TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
168


Sara masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu. Meskipun Arga tidak akan menyusulnya ke atas namun saat ini Ia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun.


Sara duduk di pinggir ranjang lalu menghela nafas panjang, Ia tak menyangka jika Arga akan mengatakan hal seperti itu padanya.


Menjadi istri yang baik, Sara tersenyum kecut mengingat Ia pernah melakukan hal seperti itu namun tetap disakiti oleh Ken.


Sara pernah berusaha menjadi istri yang baik, bahkan mungkin terbaik namun nyatanya, Ia masih harus menerima kenyataan atas pengkhianatan Ken.


"Sial, dia membuat mood ku buruk!" omel Sara lalu berbaring diranjangnya.


Arga yang masih duduk di meja makan tampak ikut kesal dengan sikap Sara yang meninggalkannya begitu saja.


Ia ingin menyusul ke atas namun rasanya tak mungkin mengingat Ia hanya tamu dan tidak boleh sembarangan masuk keruangan orang tanpa izin.


"Kemana Sara?" Suara Wira terdengar mendekat dan duduk di samping Arga.


"Ke atas Om... Nggak tahu deh, ngambek kayaknya. Aku ditinggal gitu aja." keluh Arga.


Wira tersenyum lalu menepuk bahu Arga, "Jika kau ingin menaklukan hatinya, kau harus lebih sabar lagi."


Arga mengangguk, "Paham deh Om... Saya denger Sara juga baru saja mengurus perceraian."


Wira mengangguk, "Dia masih terluka, Om nggak yakin kalau dia bakal nerima kamu dengan cepat."


Arga berdecak, "Saya serius Om, nggak main main. Saya bakal berjuang buat bahagiakan Sara."


Wira tertawa, "Ya Om percaya sama kamu, kalau kamu beneran serius sama Sara, kamu pasti bisa bersabar dan menunggunya."


Arga menghela nafas panjang, Ia merasa akan sulit menaklukan Sara namun meski begitu, Arga tak akan menyerah dengan mudah. Ia pasti bisa menaklukan hati Sara entah bagaimana caranya.


"Saya sudah kenyang, saya pulang sekarang ya om?" ucap Arga dengan nada cengegesan.


Wira kembali tertawa, "Ya sudah sana."


Arga beranjak dari duduknya, Ia berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya berbalik lagi, "Om usahakan bagaimana caranya biar saya cepet nikah sama Sara ya?" pinta Arga.


Wira mengangguk, "Om usahakan."


Arga mengacungkan jempolnya, "Om memang yang terbaik."


Wira tertawa, "Sudah sana pulang."


Arga mengangguk dan kembali berjalan keluar dari rumah Wira.


Arga memasuki mobil, tanpa disadari oleh Arga, Sara menatap Arga dari balkon kamarnya.


Sara kembali menghela nafas panjang sebelum akhirnya Ia kembali ke kamarnya.


Baru ingin berbaring, pintu kamar diketuk dari luar. Sara membuka pintunya dan ternyata Wira.


"Sudah mau tidur?" tanya Wira.


"Belum, ada apa Pa?"


"Mau ngomong."


Sara mengangguk, mengikuti langkah kaki Wira hingga keduanya duduk diruang keluarga.


"Mau ngomong apa Pa?"


"Tentang Arga."


Sara berdecak, Ia pikir Wira ingin membicarakan masalah perusahaan tapi ternyata tentang Arga.


"Memang ada apa sama Arga?"


"Ayahnya datang, kamu sudah kenal kan sama Om Herman?"


Sara mengangguk.


"Om Herman atas nama Arga buat ngelamar kamu."


Uhuk... Uhuk... Seketika Sara tersedak mendengar ucapan Wira. Ia tahu jika Arga tertarik padanya namun Sara tak menyangka jika Arga langsung melamarnya seperti ini.


Wira tertawa melihat Sara tersedak, "Apa kau sangat terkejut."


"Pria gila itu, bagaimana bisa dia melamarku padahal kita belum mengenal satu sama lain!" omel Sara.


Wira mengerutkan keningnya heran, "Ku pikir kalian sudah saling mengenal lama."


"Tidak, kami belum mengenal sama sekali. Aku tidak mau menikah secepat itu Pa." keluh Sara.


Wira menghela nafas panjang, "Ya sudah, nanti Papa bilang sama Herman."


"Tapi Papa ingin memberikan sedikit nasihat, Papa tahu kamu sedang terluka saat ini tapi kamu juga membutuhkan seseorang yang bisa membantumu menyembuhkan lukamu itu."


Sara kembali mengangguk, "Sara tahu Pa... Sara tahu tapi nggak secepat ini. Sara baru saja bercerai dan sudah harus menikah, ini gila!"


Wira tersenyum, "Yah namanya juga jodoh, kita nggak tahu Sara." ucap Wira "Tapi kalau memang kamu belum yakin, tidak perlu memaksakan diri, tapi satu hal yang harus kamu tahu, Arga itu anak yang baik. Papa sangat mengenal keluarganya. pertimbangkan setiap keputusan kamu." ucap Wira menepuk bahu Sara lalu beranjak dari duduknya.


"Kembalilah ke kamar dan segera tidur." ucap Wira berjalan meninggalkan Sara.


Sara menghela nafas panjang, masih tak percaya dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Ken pergi dan Arga datang secepat ini.


"Apa yang harus ku lakukan?" gumam Sara tampak frutasi.


Paginya...


Sara, Wira dan Rani sudah berada dimeja makan untuk sarapan bersama.


"Kau tidak bisa tidur?" tanya Wira menatap mata Sara yang terlihat mengantuk.


"Ya Pa... Aku benar benar sangat pusing."


"Ada apa mbak? Apa ada masalah?" tanya Rani penasaran.


"Nggak ada masalah Ran, mbak kamu lagi bingung habis dilamar orang." celetuk Wira membuat mata Rani melotot.


"Wah selamat mbak, langsung diterima aja mbak." kata Rani lalu tertawa.


"Gila, nggak mungkin secepet ini Ran." kata Sara menatap kesal ke arah Wira.


"Siapa tahu dengan nikah lagi bisa cepet move on dari mas Ken."


Sara menggelengkan kepalanya, baik Rani maupun Wira sama saja, sama sama menyebalkan.


"Kenapa Faris sama Vanes belum turun? Apa mereka nggak sarapan?" tanya Sara ingin mengalihkan pembicaraan.


"Mereka pulang kampung." kata Wira.


"Kok tumben pas hari kerja? biasanya mereka pulang kampung pas hari libur." heran Sara.


"Apa mungkin Budhe sakit?" tanya Rani tampak khawatir.


"Enggak, Mereka pulang mau ngasih berita bahagia."


"Berita bahagia apa?" Sara masih penasaran.


"Ada lah, biar mereka ngasih tahu kalian sendiri kalau sudah pulang."


Sara berdecak, "Bikin penasaran aja."


Selesai sarapan Sara dan Rani keluar untuk bersiap berangkat. Rani sudah dijemput oleh Dylan didepan rumah.


"Kalian akan menjadi pasangan yang romantis." puji Sara pada Rani dan Dylan.


"Mbak Sara cepetan dong cari jodoh juga." celetuk Dylan.


"Udah dilamar ya mas, jangan ngejek deh." protes Rani pada Dylan.


"Apaan sih Ran, nggak usah nyebar gosip deh." Sara tak terima.


Sebuah mobil mewah memasuki pelataran rumah Wira membuat ketiganya menatap ke arah mobil itu.


"Siapa dia?" gumam Rani.


Sara menepuk jidatnya saat tahu siapa yang ada didalam mobil itu, "Ngapain sih pagi pagi kesini!"


Arga, pria yang mengendarai mobil tampak keluar dan berjalan ke arah Sara, Rani dan Dylan.


"Wah lagi ngumpul nih." ucap Arga sok kenal.


"Ngapain sih kesini!" omel Sara.


"Jemput calon istri dong."


Rani terkejut, ingat akan sesuatu, "Jadi kamu yang nglamar mbak Sara?"


Arga mengangguk lalu mengulurkan tangannya, "Kenalin, Arga calon suaminya Sara."


Sara menggelengkan kepalanya tak percaya melihat kepercayaan diri Arga.


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komen yaaa