TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
33


Faris hanya diam tak melawan saat Rizal memukuli dirinya berkali kali. Apa yang terjadi saat ini karena memang kesalahannya, Faris mengakui dirinya bersalah sudah berani mendekati iparnya sendiri namun alasan Faris berani pun juga karena Rizal tak menjaga Vanes dengan baik.


Jika saja Rizal tidak selingkuh dan mencintai Vanes mungkin Faris juga tidak akan melakukan hal hina seperti ini.


"Sudah cukup!" lerai Vanes menahan tangan Rizal agar berhenti memukuli Faris.


"Kau membelanya? Apa karena kau mencintainya jadi kau membelanya?" tanya Rizal dengan mata memerah, sangat marah.


"Kau marah?" Vanes malah balik bertanya.


"Tentu saja aku marah, bagaimana aku tidak marah saat melihat istriku pergi dengan adikku sendiri!"


Vanes tersenyum sinis, "Bukankah kita sekarang sama? Bukan hanya kau yang selingkuh aku pun juga selingkuh."


"Mbak..." cegah Faris tak ingin Vanes berbicara banyak tentang mereka.


"Jadi kau mengakuinya?" Rizal menatap Vanes tak percaya,"Berselingkuh dengan pria ini?" bergantian menatap ke arah Faris.


"Maafkan aku mas." ucap Faris yang kini kembali mendapatkan pukulan dari Rizal.


"Bagaimana bisa Ris, bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? selama ini aku kurang baik apa padamu dan keluargamu?" tanya Rizal menatap Faris dengan tatapan kecewa.


"Jika saja Mas Rizal tidak selingkuh mungkin aku juga tidak berani mendekati Mbak Vanes." akui Faris jujur.


Rizal tertawa hambar, "Baiklah jadi disini yang salah aku? Aku yang salah karena sudah selingkuh lebih dulu dan kalian membalasnya?"


"Tidak mas, tidak seperti itu." jelas Faris "Kamu hanya-"


"Untuk apa kau marah?" Vanes memotong ucapan Faris. "Untuk apa kau marah? Bukankah kau seharusnya senang kita sama sama memiliki pasangan dan sebentar lagi kita bisa bercerai." kata Vanes dengan santainya.


Rizal kembali mengepalkan tangannya, Ia tak menyangka gadis lemah seperti Vanes kini berani melawannya seperti ini.


"Memang siapa yang ingin bercerai?" tanya Rizal dengan senyuman licik.


"Aku tidak akan pernah menceraikanmu."


Faris dan Vanes sama sama terkejut dengan ucapan Rizal karena pria itu berubah pikiran disaat Vanes sudah ingin melepaskannya.


Rizal berbalik ingin masuk kerumah namun Vanes menahan tangannya.


"Kau gila? Kau tidak bisa melakukan itu! Aku akan tetap meminta cerai!" kata Vanes kekeh.


Rizal tersenyum, "Lakukan saja jika bisa." Rizal melepaskan tangan Vanes lalu pergi masuk kerumah.


Vanes berbalik menatap Faris cemas melihat seluruh wajah Faris kini babak belur.


"Aku akan merawat lukamu."


"Tidak mbak, aku bisa melakukannya sendiri." tolak Faris.


Vanes menatap Faris dengan tatapan sendu, "Apa kau akan menyerah? Kau akan melepaskanku?"


Faris menunduk, tak tega menatap wajah sedih Vanes.


"Aku pasti akan segera bercerai dengan Mas Rizal, aku yakin pasti bisa-"


"Mbak, aku mau masuk dulu." potong Faris tanpa menunggu Vanes selesai bicara. Faris melewati Vanes begitu saja.


Vanes menatap punggung Faris, rasanya masih tak percaya semua akan berakhir seperti ini dan kembali merasakan sakit hati untuk kedua kalinya.


Vanes tersenyum lalu menepuk bahu Bik Sri, "Tidak seharusnya Bik Sri ikut masuk ke dalam masalah ini. Vanes yang seharusnya minta maaf pada Bik Sri."


Bik Sri menggelengkan kepalanya, "Semua tidak sesuai rencana Non, tiba tiba Tuan pulang dan-"


"Sudahlah Bik, memang seharusnya seperti ini. Sekarang lebih baik Bik Sri bantuin Mas Faris merawat lukanya. Saya mau bantu dia tapi dia menolak." pinta Vanes yang langsung diangguki Bik Sri.


Vanes segera naik ke atas kamarnya untuk istirahat. Ia sudah lelah dengan perjalanan jauh dan sampai rumah harus mendapatkan masalah seperti ini. Rasa lelahnya menjadi berlipat lipat. Sampai dikamar, Ia pergi mandi dengan air hangat lalu setelahnya berbaring diranjang, kembali mengingat kejadian yang baru saja terjadi.


"Bagaimana bisa dia seegois itu." gumam Vanes benar benar tak mengerti apa yang diinginkan oleh Rizal.


Sejak awal pernikahan Rizal sudah selingkuh, tidak menginginkan dirinya padahal waktu itu Vanes sangat mencintai Rizal karena memang Rizal itu cinta pertamanya dan sekarang disaat Vanes mulai lelah, ingin melepaskan Rizal, pria itu malah mempertahankan dirinya.


Sebenarnya apa yang diinginkan dariku? Batin Vanes merasa kalut dengan perasaannya sendiri.


Sementara dibawah, Faris membersihkan lukanya dibantu oleh Bik Sri.


"Jika saja saya tidak mengatakan yang sebenarnya dan langsung menghubungi Aden mungkin semua ini tidak akan terjadi." Kata Bik Sri sambil memberikan obat mereka diluka yang berdarah.


Faris tersenyum, "Saya memang salah Bik jadi sudah sewajarnya jika Mas Rizal marah."


Bik Sri menghela nafas panjang, "Padahal Bibik merasa senang ada yang mencintai Non Vanes dengan tulus. Selama menikah dengan Tuan, Bibik tidak pernah melihat Non Vanes tersenyum lebar seperti yang terjadi saat bersama Aden." ungkap Bik Sri "Selama ini Non Vanes pura pura kuat dan tegar melihat suaminya berselingkuh padahal hatinya sangat hancur."


"Saya mengerti Bik, awalnya saya juga tidak ada niat buat mendekati Mbak Vanes tapi melihat Mas Rizal tidak memperlakukan Mbak Vanes dengan baik membuat saya berani menyatakan perasaan saya dan sekarang malah jadi seperti ini." Faris tersenyum kecut, "Bik Sri pun ikut terlibat bahkan hampir dipecat, saya jadi merasa tidak enak."


Bik Sri tersenyum, "Sekalipun Bibik dipecat juga tidak masalah Den selama Bibik bisa melihat Non Vanes bahagia. Masalah pekerjaan Bibik bisa mencari ditempat lain karena Bibik sudah berpengalaman lama pasti mudah untuk mendapatkan pekerjaan lagi."


Faris tersenyum lega mendengar ucapan Bik Sri.


"Saya hanya berharap Aden jangan menyerah untuk memperjuangkan Non Vanes." pinta Bik Sri, "Cuma Aden yang bisa membuat Non Vanes bahagia."


Faris terdiam sangat lama hingga Ia merasakan tangannya digenggam oleh Bik Sri.


"Bibik mohon Den." pinta Bik Sri.


Faris menghela nafas panjang, "Saya sudah tidak yakin Bik... Saya memang mencintai Mbak Vanes tapi saya sadar apa yang sudah saya lakukan ini salah."


Raut wajah Bik Sri terlihat kecewa.


"Aden ingin menyerah?"


"Saya juga tidak tahu."


Bik Sri mengangguk paham, Ia cukup mengerti dengan perasaan Faris dan tak mungkin memaksa Faris.


"Bibik yakin jika Den Faris jodohnya Non Faris pasti Tuhan akan menyatukan bagaimanapun caranya." kata Bik Sri.


Faris mengangguk setuju, saat ini tidak ada yang bisa Ia lakukan selain berdoa dan meminta yang terbaik untuknya dan Vanes.


Bik Sri beranjak dari duduknya karena sudah selesai membersihkan dan memberikan obat. Faris pun ikut beranjak, Ia ingin mengambil air minum didapur dan segera pergi ke kamar untuk tidur namun malah berpapasan dengan Rizal yang baru saja menuruni tangga.


"Kita harus bicara Ris."


Bersambung......


Komen yukk komen hehe