TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
150


Alea menangis saat Ken menghentikan mobilnya di hutan karet. Ia takut jika Ken akan membunuhnya disini.


Ken keluar lebih dulu sebelum akhirnya Ia ikut menyeret Alea keluar dari mobilnya.


"Tuan... Saya mohon Tuan. Jangan bunuh saya." pinta Alea memohon dan kembali berlutut pada Ken.


"Seharusnya jika kau takut mati jangan mencari masalah denganku!" sentak Ken.


Alea menggelengkan kepalanya, Ia menyukai Ken dan tidak bisa menahan diri hingga ingin memiliki Ken namun siapa sangka Ken bahkan tidak menginginkan Alea sama sekali.


"Saya mohon Tuan... Saya mohon." pinta Alea masih terisak menangis.


Ken tersenyum sinis, "Bukankah tadi kau memohon ingin ikut bersamaku? Kenapa sekarang kau masih menangis dan memohon?"


"Saya tidak mau mati Tuan, saya hanya ingin bersama Tuan."


Ken tertawa dan tawanya terdengar menyeramkan, "Dalam mimpi mu Alea, apa kau pikir aku menyukaimu? Tidak Alea, aku hanya membutuhkanmu. Jangan terlalu percaya diri." ucap Ken membuat Alea menghentikan tangisnya.


"Saya mau Tuan, saya mau menggugurkan kandungan ini jika nanti Saya hamil asal jangan membunuh Saya Tuan. Saya mohon."


Ken tampak berpikir sebelum akhirnya Ia kembali meminta Alea masuk ke dalam mobilnya.


Kini Alea bisa bernafas lega karena Ken tidak membunuhnya. Alea juga sudah pasrah tentang apa yang akan terjadi pada hidupnya setelah ini.


Ken kembali melajukan mobilnya, Ia memasuki kawasan perumahan lalu menghentikan mobilnya disalah satu rumah yang ada disana.


Ken memberikan Alea kunci, "Tinggal lah disana sementara waktu."


"Lalu Tuan?"


"Tentu saja aku tidak akan tinggal bersamamu!"


Alea terlihat sedih, "Apa Tuan akan mengunjungi Saya?"


"Entahlah, mungkin aku akan datang jika menginginkan tubuhmu."


Alea kembali merasa sedih.


"Keluar sekarang!" sentak Ken yang akhirnya dituruti oleh Alea.


Setelah Alea keluar dari mobil, Ken segera melajukan mobilnya meninggalkan Alea.


"Setidaknya Tuan tidak membunuhku." gumam Alea.


Sementara itu, Faris baru saja pulang dari kantor. Setelah mandi, Ia turun ke bawah untuk makan malam bersama.


Wira, Rani, Vanes dan Sara sudah berada dimeja makan menunggunya.


Faris duduk dan langsung menatap ke arah Sara yang terlihat sedih. Ia sudah mengetahui masalah Sara karena Vanes menghubunginya dan juga Ia tahu jika Alea di usir oleh Vanes.


"Jika Sara kembali bekerja dikantor, bagaimana menurut Papa?" tanya Faris menatap Wira.


"Tidak masalah jika Sara mau." balas Wira.


Faris menatap ke arah Sara, "Semua karyaman merindukan omelanmu. Bagaimana jika kau kembali bekerja?"


Sara malah tertawa, "Apa kau mencoba menghiburku?"


Faris mengangguk, "Jika hanya dirumah pasti membuatmu bosan dan mengingat sesuatu yang menyedihkan jadi aku pikir kembali ke kantor bisa menjadi solusi agar kau tidak sedih lagi." ucap Faris.


"Entahlah, aku akan memikirkan lagi."


Faris mengangguk, "Lalu bagaimana dengan kantor Ken Pa?" tanya Faris mengingat Ken mengurus salah satu kantor Wira.


"Ken sudah mengatakan padaku jika dia akan mengurusnya." kata Wira yang langsung diangguki oleh Faris.


Selesai makan malam, Faris mengajak Vanes pergi ke kamar mereka.


"Aku sangat merindukanmu." gumam Faris memeluk Vanes yang tengah memainkan ponselnya.


Vanes berdecak, "Kita bahkan bertemu setiap hari bagaimana bisa kau merindukanku, dasar perayu!"


Faris terkekeh, "Rasanya setiap waktu aku ingin selalu bersamamu."


Vanes menggelengkan kepalanya tak percaya dengan ucapan Faris yang terdengar gombalan namun membuat hatinya sangat senang.


"Besok weekend, apa kau ingin pergi jalan jalan sayang?"


Vanes tampak berpikir dengan tawaran Faris, "Sebenarnya aku ingin tapi mengingat Sara sedang sedih sepertinya kita tidak bisa pergi bersenang senang." jelas Sara membuat Faris mengangguk setuju dengan ucapan Sara.


Vanes langsung saja tersenyum, "Sepertinya bukan ide yang buruk, aku akan menanyakan pada Sara apa dia mau pergi bersama kita." ucap Vanes beranjak dari duduknya hendak keluar kamar namun lengannya ditahan oleh Faris, "Jangan kesana sekarang." ucap Faris.


"Kenapa Mas?"


Faris menatap Vanes nakal lalu membisikan sesuatu ditelinga Vanes, "Aku menginginkan mu sekarang.''


Vanes tersenyum lalu bersiap melayani hasrat suaminya.


Sementara dikamar sebelah, Sara masih berdiri didepan ranjangnya, menatap sedih ke arah ranjang yang biasanya Ia tiduri bersama Ken.


Malam ini pertama kalinya Sara berada dikamar sendiri tanpa Ken dan Sara harus mulai membiasakan ini sedari sekarang jika Ia sudah kehilangan Ken.


"Kenapa harus seperti ini, kenapa kau jahat padaku?" gumam Sara sambil menahan tangisnya.


Sara berbaring diranjang, Ia memukul mukul bantalnya. dadanya kembali merasa sesak saat sendiri di kamar, Ia hanya bisa kuat saat semua orang berada disampingnya.


"Ini menyakitkan sangat menyakitkan."


...****************...


Pagi ini Rani bersiap untuk pergi bersama Dylan. Sebelum pergi Ia berpamitan dengan semua orang yang ada dirumah.


"Kau pergi dengan siapa? Apa kau sudah memiliki teman disini?" tanya Faris terdengar cerewet.


"Sudah mas, namanya Dylan."


"Dylan? dia seorang pria?"


Rani mengangguk, "Teman kantor."


"Bawa dia untuk menemuiku, aku hanya ingin memastikan jika pria itu tidak macam macam denganmu."


"Astaga mas..." Rani tertawa namun Ia mengiyakan permintaan Faris.


Saat Dylan datang, Ia membawa Dylan masuk kerumah untuk berkenalan dengan Faris.


"Apa aku akan bertemu bos besar? aku sangat gugup." ucap Dylan sebelum memasuki rumah megah Wira.


"Tidak Mas, kau akan bertemu dengan Kakak ku lagipula di jam pagi biasanya Tuan Wira sedang duduk ditaman."


Dylan menghela nafas lega karena tak harus menemui Wira.


Rani menggandeng lengan Dylan, membawanya masuk keruang tamu dimana sudah ada Faris dan Vanes duduk disana.


"Jadi kau kekasihnya Rani?" tebak Vanes saat Dylan mengajaknya menjabat tangan.


"Kemana kau akan membawa adik ku pergi?" tanya Faris terdengar posesif.


"Saya hanya ingin mengajak Rani..." Dylan tampak ragu mengatakan pada Faris.


"Rani, kau pergilah ke belakang. Aku ingin mengatakan sesuatu pada Dylan."


Awalnya Rani sempat ingin protes namun segera Ia urungkan dan menuruti Faris untuk membiarkan mereka berbicara.


"Katakan kemana kau akan membawa adik ku?" tanya Faris sekali setelah tidak ada Rani.


Mau tak mau Dylan menjelaskan niatnya dengan Rani pada Faris hingga Faris merasa percaya dan membiarkan Dylan membawa Rani pergi.


"Apa yang dikatakan mas Faris padamu?" tanya Rani saat sudah membonceng motor Dylan.


"Tidak ada, kami hanya mengobrol sedikit."


"Aneh, kenapa Mas Faris mengusirku jika tidak ada yang kalian bicarakan." gerutu Rani.


Dylan hanya tersenyum, terus melajukan motornya hingga keduanya sampai dirumah sederhana yang memiliki banyak tanaman bunga di depan rumah.


"Rumah siapa ini?"


"Rumah ku, disini aku tinggal bersama keluargaku." ucap Dylan membuat Rani terkejut.


"Kau mengajak ku kerumahmu? kenapa tidak bilang sebelumnya?" Rani terlihat masih belum siap menemui orangtua Dylan.


Dylan mengenggam tangan Rani, "Aku ingin menjalin hubungan serius denganmu, mau kah kamu lebih serius denganku?"


Bersambung....