
Asih terlihat malu mendengar godaan dari Vanes menantunya. Ia hanya tersenyum tipis ke arah Herman lalu berjalan masuk melewati Herman.
"Kalian habis dari mana?" tanya Herman masih penasaran, "Kalau main ajakin Om dong." pinta Herman.
Faris masih tertawa geli, "Nggak main Om... kita pergi kerumah sakit. Si Rani lagi sakit jadi kita jagain Rani dirumah sakit." jelas Faris.
"Kirain kalian pergi main, ya sudah Om mau masuk ngejar Dik Asih dulu." kata Herman pergi masuk lebih dulu meninggalkan Faris dan Vanes.
"Dik Asih..." Vanes menirukan suara Herman yang langsung membuat Faris tertawa geli.
Herman masuk, melihat Asih dan semua orang tengah duduk diruang keluarga. Asih sedang menjelaskan apa yang terjadi pada Rani.
Herman ikut duduk disamping Asih.
"Gila, brengsek bener emaknya Rani." celetuk Arga merasa tak percaya ada seorang Ibu yang tega melakukan itu pada anak kandungnya sendiri.
"Jangan kasar kasar, Ayah nggak pernah ngajarin kamu ngomong kasar!" ucap Herman pada Arga.
Ucapan Herman sontak saja membuat semua orang tertawa.
"Dasar cari muka!" omel Arga.
"Terus sekarang gimana kondisi Rani?" tanya Herman pada Asih.
"Alhamdulilah sudah membaik, hanya perlu bedrest selama seminggu." balas Asih tanpa menatap Herman karena jujur Asih masih merasa sungkan jika harus melakukan kontak mata dengan herman.
"Syukurlah kalau begitu." Herman pura pura terlihat lega.
Wira yang sedari tadi menatap Herman tampak tersenyum geli, tak menyangka jika temannya itu pandai berdrama.
"Apa kalian sudah makan?" tanya Wira.
"Sudah Pa... tadi kami mampir untuk makan malam." balas Vanes yang sudah ikut bergabung duduk disana.
"Sayang sekali, padahal ada yang menunggu kalian agar bisa makan bersama." kata Wira.
Semua orang kecuali Asih langsung menatap ke arah Herman.
"Om belum makan?" tanya Faris.
"Nggak nafsu makan katanya gara gara seharian mikirin kemana dik Asih pergi." celetuk Arga yang langsung mendapatkan lemparan bantal dari Herman.
"Om pikir kalian belum makan malam jadi Om tungguin biar bisa makan malam bersama." jelas Herman.
"Kalau gitu Om makan malam saja biar ditemenin sama Ibu." ucap Faris tiba tiba mengejutkan Asih namun membuat Herman tersenyum lebar.
"Ibu nggak biasa makan steak jadi pasti belum kenyang gara gara nggak ada nasinya. Ya kan Bu?" Faris menatap Asih penuh harap.
Mau tak mau Asih menganggukan kepalanya melihat tatapan memohon Faris meskipun saat ini Ia merasa malu setengah mati.
"Kalau begitu ya sudah ayo Dik Asih kita makan dulu." ajak Herman langsung beranjak dari duduknya tak peduli dengan gelak tawa semua orang.
Asih mengikuti langkah kaki Herman menuju meja makan.
"Arka mana?" tanya Faris.
"Dikamar, seharian ini dia dikamar main game. Keluar cuma buat makan sama minum." Balas Sri.
"Bagus begitu dari pada keluar main tapi salah pergaulan."
Sri mengangguk setuju, "Dari dulu pengen punya playstation ee sekarang baru keturutan jadi main sampai nggak tahu waktu."
Faris beranjak dari duduknya, "Kalo gitu mau nyusul Arka main game." ucap Faris berjalan meninggalkan ruang keluarga.
"Gue ikut." teriak Arga menyusul Faris.
Faris dan Arga langsung masuk ke kamar Arka karena pintunya tidak dikunci.
"Asik amat Ka..." ucap Faris langsung duduk disamping Arka.
"Bingung juga mas liburan mau ngapain jadi ngegame aja." ucap Arka memberikan stiknya untuk Arga dan Faris.
"Nggak keluar? Apa masih belum dapat temen?" tanya Arga.
Arka menggelengkan kepalanya, "Enggak kok mas, emang males aja. kalau minggu depan mau balik kampung."
"Baru berapa hari disini udah mau balik aja Ka." celetuk Faris dengan jari yang sibuk menekan stik agar bisa mengalahkan Arga.
"Iya mas, ada urusan."
"Jangan bilang urusan mau ketemu cewek." celetuk Arga yang langsung membuat Arka tersenyum. Ya rencana Arka pulang kampung karena ingin menemui Kekasihnya.
"Makanya fokus." ejek Faris.
"Bener mau ketemu cewek Lo?" tanya Arga sekali lagi karena tak mendapatkan jawaban dari Arka.
Arka menganggukan kepalanya, "Iya mas."
"Dih masih kecil udah pacaran." ucap Arga.
"Kayak Lo enggak aja Ga!" balas Faris membela Arka.
"Enggak dong, gue anti pacaran paling cuma ngedate doang." Arga tersenyum geli.
"Ngedate tanpa ngajak pacaran itu tipekal cowok brengsek nggak sih Ka?" Faris menatap Arka.
Arka tersenyum,."Dikit mas."
"Napa jadi gue yang dibully sih!" omel Arga beranjak dari duduknya, "Lebih baik gue keluar aja dari pada disini dibully." ucap Arga berjalan keluar meninggalkan kamar Arka.
"Sensitif amat Ga." teriak Faris sambil tertawa namun tak digubris oleh Arga.
Dimeja makan tampak Asih dan Herman tampak menyantap makan malam mereka yang sangat terlambat. Sesekali Herman mengajak berbicara Asih namun hanya dijawab sepatah dua kata oleh Asih.
"Apa kamu merasa tidak nyaman dik?" tanya Herman yang langsung di gelenggi oleh Asih.
"Bukan begitu mas, saya hanya belum terbiasa berada disini."
"Kalau begitu biasakan mulai sekarang karena nanti jika kita sudah menikah, kau akan ikut tinggal bersamaku dikota." kata Herman yang langsung membuat gerakan tangan Asih terhenti.
"Tinggal dikota?" Asih memberanikan diri menatap Herman.
Herman mengangguk, "Benar, ada apa? Kau keberatan?"
Asih langsung mengangguk, "Saya terbiasa tinggal dikampung jadi sepertinya saya tidak bisa tinggal dikota."
Herman tersenyum, "Kalau begitu aku akan membeli rumah dikampung dan kita bisa tinggal disana."
Asih terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, "Kenapa harus saya? Banyak wanita yang lebih muda dan cantik, kenapa harus saya?"
Herman tersenyum, "Karena kamu yang berhasil membuatku jatuh cinta."
Asih kembali terdiam.
"Aku tidak terburu buru dengan jawabanmu, jangan memaksa diri." kata Herman.
"Saya hanya takut jika jawaban saya akan mengecewakan." kata Asih.
"Kalau kau takut mengecewakanku, bukankah seharusnya kau segera menerima lamaranku?"
Uhuk.... Uhuk... Asih tersedak mendengar ucapan Herman.
Dengan cepat Herman mengulurkan minuman untuk Asih.
"Pelan pelan, jangan buru buru."
Setelah minum air pemberian Herman, Asih sudah tidak lagi tersedak. Kembali melajutkan makan malamnya tanpa menatap Herman yang saat ini menatapnya.
"Aku harap akan ada kesempatan untuk ku." ucap Herman lagi.
"Maaf saya masih belum bisa menjawab sekarang."
"Tidak apa apa, tidak perlu memaksakan diri asal nanti jawabannya kau menerimaku."
Seketika bibir Asih menyunggingkan senyum mendengar ucapan Herman.
Asih merasa geli dengan ucapan Herman yang tak ingin memaksanya namun harus menerima lamarannya.
"Bukankah itu sama saja memaksa?" batin Asih.
"Tambah lagi ya Dik makannya?" tawar Herman.
Asih menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu saya sudah kenyang."
Herman berdecak, tak memperdulikan ucapan Asih dan malah menambahkan sedikit nasi dipiring Asih, "Aku masih ingin berbicara denganmu karena hanya disini tempat yang aman untuk kita mengobrol tanpa ada gangguan."
Bersambung.
.