TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
227


Selama mendiang istrinya meninggal, Herman beberapa kali dekat dengan wanita. Hal itu juga yang membuat Arga kesal, merasa Herman sudah menduakan Ibu Arga hingga Arga menjadi anak bandel yang susah diatur.


Satu hari Herman memutuskan hubungan dengan mantan kekasihnya, Ia berharap Arga bisa menjadi putra terbaiknya lagi meskipun membutuhkan usaha namun akhirnya kini Arga sudah menjadi putra terbaiknya lagi.


Setelah menikah dengan Sara, pemikiran Arga pun juga berubah, Ia bahkan sudah memberi lampu hijau untuk hubungannya dan Asih, hal ini yang membuat Herman kekeh ingin mendekati Asih.


Herman sendiri juga bingung bagaimana bisa hatinya tertaut pada Asih wanita yang seumuran dengannya padahal banyak gadis cantik yang masih muda mau menikah dengannya namun Ia merasa Asih berbeda.


Hanya menatap Asih membuat hatinya merasa nyaman apalagi Asih sangat santun dan lemah lembut.


"Bagaimana dengan Arga?" tanya Wira.


"Dia sudah memberi lampu hijau."


Wira tersenyum, "Bagus, sekarang mungkin kau harus berbicara dulu dengan Faris." pinta Wira.


"Aku sedikit ragu." ungkap Herman.


"Apa yang membuatmu ragu?"


"Entahlah."


Wira menghela nafas panjang, "Aku pikir Faris tidak akan ikut campur masalah perasaan orangtuanya."


Herman menatap Wira penuh harap, "Mungkinkah?"


"Coba saja temui Faris dan berbicara 4 mata dengannya, tidak ada salahnya mencoba berbicara." kata Wira yang langsung diangguki oleh Herman.


"Jika Faris juga memberi lampu hijau, kendalamu hanya pada Asih."


Herman berdecak, "Itu mudah, bukankah kau tahu sendiri banyak wanita yang menginginkanku?"


Wira tersenyum tipis, "Jangan terlalu percaya diri. Asih jelas berbeda dengan wanita lain."


Herman terdiam, memikirkan ucapan Wira yang memang benar jika Asih berbeda dengan wanita lain.


Jika wanita lain mungkin akan lebih dulu mendekatinya namun dengan Asih, Herman memberi kode kode kecil saja Asih sama sekali tak paham.


"Kau harus lebih bersabar jika ingin bersama Asih karena Asih masih tertaut dengan mantan suaminya. Dia masih belum bisa move on." jelas Wira.


Herman menghela nafas panjang, "Jadi bagaimana? Apa aku harus menyerah saja?"


Wira berdecak, "Kau bahkan belum memulai bagaimana bisa mau menyerah, seperti bukan kau saja."


"Urusan bisnis mungkin aku tak akan menyerah tapi jika sudah menyangkut masalah hati, aku sedikit takut." ungkap Herman.


"Pikirkan lagi saja, jika kau sudah yakin ingin mengejar Asih, aku pasti akan membantumu." kata Wira yang akhirnya diangguki oleh Herman.


Sementara didalam rumah, Asih dan Sri juga sedang mengobrol di kamar Asih. Sejak pertemuan mereka dipernikahan Faris dan Vanes, keduanya memang menjadi dekat apalagi sekarang status Sri sudah menjadi besan Asih tentu hubungan keduanya semakin erat.


"Rasanya masih tak percaya, aku menikah dengan Tuan ku sendiri." ungkap Sri pada Asih.


"Bagaimana rasanya?" goda Asih.


"Bahagia apalagi Mas Wira sangat baik padaku dan Arka." ungkap Sri, "Dulu aku sama sekali tidak berpikir untuk menikah lagi."


Asih tersenyum, "Kita tidak tahu takdir akan seperti apa, mungkin kita bisa berencana tapi Allah yang mengatur segalanya. Rasa sakit dan juga kesepianmu akhirnya kini sudah terbayar dengan memiliki suami yang sangat baik." kata Asih.


Sri ikut tersenyum, "Mbak benar," ucap Sri lalu mengenggam tangan Asih, "Lalu bagaimana dengan Mbak Asih? Apa sudah memikirkan untuk menikah lagi?"


Asih menggelengkan kepalanya, "Aku bahkan sudah tua, mana mungkin memikirkan hal seperti itu lagipula Faris juga sudah berkeluarga."


"Tapi jika ada yang menemani masa tua mbak bukankah seharusnya lebih bahagia?"


Asih menggelengkan kepalanya, "Aku tidak yakin dan aku juga sama sekali belum memikirkan itu."


Sri menghela nafas panjang, "Apa mungkin Mbak masih belum move on dari Mendiang suami?"


Asih tertawa kecil, "Aku bahkan tidak berniat melupakannya. Mas Slamet pria yang baik mana mungkin aku akan melupakannya."


Sri terdiam, "Sepertinya akan sulit untuk Mas Herman." batin Sri.


Setelah berbincang cukup lama, Sri keluar dari kamar Asih dan membiarkan Asih istirahat.


"Asih sudah tidur?" tanya Herman pada Sri.


Sri mengangguk,


"Kalau begitu aku akan pulang sekarang." pamit Herman yang langsung diangguki oleh Wira dan Sri.


"Apa kau tahu apa yang di rasakan Herman?" tanya Wira pada Sri.


"Apa Mas Herman menyukai Mbak Asih?" tebak Sri.


Wira tertawa kecil, "Bagaimana kau bisa tahu?"


"Terlihat jelas." balas Sri, "Tapi sepertinya akan sedikit sulit." tambah Sri.


"Sesulit aku mendapatkan dirimu?"


Sri menggelengkan kepalanya, "Kali ini lebih sulit mas."


Wira tersenyum, "Biarkan Herman memperjuangkan cintanya."


Sri mengangguk setuju, "Mas ke kamar dulu. Aku akan ambilkan air putih untuk minum obat." pinta Sri yang langsung diangguki Wira.


Sri segera ke dapur dimana ada Bik Tri yang sedang mencuci piring disana.


"Wah wah lihatlah siapa yang datang. Nyonya baru." cibir Bik Tri.


Sri menghela nafas panjang, "Jangan seperti itu, aku masih temanmu."


"Siapa juga yang mau berteman denganmu, aku tidak akan takut apalagi tunduk meskipun kau ini istrinya Tuan Wira!"


Sri tersenyum tipis, "Baiklah jika seperti itu." ucap Sri lalu pergi meninggalkan Bik Tri.


"Dasar licik, aku tahu pasti kau mau pamer!" omel Bik Tri sambil menghentak hentakan kakinya.


Sri masuk ke kamar membawa segelas air putih. Ia segera menyiapkan obat Wira.


"Terima kasih sayang." ucap Wira dengan suara lembut membuat Sri tersenyum malu.


Selesai minum obat, keduanya berbaring diranjang.


"Anak anak mengeluh dengan masakan Bik Tri yang tidak enak, apa kau punya rekomendasi orang didapur?" tanya Wira.


Sri tersenyum, "Bik Tri berasal dari bagian laundry jadi memang berbeda jika dibagian dapur dan karena aku sudah kembali jadi mulai besok biarkan aku yang memasak mas." pinta Sri.


Wira menggelengkan kepalanya tak setuju, "Tidak, bagaimana bisa seperti itu. Kau ini istriku tugasmu hanya melayaniku. Jangan kembali bekerja didapur." kata Wira dengan tegas.


Sri menghela nafas panjang, "Hanya memasak tidak akan membuat aku kelelahan mas. Biarkan saja aku yang mengurus dapur lagipula anak anak juga sudah terbiasa makan masakanku."


"Tetap saja tidak boleh, sudahlah biar aku besok meminta Mang Ujang mencarikan asisten rumah tangga yang baru." kata Wira.


"Tapi mas..." Sri ingin kembali protes namun Ia urungkan niatnya.


"Tidak ada tapi tapi... Memang sudah seharusnya seperti itu." kata Wira.


"Baiklah mas." Sri akhirnya menurut.


Wira tersenyum, "Apa kau lelah?"


Sri menggelengkan kepalanya.


"Jika tidak..." Wira mulai menatap Sri dengan nakal.


"Mas tidak lelah?" tanya Sri langsung tahu apa yang di inginkan oleh Wira.


"Untuk urusan ranjang aku tidak akan pernah lelah." ucap Wira tersenyum nakal dan memulai permainan panasnya.


Bersambung...


Jan lupa like vote dan komen yaaa