lagi?" tanya Arga melihat Herman sudah berada dimeja makan dan berpakaian rapi.


"Iya dong, kasihan Dik Asih nggak ada yang nganterin."


Arga berdecak, "Ada Faris, ada sopirnya Papa Wira juga bisa nganterin Dik Asihnya Ayah."


Herman menggelengkan kepalanya, "Tidak bisa, harus Ayah yang nganterin."


Arga berdecak, "Dasar bucin, nanti masuk angin lagi!"


Herman tersenyum cengegesan, "Kalau ketemu sama Dik Asih nggak mungkin masuk angin."


Arga terlihat kesal berbeda dengan Sara yang justru tertawa mendengar celetukan Herman dan Arga.


Herman selesai lebih dulu dan langsung berangkat tanpa menunggu Arga dan Sara selesai makan.


"Bener bener deh Ayah!" omel Arga.


"Udahlah Mas, ngapain sih kayak belum pernah jatuh cinta aja." Sara menasehati.


"Ya tapi kan aku nggak gitu banget." Arga membela diri.


Sara berdecak, "Lupa ya mas setiap pagi datang buat minta sarapan." Sara mengingatkan.


Arga tersenyum malu, "Bener juga ya?"


"Nah kan... Makanya biarin aja Ayah kayak gitu namanya juga jatuh cinta."


Arga kembali berdecak, "Iya deh iya."


Selesai sarapan, keduanya keluar dari rumah dan sudah ada Zil yang menunggu mereka.


"Selamat pagi Tuan dan Nona..."


"Pagi Zil, mau ke kantor bareng kita?" tawar Sara.


Zil menggelengkan kepalanya, "Tidak Nona, saya bawa mobil sendiri. Cuma mau memberi tahu jika pihak WO sudah 95% hampir selesai."


Arga mengangguk, "Bagus jika begitu kita tinggal menunggu hari H saja."


"Benar Tuan dan ini undangan yang Tuan butuhkan, yang lain sudah saya sebarkan hanya tinggal ini untuk teman teman Tuan." ucap Zil mengulurkan beberapa undangan yang tersisa.


"Oke Zil, aku akan mengirimkan bonus untukmu."


Bibir Zil menyunggingkan senyum lebar, "Terima kasih Tuan... Terima kasih Nona." ucap Zil lalu pergi meninggalkan Arga dan Sara.


"Lalu apa aku harus memanyunkan bibirku?"


Arga tertawa, "Biasanya jika perempuan tersenyum sangat manis pasti ada yang ingin dia minta. Katakan kau ingin minta apa?" tanya Arga.


Sara menggelengkan kepalanya, "Aku hanya minta agar kau tetap bersamaku selamanya."


Arga menatap Sara tak percaya lalu merangkul istrinya itu, "Apa kau sudah mulai bucin sekarang huh?" tanya Arga sambil mencubit gemas Sara.


Sara tersenyum, "Kenapa? Kau ingin menyakitiku?"


Arga berdecak lalu melepaskan rangkulannya, Ia bahkan menghela nafas panjang. Kesal dengan pertanyaaan Sara yang membuat momen romantis keduanya hilang.


"Apa aku terlihat seperti pria brengsek dimatamu?"


Sara tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak."


"Lalu kenapa kau bertanya seperti itu!" omel Arga.


Melihat Arga kesal, Sara tertawa dan langsung memeluk suaminya, "Seperti ini rasanya jika kau membuat kesal Ayah."


Arga kembali gemas, kali ini Ia mencubit pipi Sara, "Jadi kau ingin membalaskan Ayah?"


Sara mengangguk dan kembali tertawa. Sebelum Arga berhasil mencubit pipinya lagi, Sara lebih dulu kabur dan masuk ke dalam mobil.


Arga menggelengkan kepalanya, tak menyangka jika istrinya bisa mengemaskan seperti itu.


Arga melajukan mobilnya, kali ini mereka tidak langsung ke kantor melainkan ke club milik Gala untuk memberikan undangan pernikahan.


"Aku pikir kalian tidak akan mengadakan resepsi." ucap Gala saat menerima undangan dari Arga.


"Mana mungkin, tentu saja kami akan mengadakan resepsi."


"Dan ini milik Tika?" tanya Gala yang diberi 2 undangan oleh Arga.


"Ya, tolong berikan untuknya."


Gala tersenyum, "Sebentar lagi dia datang, kau berikan sendiri saja pada Tika."


Arga mengerutkan keningnya heran, "Untuk apa dia datang sepagi ini menemuimu?"


"Kau tidak cemburu kan?" goda Gala menatap Arga bergantian menatap Sara.


"Aku hanya bercanda, jangan diambil hati." ucap Gala pada Sara.


Sara hanya mengangguk, Ia sudah terbiasa mendengar candaan receh seperti itu.


"Untuk apa aku cemburu, aku hanya penasaran dengan hubungan kalian." balas Arga acuh.


"Kau akan tahu sendiri orangnya dat-" belum sempat melanjutkan ucapannya, Gala melihat Tika memasuki club miliknya.


"Wah wah... Ada apa ini? Kenapa kau datang sepagi ini?" tanya Tika merasa senang melihat Arga datang.


"Ku kembalikan barangmu!" ucap Tika mengulurkan paper bag pada Gala.


Gala membuka paper bag, "Apa sudah dicuci?"


"Tentu saja sudah, apa kau tidak mencium bau wanginya!" omel Tika.


Gala langsung menghirup bau baju yang ada didalam paper bag, "Yah benar benar sangat harum."


"Temanku langsung mencucinya semalam, Ia juga berterima kasih karena kau meminjaminya baju." ucap Tika mengingat semalam temannya muntah di club Gala hingga mengenai baju dan karena tak mau pulang memakai baju kotor, Gala memijami baju bersih.


"Ya ya ya tidak masalah,"


"Kenapa kau datang menemui Gala sepagi ini?" tanya Tika kini sudah beralih ke Arga.


Gala segera memberikan undangan milik Tika, "Untukmu,"


"Aku harap kau bisa datang membawa teman teman." tambah Arga.


Tika tampak terkejut menatap Arga tak percaya, "Serius kau menikahi dia?"


Arga mengangguk.


"Kau selalu menolak ku karena aku tidak perawan tapi lihatlah sekarang... Kau malah menikahi janda."


Seketika Sara tersentak mendengar ucapan Tika.


Bersambung...