TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
36


Faris duduk disalah satu kursi yang ada didapur. Ia memandangi Asih yang kembali sibuk memasak.


Setelah memeluk Faris, Asih tak mengatakan atau menanyakan apapun. Asih bahkan hanya melihat luka lebam di wajah Faris sejenak lalu bersikap acuh meskipun ada raut khawatir namun Asih mencoba menahannya.


"Hari ini kebetulan sekali Ibu masak sayur asem sama tempe goreng kesukaan kamu. Setelah Bapak pulang kita bisa makan siang bersama dan kamu harus makan yang banyak." kata Asih.


Faris tersenyum, "Terima kasih Bu."


Satu hal yang membuat Faris sangat mencintai ibunya adalah Asih yang tak pernah langsung menyalahkan apapun yang dilakukan oleh Faris. Ketika Faris mendapatkan masalah atau sedang down, Asih lebih banyak diam dan menenangkan Faris hingga Faris menceritakan segalanya barulah Asih memberikan banyak nasihatnya untuk Faris.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Slamet, Bapak Faris yang baru saja pulang dari ladang, awalnya Slamet terlihat terkejut melihat Faris duduk didapur dengan banyak luka lebam namun sedetik kemudian Slamet mengalihkan pandangannya.


"Pasti pada nungguin Bapak pulang kan?" tebak Slamet dengan tawa yang dipaksa.


"Iya, lihat tuh Faris udah kelaperan. Bapak buruan mandi biar kita bisa makan siang bersama." pinta Asih yang langsung diangguki oleh Slamet.


Kini semua orang sudah berkumpul dimeja makan. Faris, Asih dan Slamet tampak diam menikmati makan siang mereka tanpa ada yang berbicara hingga selesai makan, barulah Faris memulai pembicaraan.


"Awal Faris kerja dikantor Mas Rizal, Faris kaget karena melihat Mas Rizal selingkuh sama asistennya." ungkap Faris.


Baik Asih maupun Slamet masih diam, mendengarkan Faris bercerita.


"Mas Rizal bilang masih belum cinta sama Mbak Vanes karena mereka menikah dijodohkan padahal menurut Faris, Mbak Vanes itu baik sekali orangnya. Faris pikir nggak masalah jika Faris dekat dengan Mbak Vanes karena Mas Rizal udah rencana buat ceraikan Mbak Vanes tapi ternyata... Mas Rizal berubah pikiran dan mengurungkan niatnya untuk bercerai. Mas Rizal janji akan berubah dan memutuskan hubungan dengan selingkuhannya."


Asih dan Slamet sama sama tersenyum, "Syukur Alhamdulilah jika Rizal mau berubah." kata Slamet.


Asih menatap wajah kecewa Faris, "Segala sesuatu yang ditakdirkan untuk Faris pasti akan kembali pada Faris. mungkin Neng Vanes bukan untuk Faris jadi kalian dipisahkan seperti ini." nasihat Asih.


"Benar kata Ibu Ris, seharusnya kamu bersyukur karena selamat dari cinta yang mungkin akan menyesatkanmu." tambah Slamet.


Faris menghela nafas panjang, apa yang dikatakan orangtuanya memang benar. Mungkin Ia harus memberikan Mas Rizal kesempatan untuk memperbaiki pernikahannya dan Ia juga harus melupakan Vanes setelah ini.


Vanes bukan untuknya, Ia sudah menjadi milik kakak sepupunya.


"Lagipula apa kata Budhe Tantri dan saudara saudara kita lainnya jika mereka sampai tahu hubunganmu dan Neng Vanes." nasihat Asih lagi.


"Iya bu, Faris paham. Maafkan Faris."


Slamet dan Asih mengangguk, keduanya tersenyum lega melihat putranya sudah menyadari kesalahannya dan mau melepaskan Vanes.


...****************...


Rizal bersiap untuk pulang. Mulai malam ini, Ia sudah berencana untuk pulang tepat waktu agar bisa makan malam bersama Vanes. Faris benar benar ingin memperbaiki hubungannya dengan Vanes.


"Kau tidak mengantarku pulang?" tanya Mira dengan wajah pucatnya.


Rizal sedikit kesal dengan Mira yang sangat manja dan susah dinasehati. Sejak siang tadi, Rizal sudah meminta Mira untuk pergi ke klinik atau rumah sakit namun Mira keras kepala dan memilih berada dikantor menemaninya.


"Aku harus buru buru pulang." balas Faris santai.


"Lalu bagaimana denganku? Kau tidak ada niat membawaku ke rumah sakit untuk periksa?"


Rizal menghela nafas panjang, "Bukankah aku tadi sudah menyuruhmu kerumah sakit?"


"Aku ingin kau yang mengantarku!"


"Aku tidak bisa, aku harus segera pulang." kata Rizal dengan ketus lalu melewati Mira begitu saja.


Mira tak menyerah, Ia menahan lengan Faris,"Tidak, kau harus mengantarku!"


"Aku tidak mau!" Rizal menyentak tangan Mira hingga terlepas lalu Ia berjalan pergi meninggalkan Mira.


"Aku lelah, aku hanya ingin pulang dan segera istirahat."


Mira tersenyum sinis, "Itu hanya alasanmu, aku yakin kau sudah mulai mencintai istrimu dan akan mencampakanku!" tebak Mira.


Rasanya Rizal ingin mengatakan Iya namun tidak sekarang, bukan sekarang saatnya Rizal mengakui perasaannya pada Mira. Rizal tak mau gegabah, Mira mengetahui banyak rahasia Rizal, Jika Ia menyakiti Mira, Rizal takut Mira akan mengadukan pada Ayah mertuanya dan membuat karirnya hancur.


Rizal harus menjebak Mira dan membuat posisi Mira yang bersalah. Ya harusnya seperti itu.


"Aku tidak akan melakukan hal sekejam itu sayang, percayalah padaku. Aku hanya lelah dan butuh istirahat." kata Rizal dengan suara lembut.


"Jika seperti itu menginaplah di apartemenku. Kita bisa istirahat disana berdua seperti biasa."


Rizal tersenyum nakal, "Ayolah sayang jika kita berdua, aku yakin kita tak akan bisa istirahat."


Mendengar Rizal berbicara lembut padanya membuat Mira luluh dan akhirnya tak lagi curiga. "Baiklah kalau begitu, antar aku pulang saja."


Rizal tersenyum lebar, tak menyangka jika semudah ini merayu Mira.


"Dasar gadis bodoh!" batin Rizal lalu merangkul Mira dan mengajaknya keluar dari kantor.


"Kau tidak mengantarku masuk?" tanya Mira saat mobil Rizal berhenti didepan apartemennya.


"Tidak sayang, rasanya lelah sekali dan benar benar harus segera pulang."


Mira memanyunkan bibirnya, "Baiklah, aku harap kau tidak bermain api dengan istrimu!"


Rizal tersenyum, "Jangan khawatir sayang, aku hanya mencintaimu. tidak mungkin aku bermain api dibelakangmu."


Mira mengangguk dan segera keluar dari mobil Rizal. Dengan tubuh ringkih, Mira berjalan pelan hingga sampai ke apartemennnya.


Mira menekan tombol sandi apartemen dan pintu terbuka.


Mira terkejut melihat Nathan sudah didalam apartemennya. Pria itu duduk disofa dan langsung tersenyum ke arahnya.


"Kau gila? Bagaimana jika Rizal ikut masuk kesini." omel Mira.


Nathan tersenyum, "Aku yakin itu tidak akan terjadi karena Rizal pasti ingin segera pulang dan bertemu dengan istrinya."


"Omong kosong!" sentak Mira tak terima.


"Kau seharusnya bisa merasakan jika dia banyak berubah akhir akhir ini."


Mira akhirnya diam, memikirkan ucapan Nathan yang memang benar.


"Sudahlah, jangan pikirkan apapun lagi. Lebih baik sekarang duduklah dan makan seblak yang ku bawakan. Ku dengar kau sakit jadi aku membelikan makanan favoritmu."


Mira tersenyum lebar, bagaimana bisa Nathan tahu makanan favoritnya dan lagi bagaimana bisa Nathan tahu jika dirinya sakit?


Sudahlah, Mira tak ingin banyak berfikir lagi. Mira mengambil peralatan makan dan ingin segera makan seblaknya.


Satu suapan seblak bisa masuk ke dalam mulutnya namun disuapan kedua Mira merasakan perutnya mual tiba tiba dan rasanya ingin muntah.


Mira akhirnya berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


"Ada apa?" Nathan terlihat cemas menatap Mira.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komennn