
Wira menatap ke arah Sara, Ia tidak terkejut tidak pula merasa biasa. Hatinya sakit mendengar Sara ingin meminta cerai dari Ken.
Wira tahu, cukup tahu seperti apa Ken itu bahkan sebelum Faris mencurigai Ken, Wira sudah lama mengenal Ken dan tahu kebobrokan Ken.
Wira memang menyukai Ken karena Ken pekerja keras dan sangat loyal padanya namun Wira tidak menyukai kebiasaan Ken. Kebiasaan Ken sebelumnya suka mempermainkan wanita dan setiap harinya pergi ke club untuk bersenang senang. Wira juga tahu Ken sempat menyukai Vanes namun Ia tidak membiarkan Vanes menikah dengan player seperti Ken.
Alasan Wira pernah meminta Ken menikahi Sara sebelum Ia koma karena Wira ingin Ken mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Wira tahu apa yang sudah Ken lakukan pada Sara waktu itu dan karena tak mau Sara dirugikan jadi Wira meminta Ken menikahi Sara.
Wira banyak mendengar dari Vanes dan Bik Sri jika Sara berubah jauh lebih baik setelah menikah dengan Ken membuat Wira sangat bahagia namun saat ini, hati Wira kembali dihancurkan atas gagalnya hubungan Sara dan Ken.
Wira takut jika Sara berpisah dengan Ken, sikap Sara akan kembali saat pertama Sara datang kemari, menjadi gadis dingin dan pendiam.
"Apa masalahnya?" tanya Wira.
"Haruskah aku menceritakan pada Paman?"
Wira mengangguk, "Jika kau tidak keberatan."
Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak Paman, biarkan aku saja yang mengetahui permasalahannya, aku hanya ingin Paman merestui perceraian ini."
Wira menghela nafas panjang, "Aku baru saja merasa bahagia melihat perubahan sikapmu setelah menikah dengan Ken dan sekarang..."
"Aku akan tetap seperti ini Paman jadi biarkan aku bercerai dengan Ken." kata Sara dengan suara serak seolah menahan tangis.
Lagi lagi Wira menghela nafas panjang, "Jika memang itu keputusanmu, Paman tidak bisa melakukan apapun. Bicarakan baik baik dengan Ken."
Sara mengangguk lalu tersenyum. Ia semakin mendekati Wira lalu memeluk pria itu, "Terima kasih paman, terima kasih banyak sudah mau mengerti Sara."
Wira menepuk nepuk bahu keponakannya itu, "Aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu dan Vanes. Apapun yang membuat kalian berdua bahagia karena kalian adalah putriku."
Sara meneteskan air matanya mendengar ucapan Wira yang menganggap Ia putrinya padahal sebelum ini, Keluarga Sara begitu jahat pada Wira namun Wira tetap menganggapnya sebagai putrinya.
Setelah puas menceritakan apa yang dirasakanya, Sara keluar dari kamar Wira. Dan saat Ia membuka pintu, Sara terkejut melihat Ken berada didepan pintu sambil membawa brankas kecil.
"Sayang, kenapa disini?" tanya Ken tampak terkejut namun Sara hanya diam saja tidak menjawab ucapan Ken.
"Aku akan membawa ini masuk, tunggu aku. Kita akan ke atas bersama." ucap Ken yang lagi lagi tak mendapatkan respon dari Sara.
Ken melewati Sara, membawa brankas itu masuk ke dalam kamar Wira.
"Silahkan Pa..."
Wira mengangguk, "Keluarlah, sepertinya istrimu ingin bicara padamu."
Ken mengangguk, lalu keluar membuka pintu dan tidak mendapati Sara disana.
Ken segera menaiki tangga dan membuka pintu kamarnya. Ia menghela nafas saat melihat Sara sudah duduk dipinggir ranjang mereka.
"Apa kau menginginkan sesuatu sayang?" tanya Ken mendekati Sara, duduk disamping Sara dan saat Ken ingin mengelus pipi Sara, istrinya itu menghindari sentuhannya.
"Ada apa? Kau marah?" tanya Ken merasa bingung dengan sikap Sara yang tiba tiba berubah dingin.
Sara masih diam membuat Ken bingung. Sebenarnya apa yang terjadi pada Sara? Pikir Ken dalam hatinya.
"Katakan sesuatu jangan hanya diam seperti ini? Apa salahku? Apa yang membuatmu kesal seperti ini." ucap Ken namun lagi lagi Sara diam.
Ken terlihat frustasi. Ia menghela nafas panjang lalu ikut diam bersama Sara.
Beberapa menit berlalu akhirnya kini Sara mengatakan pada Ken.
"Ken... Mari kita bercerai."
Deg... Rasanya jantung Ken berhenti berdegup mendengar ucapan Sara.
...****************...
Rani baru beranjak dan akan keluar namun pintu ruangannya lebih dulu terbuka dan nampak Dylan kekasihnya sudah masuk keruangannya.
"Sayang... ayo kita makan siang." Ajak Dylan yang mau tak mau membuat Rani tersenyum mendengar ajakan Dylan.
Hampir setiap ada waktu luang Dylan selalu menemui Rani, sekedar mengajak mengobrol membuat hubungan keduanya semakin dekat.
"kita mau makan apa?" tanya Rani.
"Apapun yang kau inginkan pasti akan ku turuti."
Rani tertawa, "Dasar perayu."
"Ya seperti inilah aku, tapi aku hanya merayumu seorang." kata Dylan yang lagi lagi membuat Rani kembali tersenyum.
Keduanya berjalan keluar ruangan Rani dan tujuan mereka makan siang di warung soto yang ada didepan kantor.
"Bos Ken nggak masuk kantor lagi." ucap Dylan disela sela mereka makan siang.
"Ya karena Mbak Sara belum sembuh total jadi mungkin Pak Ken masih mau menemani dirumah."
Dylan berohh ria lalu kembali menyuapkan sesendok nasi berkuah soto ke dalam mulutnya, "Rasanya senang sekali jika tidak ada dia dikantor." ucap Dylan.
"Apa kamu masih kesal karena waktu itu kita diberi banyak tugas?" tebak Rani lalu tertawa.
"Ya tentu saja aku kesal, kita bahkan tidak sempat makan siang karena itu." omel Dylan yang lagi lagi membuat Rani tersenyum geli, "Apa dia masih berharap bisa bersamamu setelah melihat istrinya sakit?"
Rani berdecak, "Aku tidak mau memikirkan tentang itu, jangan pikirkan agar tidak membuatmu kesal."
Dylan mengangguk lalu kembali menikmati semangkuk sotonya.
Setelah menghabiskan semangkuk sotonya, Dylan dan Rani segera keluar dari warung soto. Mereka kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan.
"Tidak perlu mengantarku sampai ke dalam." ucap Rani melihat Dylan mengikutinya sampai ke dalam ruangan.
"Aku masih ingin bersamamu."
Rani menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "Kembalilah keruanganmu."
"Sebentar lagi, ummm besok hari libur, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, apa kau mau?"
Rani mengerutkan keningnya, "Kemana?"
"Besok kau akan tahu asal luangkan waktu untuk pergi bersamaku."
Rani mengangguk, "Baiklah, kita akan pergi bersama besok."
Dylan tersenyum senang, Ia bahkan tanpa sadar mencium pipi Rani karena merasa terlalu senang.
"Maaf... Aku tidak sengaja."
Rani berdecak, "Aku tahu kau pasti sengaja!"
Dylan tersenyum tipis, "Apa kau marah?"
"Aku marah jika kau masih disini, keluarlah sekarang!" usir Rani merasa gemas.
"Baiklah ibu ratu, aku akan keluar sekarang." ucap Dylan lalu segera keluar dari ruangan Rani.
"Ibu ratu? Kenapa dia memanggilku ibu ratu?" omel Rani merasa tak terima, "Dia benar benar tidak bisa ditebak, aku penasaran kemana dia akan mengajak ku pergi besok." gumam Rani lalu tersenyum girang.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa