
Vanes melihat raut wajah Faris sangat aneh setelah dari luar kamar. Karena penasaran, Vanes menghampiri Faris yang duduk disofa, masih sibuk dengan pekerjaan kantor.
"Ada masalah apa mas?" tanya Vanes.
Faris menggelengkan kepalanya, "Nggak ada masalah cuma ngerasa aneh saja sama sikap Arga hari ini."
Vanes tersenyum, "Mungkin Arga lagi nggak mood mas."
Faris mengangguk, "Ya mungkin, aku malah ngerasa nggak enak sama Arga, tahu gitu nggak tak ajak bercanda tadi." kata Faris.
Vanes tersenyum, "Nggak usah dipikirin mas, nanti kalau udah baikan juga balik kayak kemarin lagi." kata Vanes yang langsung diangguki oleh Faris.
Faris tersenyum lalu mengelus perut Vanes yang masih rata, "Dek... Mama di ajakin bobok dulu, Papa masih mau kerja." ucap Faris berbicara pada calon anaknya.
"Enggak mau bobok kalau Papa belum selesai kerja." balas Vanes menirukan suara Faris.
Faris gemas lalu menoel pipi Vanes dan menciumnya.
Faris menutup laptopnya lalu mengajak Vanes berbaring diranjang.
"Mas..."
"Apa sayang?"
"Besok sebelum Papa nikah, kita ajak Ibu nginep disini ya?"
Faris mengangguk, "2 hari lagi aku jemput Ibu,"
"Semoga Ibu mau ya mas mendampingi Papa menikah." harap Vanes.
"Pasti mau sayang, jangan khawatir."
Vanes mengangguk lalu memeluk Faris.
"Kata dokter boleh gituan tapi nggak sering." celetuk Faris membuat Vanes tersenyum nakal.
"Mas pengen ya?"
Faris mengangguk lalu tersenyum malu, "Sudah lama puasa."
Tak ingin menjawab ucapan Faris, Vanes langsung mencium bibir Faris seolah memberi kode pada Faris jika Ia juga ingin melakukan itu.
Dengan senyum mengembang, Faris mengikuti permainan Vanes, setelah berpuasa selama berhari hari, malam ini akan menjadi malam yang bergairah untuk Faris.
Sementara itu,
Arga mengurungkan niatnya untuk ke club malam. Ia mendadak ingat dengan pesan Sara, "Jangan main wanita." ucapan Sara dan juga sorot mata khawatir Sara yang membuatnya tidak masuk ke club.
Meskipun niat Arga hanya ingin minum saja namun jika Ia masuk dan digoda wanita dalam keadaan pikiran yang sedang kecewa dan kacau seperti ini, Arga tak ingin melakukan satu kekhilafan yang mungkin akan menghancurkan hubungannya dengan Sara.
"Sudah sampai Tuan." ucap Sopir Herman membuat Arga sadar dari lamunannya.
Arga keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah dimana Herman sudah menunggunya diruang keluarga.
"Jadi ke makamnya Ibu?" tanya Herman yang langsung diangguki oleh Arga.
"Kok lemes? Ada masalah?" tanya Herman seolah tahu apa yang saat ini Arga rasakan.
Arga duduk disamping Ayahnya, "Apa Ayah belum bilang sama Om Wira kalau Arga dan Sara akan menikah minggu depan?"
Herman menggelengkan kepalanya, "Ayah belum ketemu sama Wira, kamu sendiri tahu kan Ayah belum ada waktu kesana."
Arga menghela nafas panjang, "Jadinya kita nikah bulan depan Yah."
Herman tampak terkejut, "Kok bisa mundur? Apa ada masalah?"
"Gara gara Om Wira juga mau nikah minggu depan jadi Sara maunya ngalah biar Om Wira dulu yang nikah." adu Arga dengan wajah kesal.
Herman malah tertawa lalu menepuk bahu Arga, "Nggak apa apa ngalah dulu sama orangtua toh kalian juga bakal nikah nantinya."
Arga berdecak, "Ngalah sih ngalah Yah, tapi ini masalah hati, nggak semudah itu."
Herman ikut menghela nafas panjang, "Ayah ngerti tapi kita juga harus ingat, mantan suami Sara baru saja meninggal juga jadi alangkah baiknya kita juga memberi jeda."
Herman tersenyum, "Intinya kamu lagi kecewa jadi ya Ayah bisa ngerti. Ayah nggak akan ngomong banyak karena percuma kamu juga nggak akan dengar. Yang terpenting sekarang, mau kecewa kayak gimanapun jangan bikin ulah yang akan membuat hubunganmu sama Sara nanti rusak." nasihat dari Herman.
"Iya Yah, Arga ngerti."
"Kalau begitu sekarang istirahat sana, sudah larut lagian kamu pasti capek habis pulang dari luar negeri." pinta Herman.
Arga mengangguk, beranjak dari duduknya dan meninggalkan Herman.
Herman masih duduk ditempatnya, Ia menggelengkan kepalanya melihat punggung Arga. Baru ingin beranjak dari duduknya, ponselnya berdering dan terlihat Wira yang memanggilnya.
Herman segera menjawab panggilan dari Wira, "Apa ada kabar baik?" tanya Herman dengan nada menggoda, "Hingga malam malam begini kau menghubungiku?" tambah Herman.
Wira tertawa renyah, "Aku memiliki kabar yang sangat baik, kapan kita bisa bertemu? Ada banyak hal yang ingin ku bicarakan."
"Apa kau ingin pamer karena sebentar lagi akan menikah?" goda Herman yang lagi lagi membuat Wira kembali tertawa renyah.
"Sekarang tidak lagi karena kau sudah tahu."
"Jadi kapan?" tanya Herman pura pura tak tahu.
"Minggu depan. Beruntung tidak bentrok dengan acara Arga dan Sara." kata Wira.
Herman tersenyum tipis, "Ya kau sangat beruntung kali ini."
"Baiklah akan aku tutup teleponnya, jangan lupa temui aku besok jika kau memiliki waktu senggang." pinta Wira.
"Ya besok aku akan datang kesana."
Herman meletakan ponselnya dimeja setelah Wira mengakhiri panggilan. Herman menghela nafas panjang, "Kau beruntung karena memiliki Sara yang mau mengalah denganmu, jika itu bukan Sara, aku tidak yakin." gumam Herman lalu beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya.
Semalaman ini Arga tidak bisa tidur karena memikirkan tentang rencana pernikahannya yang harus mundur.
"Hanya satu bulan Arga, hanya satu bulan kenapa harus kecewa seperti ini?" gumam Arga mengacak rambutnya frustasi.
Arga beranjak dari ranjangnya, Ia turun kebawah untuk mengambil air minum dan kembali lagi membawa segelas air putih. Arga meneguk hingga hampir habis setelah itu Ia mengambil ponselnya dan terkejut karena Sara mengiriminya banyak pesan.
"Apakah sudah sampai?"
"Kau jadi ke club?"
"Jangan minum terlalu banyak."
"Sudah pulang?
"Sudah tidur?"
Tanpa sadar Arga tersenyum membaca satu persatu pesan Sara. Kali pertamanya Sara mengirim pesan sebanyak ini.
Arga ingin mendial nomor Sara namun Ia urungkan melihat jam sudah menunjukan pukul 11 malam.
"Pasti sudah tidur." gumam Arga kembali mematikan ponselnya.
Arga bersiap untuk tidur, tubuhnya yang lemas dan juga rasa kecewa membuatnya ingin segera tidur melupakan segala yang terjadi hari ini.
Berbeda dengan Sara yang ternyata juga masih belum bisa memejamkan mata.
Sara melihat ponselnya berulang ulang karena Ia menunggu balasan pesan dari Arga.
"Sudah dibaca tapi kenapa tidak dibalas?" gumam Sara merasa kecewa, "Dia benar benar marah."
Sara meletakan ponselnya lalu berbaring diranjangnya. Ia merasa bersalah karena sudah membuat keputusan tanpa berbicara dengan Arga yang berakhir membuat Arga kecewa.
"Jika aku belum menyukai Arga seharusnya aku tidak peduli dengan perasaan Arga tapi kenapa sekarang aku sedih melihat Arga kecewa seperti ini, apa mungkin aku sudah menaruh hati pada Arga?"
"Bagaimana bisa secepat ini." gumam Sara merasa tak yakin dengan hatinya.
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaaa