TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
221


Arga mengerutkan keningnya heran saat melihat Ayahnya menatap dirinya dengan tatapan kesal padahal Ia merasa tak melakukan kesalahan apapun.


Asih yang tadinya masih disana pun pamit pergi karena tak ingin menganggu Herman dan Arga.


Herman berdecak, "Gara gara kamu!" omel Herman.


"Lah Arga ngapain? Perasaan Arga nggak salah apa apa." ucap Arga.


"Ngapain kamu disini?"


"Mau pipis Yah," balas Arga lalu masuk ke kamar mandi.


"Punya anak ngeselin amat! Nggak tahu orang lagi mau seneng!" omel Herman lagi.


Herman kembali ke acara resepsi dimana acara resepsi hampir selesai. Kini Ia hanya bisa memandang Asih dari jauh karena tak mungkin Ia mendekati Asih disaat Asih bersama dengan Anak dan menantunya.


Acara selesai pukul 2 siang, semua orang sudah kembali ke kontrakan untuk istirahat berbeda dengan Sri dan Wira yang masih harus menyambut tamu hingga pukul 6 petang, sudah tidak ada tamu yang datang dan mereka baru bisa istirahat.


"Obatnya nggak dibawa mas?" tanya Sri pada suaminya saat keduanya sudah ada dikamar.


"Ada tapi dikontrakan."


"Bentar aku minta Arka buat ambilin." kata Sri lalu keluar dari kamar.


Sri berjalan mencari Arka dan melihat putranya itu tengah berbincang dengan teman temannya.


"Arka... Ibu boleh minta tolong nggak?"


Arka mengangguk lalu menghampiri Ibunya, "Minta tolong apa Bu?"


"Ambilin obatnya Pak Wira di kontrakan tapi kalau kamu nggak mau nggak apa apa, Ibu saja." ucap Sri.


"Iya Arka ambilin." kata Arka langsung berjalan pergi meninggalkan Sri.


Sri tampak tersenyum lega melihat putranya sudah mulai menerima kehadiran Wira mengingat awalnya Arka sangat menolak Wira.


"Bentar gue ambil obat dulu." pamit Arka pada teman temannya.


"Obat buat siapa?"


"Suami emak gue."


"Duh bentar lagi warisan Lo banyak dong." celetuk salah satu teman Arka membuat Arka murka dan langsung menendang kaki temannya.


"Jangan sembarangan ngomong Lo!"


Teman Arka tertawa takut, "Canda, bercanda. Gitu aja marah."


Arka tak lagi mengubris ucapan temannya, Ia segera pergi ke kontrakan untuk mengambil pesanan Ibunya.


"Eh Arka, ada apa?" suara ramah Sara terdengar saat Arka memasuki rumah yang dikontrak keluarga Wira.


Arka tersenyum, entah mengapa Ia merasa senang saat melihat Sara.


"Diminta Ibu buat ngambilin obat mbak." pinta Arka.


"Oh oke, tunggu dulu biar aku ambilin."


Sara berlari ke kamar Wira untuk mengambilkan obat yang dibawa oleh Wira. Tak berapa lama Sara keluar membawa obat Wira.


"Mau langsung pulang?"


Arka mengangguk, "Iya."


Arka baru ingin berbalik dan dikejutkan oleh Arga yang tiba tiba datang dari belakang Sara dan langsung memeluk Sara.


"Buruan ke kamar, udah nggak tahan." celetuk Arga membuat Arka menatap ke arah Arga.


"Ada anak kecil bisa bisanya kamu itu nggak jaga ucapan!" omel Sara memukul lengan Arga.


Tatapan Arka masih terkejut,


"Maafkan suami aku ya Arka, dia emang gini. Agak miring." ucap Sara.


Arka tersenyum kecut lalu mengangguk dan keluar dari rumah kontrakan.


Arka memberikan plastik berisi obat dimana Ibunya sudah menunggu kedatangannya.


"Kok manyun, kenapa?" tanya Sri melihat raut wajah Arka berubah.


"Mbak Sara itu... nggak jadi Bu, nggak apa apa." ucap Arka langsung meninggalkan Sri begitu saja.


Sri menatap punggung Arka, Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arka.


Sri kembali masuk ke kamar, sudah membawa segelas air putih dan obat milik Wira.


"Minum obat dulu mas." pinta Sri pada Wira tengah berbaring diranjangnya.


Wira tersenyum, beranjak dari ranjang dan menerima uluran gelas dan obat dari Sri, "Capek ya mas?" tanya Sri pada suaminya.


"Capek tapi seneng."


Sri tersenyum, setelah obatnya selesai diminum oleh Wira. Sri meletakan gelas dimeja yang ada dikamarnya.


"Kamu nggak mau istirahat disini?" tanya Wira sambil menepuk nepuk ranjang kosong disampingnya.


Deg... Deg... Deg... Jantung Sri serasa berloncatan saat ini. bagaimana tidak? Sudah hampir beberapa tahun Ia tak merasakan ini semua. Merasakan hangatnya tidur bersama seorang pria disampingnya.


Sri berjalan pelan menuju ranjang lalu berbaring disamping Wira.


Wira tersenyum lalu memeluk Sri, "Meski tenagaku sudah tidak sekuat dulu tapi aku masih perkasa dan masih bisa memberikan nafkah batin untukmu." kata Wira.


"Ka kalau Mas lelah, istirahat dulu saja tidak apa apa." kata Sri dengan suara bergetar.


"Kenapa? Apa kau tidak menginginkanku?"


Sri segera menggelengkan kepalanya, takut Wira salah paham padahal bukan itu maksudnya.


Tanpa disadari keduanya menatap satu sama lain. Dalam hati Sri ingin memuji ketampanan Wira, meskipun sudah tua dan berumur tapi Wira masih terlihat tampan apalagi jika dipandang dari jarak dekat seperti ini.


Wira mulai mendekatkan wajahnya, semakin dekat semakin dekat hingga bibirnya kini sudah menempel di bibir Sri.


Wira mulai membuka bibirnya, mengajak bibir Sri beradu. Awalnya masih terasa kaku karena sudah sangat lama keduanya tak melakukan hal seperti itu namun semakin lama ciuman keduanya berubah menjadi ciuman yang panas.


Tak cukup hanya berciuman, tangan Wira mulai nakal mencari bagian sensitif tubuh Sri yang membuat Sri mengeluarkan suara indahnya.


Sri hanya pasrah dan menerima setiap permainan Wira. Memang benar tubuh Wira sudah ringkih namun untuk urusan ranjang, Wira masih sangat perkasa, Sri yang usianya lebih muda dari Wira saja kalah menyeimbangi permainan Wira.


Satu ronde tak cukup, Wira melanjutkan ke ronde berikutnya hingga Sri benar benar kewalahan dan kelelahan barulah Wira mengakhiri permainan mereka .


"Maaf mas karena aku tidak bisa menyeimbangi kekuatan Mas." ucap Sri yang langsung diangguki oleh Wira.


Wira menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Sri, setelah mengobrol beberapa menit, keduanya pun terlelap bersamaan.


Tengah malam dikontrakan...


Asih terbangun pukul 3 dini hari. Memang sudah menjadi kebiasaan Sri bangun di jam 3 untuk melakukan ibadah sholat tahajud.


Sri keluar dari kamar untuk mengambil air wudhu. Sebelum itu, Sri menyempatkan pergi ke dapur untuk mengambil minum dan Ia dikejutkan dengan keberadaan Herman dimeja makan sedang asyik menatap layar laptopnya.


"Baru bangun?" tanya Herman tersenyum seolah senang melihat kehadiran Asih.


Asih mengangguk, "Belum tidur apa sudah bangun?" Asih gantian bertanya.


"Semalam tidur lebih awal jadi tengah malam kebangun dan nggak bisa tidur lagi, ya udah kerja aja dari pada bingung mau ngapain." kata Herman.


Asih tersenyum, Ia meneguk segelas air hangatnya lalu beranjak dari duduknya bersiap untuk pergi.


"Mau balik tidur lagi?" tanya Herman menghentikan langkah kaki Asih.


Asih menggelengkan kepalanya, "Mau ambil wudhu buat sholat tahajud."


Herman tampak terdiam mendengar ucapan Asih. matanya menatap punggung Asih yang kini berangsur menjauh dan menghilang dari pandangannya.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa


Untuk adegan malam pertama memang nggak bisa lebih greget gays soalnya kalau kena tilang harus di edit berulang2 jadi ya cari aman aja hehe