
Ken tersenyum puas seusai bercinta dengan Sara dan membuat gadis itu terlelap karena kelelahan.
Setelah mereka menikah, ini kali pertamanya Ia bercinta dengan Sara.
Ada perasaan tenang dihatinya namun juga ada perasaan gelisah karena harus Ken akui jika sampai saat ini, Ken belum bisa mencintai Sara.
Ya, Ken hanya menikmati tubuh Sara tanpa ada perasaan cinta. Memang terdengar jahat namun Ken juga tidak bisa memaksa hatinya. Ia akan berusaha sekuat mungkin agar segera mencintai Sara karena mau bagaimanapun, Sara adalah istrinya saat ini.
Ken mengecup kening Sara. Ken pergi mandi, selesai mandi, Ken pergi kebawah untuk minum teh hangat sembari merokok ditaman.
Hampir 1 jam lamanya Ken duduk ditaman hingga Ia memutuskan untuk kembali ke dalam rumah.
Ken meletakan gelas kotor di wastafel lalu pergi keruangan Wira karena memang Ia akan pergi kesana.
"Tuan... Semua sudah seperti apa yang Tuan inginkan." ucap Ken sambil memandangi Wira yang masih terlelap
"Saya sudah menikahi Sara dan Faris juga sudah menjalankan perusahaan seperti yang Tuan mau." ucap Ken menarik selimut Wira agar menutupi tubuh Wira sampai atas.
"Saya harap Tuan bisa bahagia." ucap Ken lagi sebelum akhirnya Ia keluar dari ruangan Wira.
...****************...
Ken terbangun setelah mencium aroma wangi sampo Sara. Saat Ken membuka mata, Ia melihat Sara berdiri didepan cermin, sedang mengeringkan rambutnya.
Ken tersenyum, beranjak dari ranjang lalu menghampiri Sara dan memeluk istrinya dari belakang.
Suara decakan Sara langsung saja terdengar, "Apa kau tidak ada kerjaan lain?"
Ken tersenyum, "Kenapa galak sekali padahal semalam aku sudah membuatmu puas."
Sara melepaskan tautan tangan Ken yang memeluknya, "Jangan membahas hal kotor itu, otak ku bisa tercemar."
Ken kembali tersenyum dan mengecup bibir Sara, "Aku masih ingat wajah lucumu semalam, kau sangat menikmatinya." Kata Ken membuat wajah Sara memerah malu.
"Dasar gila, pergilah mandi!" omel Sara kembali melanjutkan aktifitasnya, mengeringkan rambut lalu menggunakan skincare agar wajahnya lembab dan terlihat selalu cantik.
"Hari ini aku mungkin tidak akan pulang." ucap Ken membuat Sara melotot ke arahnya.
"Kau tetap akan mencari gadis lain? Dasar brengsek!"
Ken tertawa, "Apa kau cemburu?"
"Tidak, aku tidak sudi mencemburui pria brengsek sepertimu!"
Ken kembali tertawa, "Baiklah, jika tidak cemburu."
Ken baru saja selesai memakai baju, Ia masih saja ditatap oleh Sara.
"Ada apa? Apa kau ingin lagi?"
Sara berdecih, "Kemana kau akan pergi?"
"Aku harus ke luar kota, gudang penyimpanan barang milik Tuan Wira sedikit ada masalah jadi aku harus mengurusnya."
Sara terlihat lega, "Apa benar hanya itu?"
Ken mengangguk, "Selama kau melayaniku dengan baik, aku tidak akan mungkin berpaling."
Entah mengapa Sara malah tersenyum, padahal seharusnya Ia kesal.
"Jadilah istri yang baik dan aku akan menjadi suami yang baik untukmu." kata Ken lalu mengecup kening Sara membuat jantung Sara berdegup kencang.
"Ayo sarapan." ajak Sara terlihat gugup dan menghindari tatapan mata Ken.
Ken mengangguk, merangkul tubuh Sara dan keduanya turun ke bawah dimana sudah ada Vanes dan Faris di meja makan.
"Tumben sekali, biasanya kalian sarapan lebih dulu." kata Vanes.
Vanes mengangguk, "Aku ingin berterima kasih padamu." kata Vanes lalu menatap ke arah Faris dan tersenyum geli.
"Untuk apa?" heran Sara mengoles selembar roti tawar lalu memberikan pada Ken.
"Karena kau sudah menjaga Mas Faris dari wanita yang mungkin akan menggodanya."
"Ohh, memang kadang kita sebagai wanita harus sedikit tegas agar para pria tidak tergoda dengan wanita lain." ucap Sara lalu melirik ke arah Ken yang hanya tersenyum geli.
"Tapi menurutku jika para istri sudah melayani suaminya dengan baik, mereka tidak akan tergoda dengan wanita lain." balas Ken tak mau kalah.
"Nah aku juga setuju, pria tidak mungkin selingkuh jika dirumahnya sudah ada bidadari." tambah Faris mengundang gelak tawa Vanes dan Sara.
"Dasar gombal, aku benar benar harus menjagamu lebih ketat mulai sekarang!" balas Sara membuat suasana sarapan pagi ini berbeda dari pagi sebelumnya. Tampak ceria dan terlihat seperti keluarga yang bahagia.
Faris mengantar Vanes ke kampus sebelum ke kantor begitu juga dengan Ken yang mengantar Sara ke kantor sebelum Ia berangkat ke gudang yang ada diluar kota.
"Apa kau benar benar tidak akan pulang malam ini?" tanya Sara sebelum Ia keluar dari mobil.
"Ya, rencananya begitu."
"Jika kau tertarik dengan wanita lain, cukup katakan padaku dan aku akan melepaskanmu." ucap Sara tiba tiba.
"Ada apa denganmu? Bukankah kita sudah berjanji akan menjadi pasutri yang baik?" Ken merasa heran dengan ucapan Sara yang menurutnya sangat aneh.
Sara tersenyum, "Aku mengatakan ini karena aku tidak suka dikhianati."
Ken pun ikut tersenyum, "Selama kau bisa menjadi istri yang baik, aku tidak akan mungkin mengkhianatimu."
Deg deg deg... Jantung Sara kembali berdegup kencang mendengar ucapan Ken.
Tanpa mengatakan apapun berniat keluar dari mobil namun tangan Ken menahannya.
"Apa kau tidak ingin mencium tanganku seperti yang biasa dilakukan oleh Non Vanes pada suaminya?"
Sara meraih tangan Ken lalu mencium punggung tangan Ken. Ia segera keluar setelah itu tanpa mengatakan apapun.
"Aku benar benar belum terbiasa dengan ini dan lagi kenapa jantungku harus berdegup seperti ini!" omel Sara sembari berjalan menuju ruangannya.
Hari kedua bekerja dikantor tidak seburuk hari pertama. Faris sudah mulai terbiasa dengan suasana kantor.
Saat jam makan siang, Faris ikut makan siang dikafetaria bersama para karyawannya. Ia melihat Sara duduk sendirian membuat Faris pun mendekat agar bisa makan siang bersama Sara.
"Masih banyak kursi kosong, kenapa duduk disini?" tanya Sara menatap Faris malas.
"Aku kasihan melihatmu duduk sendirian jadi aku menemanimu."
Sara menghela nafas panjang, "Biasanya Ken menemaniku namun tidak untuk hari ini." keluh Sara.
"Kenapa? Memang kemana Ken?" tanya Faris penasaran dan sedikit khawatir takut jika Ken keluar dan mencari kesempatan untui menemui Vanes.
"Ken pergi keluar kota, gudang penyimpanan milik Paman sedikit bermasalah jadi dia kesana."
"Ohh begitu, apa kau merasa sedih?" tanya Faris mencuri pandang Sara dan menebak jika Sara mencintai Ken.
Tentu saja Sara harus mencintai Ken karena Ken adalah suaminya lalu bagaimana dengan Ken? Apa dia juga mencintai Sara? Faris malah bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Untuk apa aku sedih? Aku sama sekali tidak merasa sedih." balas Vanes lalu beranjak dari duduknya pergi meninggalkan Faris yang belum menghabiskan makanannya.
"Dia sangat sensitif." Ucap Faris masih menatap punggung Sara yang mulai menjauh.
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen yaaa...