TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
110


Faris dan Vanes terkejut saat Dokter mengatakan jika Wira diperbolehkan untuk pulang padahal Wira saja masih di ICU dan belum juga sadar.


Dan saat Ken datang barulah Vanes serta Faris tak lagi bingung alasan Wira diperbolehkan pulang saat ini.


"Saya hanya ingin menjaga keselamatan Tuan Wira Nona." kata Ken setelah menjelaskan panjang lebar pada Vanes dan Faris.


"Apa musuh Papa banyak hingga harus melakukan ini semua?" tanya Vanes dengan raut wajah sedih.


"Kemungkinan begitu Nona, saya hanya ingin berjaga jaga saja karena saya tak ingin terjadi sesuatu pada Tuan Wira, saya juga sudah mengonfirmasi Dokter kepercayaan Tuan dan Dia bersedia merawat Tuan dirumah."


Vanes akhirnya mengangguk, "Baiklah jika memang itu keputusan terbaik untuk Papa. Lakukan saja." pinta Vanes yang langsung diangguki oleh Ken.


Dengan mobil ambulance, Wira dibawa pulang kerumahnya dimana disana sudah disiapkan ruangan yang sama persis seperti ruang ICU dirumah sakit.


"Mungkin kita bisa membatasi orang yang keluar masuk Nona." kata Ken yang kembali disetujui oleh Vanes.


"Saya juga sudah memasang kamera cctv diruangan ini Nona,"


"Apa kau juga tidak percaya dengan orang orang disini Ken?" tanya Vanes merasa heran.


Ken mengangguk, "Saya hanya berjaga jaga Nona."


"Kita menurut saja, semua yang Ken lakukan pasti itu yang terbaik untuk Papa." tambah Faris yang sedari tadi hanya menjadi pendengar diantara Ken dan Vanes.


"Baiklah baik, aku tidak akan protes lagi." ucap Vanes membuat Faris tersenyum geli.


Ken tampak tak nyaman berada diantara Vanes dan Faris apalagi Ken melihat Faris sering menyentuh Vanes, ada perasaan tak terima namun Ken tidak bisa melakukan apapun.


"Lalu apa Nona akan berencana tinggal disini lagi?" tanya Ken.


Vanes menggelengkan kepalanya, "Mas Faris tidak mau jadi mungkin aku tidak akan tinggal disini dan ikut pulang Mas Faris ke kampung, lagipula aku juga masih harus melanjutkan sekolahku."


Ken langsung mengepalkan tangannya, Ia merasa kesal dengan Faris yang menurutnya sangat egois.


"Tapi tenang saja, aku akan sering pulang kesini." tambah Vanes lagi.


"Baiklah Nona, saya mengerti. Kalau begitu saya akan keluar sekarang." pamit Ken berbalik dan pergi dari ruangan Wira.


"Ken..." suara Vanes terdengar membuat Ken menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap Vanes.


"Terimakasih banyak." ucap Vanes yang langsung diangguki oleh Ken.


Kini Ken benar benar keluar dari ruangan Wira, Ia berjalan menuju mobilnya karena Ia akan ke kantor saja dari pada kesal melihat Vanes dan Faris.


Sesampainya dimobil, Ken menghela nafas panjang, "Bagaimana bisa dia tidak memperdulikan Papanya hanya karena pria itu, benar benar tak bisa dibiarkan." gumam Ken mulai melajukan mobilnya.


Sampai dikantor ternyata Ken sudah ditunggu oleh Sara yang sudah siap untuk pulang.


"Kenapa lama sekali!" protes Sara membuat Ken keheranan karena ini masih pukul 4 sore, biasanya Sara pulang pukul 6 petang.


"Nona pulang sekarang? Ini masih pukul 4 sore." kata Ken.


"Memang kenapa? Apa aku tidak boleh pulang lebih awal?" sentak Sara.


"Bukan begitu hanya merasa aneh saja." ucap Ken kembali melajukan mobilnya.


"Apa Mbak Vanes dan suaminya masih disini?"


Ken mengangguk, "Masih Non."


Sampai dirumah, tanpa mengatakan apapun lagi, Sara langsung masuk ke dalam istana Wira. Sara melihat Vanes dan Faris sedang duduk diruang keluarga, mereka tampak menikmati acara televisi.


Sara langsung duduk dikursi yang ada disana, "Bagaimana apa kau setuju tinggal disini?" tanya Sara.


"Kau baru pulang, aku pikir kau akan seperti Papa yang workholic sampai tak ingat rumah." canda Vanes seolah enggan menjawab pertanyaan Sara.


Sara berdecak, "Jangan mengalihkan pertanyaan, sekarang jawablah apa yang kutanyakan."


Vanes menghela nafas panjang, menatap ke arah Faris seolah meminta persetujuan namun pria itu malah tersenyum dan mengelus kepala Vanes membuat Sara sedikit cemburu.


"Mungkin tidak, aku harus tetap melajutkan pendidikan disana."


"Kau gila?" sentak Sara langsung berdiri menatap Vanes sengit, "Papamu sedang koma dan kau lebih memilih pendidikan mu itu? Aku benar benar tidak mengerti lagi dengan jalan pikiranmu!"


"Maafkan aku Sara, aku sudah bersuami dan aku memiliki kewajiban lain yang harus ku taati."


"Persetan dengan kewajibanmu itu, kau akan menjadi anak durhaka!" ucap Sara lalu pergi meninggalkan Faris dan Vanes.


Vanes ingin mengejar Sara namun ditahan oleh Faris, "Sudah biarkan saja dia pergi, dia masih emosi jadi percuma karena dia tidak akan mendengarkanmu." nasihat Faris.


Vanes akhirnya kembali duduk, rasanya Ia ingin menangis saat ini juga. Vanes berada ditengah kebingungan, disatu sisi Ia ingin merawat Papanya tapi di sisi lain Ia memiliki kewajiban sebagai seorang istri yang harus Ia penuhi.


"Apa kau bisa sekali saja menurunkan egomu mas?" tanya Vanes tiba tiba.


"Sayang dengarkan aku, aku sama sekali tidak melarangmu untuk tinggal disini, aku-"


"Tidak bisakah kau bekerja diperusahaan Papa?" potong Vanes yang langsung membuat Faris menghela nafas panjang, "Jika keadaan Papa sehat aku juga tidak akan memintamu seperti ini. Aku hanya ingin menemani Papa disaat Papa sakit mas, apa kau tidak mengerti?" tanya Vanes yang akhirnya tak tahan untuk tidak menangis.


"Tapi aku benar benar tidak bisa sayang." ucap Faris ingin mengenggam tangan Vanes namun tidak bisa karena Vanes memilih naik ke atas kamarnya.


Lagi lagi Faris hanya bisa menghela nafas panjang.


Saat makan malam, hanya Faris yang berada dimeja makan sendiri. Vanes masih marah dan tak mau berbicara dengannya sementara Sara, entahlah Faris juga tak ingin tahu tentang gadis itu.


"Non Vanes nggak mau makan Den?" tanya Bik Sri saat Faris sudah selesai makan malam.


"Lagi marah Bik tapi ini mau aku bawain makanan ke atas, kali aja mau."


"Ya sudah kalau gitu bibik siapkan makanannya." kata Bik Sri langsung menyiapkan makan malam untuk Vanes.


Faris naik ke atas dengan membawa nampan berisi makanan. Faris sempat berpapasan dengan Sara. Gadis itu mengenakan baju seksi dan entah akan kemana Faris juga tak mau tahu.


Sara tersenyum sinis pada Faris, memperlihatkan ketidaksukaannya namun Faris sama sekali tak peduli. Faris terus berjalan hingga akhirnya Ia sampai dikamar dimana ada Vanes berbaring sambil memainkan ponselnya.


"Aku bawakan makanan, mau ku suapi atau makan sendiri?" tawar Faris.


Vanes hanya diam saja, Ia masih asyik dengan ponselnya dan tak merespon Faris.


"Baiklah aku akan menyuapimu." kata Faris duduk disamping Vanes lalu mulai menyendokan makanan dan mendekatkan ke mulut Vanes namun Vanes tidak membuka mulutnya.


"Pak ustad bilang kalau istri menolak makanan dari suami juga termasuk dosa besar, bisa bisa dianggap durhaka sama suami."


Seketika mulut Vanes terbuka lebar dan menerima suapan dari Faris membuat Faris tersenyum lega karena usahanya membuat Vanes makan akhirnya berhasil.


Bersambung...