
Faris dan Vanes berada diruang tunggu rumah sakit. Mereka sedang menunggu hasil pemeriksaan yang baru saja dilakukan oleh Faris.
Wajah Faris terlihat sangat tegang, Ia benar benar khawatir jika ternyata dirinya lah yang bermasalah, menyebabkan Vanes tak kunjung hamil.
Hampir 3 jam mereka menunggu, tepat pukul 12 siang, Faris dan Vanes dipanggil keruangan Dokter Chan.
"Hasilnya sudah keluar." kata Dokter Chan mulai membaca hasil pemeriksaan Faris.
"Tidak ada yang salah, anda sangat sehat." ucap Dokter Chan yang seketika membuat Faris lega luar biasa.
"Jika kami berdua sehat, lalu apa masalahnya dok?"
Dokter Chan terdiam sejenak sebelum akhirnya Ia menjawab, "Aku pikir karena sprema yang kau hasilkan sedikit encer membuat pembuahan gagal."
Faris dan Vanes akhirnya diam, mendengar penjelasan dari Dokter Chan yang belum selesai, "Apa kau kurang istirahat?" tanya Dokter Chan, "Maksudku mungkin karena waktu istirahatmu kurang membuat kau kelelahan hingga menghasilkan ****** yang encer." jelas Dokter Chan yang akhirnya bisa membuat Faris dan Vanes mengerti.
"Akhir akhir ini saya memang sering pulang malam dan tidak bisa tidur dok." ungkap Faris.
"Nah, itu penyebabnya. Jika kalian ingin segera memiliki momongan, cobalah menyempatkan waktu untuk liburan atau mungkin honeymoon tanpa memikirkan pekerjaan, dengan cara itu aku rasa akan mendapatkan kualitas ****** yang baik dan kau bisa segera hamil." saran Dokter Chan yang langsung diangguki oleh Faris dan Vanes.
"Tidak ada masalah dengan kalian jadi lebih semangat untuk berusaha lagi dan aku harap setelah ini usaha kalian membuahkan hasil." kata Dokter Chan mengakhiri pemeriksaannya.
Raut wajah Faris yang tadinya terlihat tegang kini tampak lega dan bisa tersenyum lebar karena dirinya dinyatakan sehat dan tidak mandul oleh dokter Chan.
Sampai dimobil, Faris langsung memeluk istrinya Vanes.
"Aku lega sekali sayang." ucap Faris yang membuat Vanes tersenyum dan ikut merasa lega.
"Aku juga mas, kita sama sama sehat dan memang harus berusaha lagi."
Faris tersenyum, "Aku akan minta cuti pada Sara untuk 1 minggu ke depan agar kita bisa pergi liburan,"
Mendengar kata liburan sontak membuat Vanes menjadi girang, "Jadi kita akan honeymoon?"
Faris mengelus kepala Vanes penuh sayang, "Katakan kamu ingin honeymoon dimana?"
Vanes tampak berpikir, mencari tempat yang ingin Ia kunjungi.
"Kau ingin keluar negeri?"
Vanes menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku bosan karena dulu sering liburan keluar negeri."
"Lalu kemana?"
"Ummm mungkin kita ke bali saja."
Faris mengangguk setuju, "Kemanapun asal bersamamu, aku tidak masalah sayang."
Vanes tertawa lalu memukul lengan Faris, "Dasar gombal."
"Tapi aku ada permintaan."
"Apa mas?"
"Sebelum berangkat ke bali, aku ingin pulang kerumah Ibu dan meminta restu pada Ibu."
Tanpa protes Vanes mengangguk, "Sepertinya kita memang harus melakukan itu mas."
Meskipun Faris tinggal dikota namun setiap wekeend Ia selalu menyempatkan waktu untuk pulang dan menjenguk ibunya.
Faris masih berusaha membujuk ibunya agar mau tinggal ke kota bersamanya namun usahanya masih saja gagal karena Asih menolak tinggal ke kota dengan alasan tak mau meninggalkan rumah peninggalan mendiang suaminya.
Faris mengantar Vanes pulang kerumah, setelah itu Ia berangkat ke kantor karena ada banyak pekerjaan yang sudah menunggunya dikantor.
"Lagi ditaman Non."
"Panas panas gini kok ke taman." gumam Vanes akhirnya menyusul Rani pergi ke taman karena Vanes penasaran dengan apa yang dilakukan Rani ditaman.
Vanes melihat Rani duduk dipinggir kolam ikan. Ia pun segera menghampiri Rani yang terlihat melamun.
"Rani..." panggil Vanes membuat Rani terkejut dan berbalik menatap Vanes.
Kini giliran Vanes yang terkejut melihat kedua bola mata Rani mengeluarkan air. Rani menangis, ya gadis itu menangis.
"Ada apa Rani?" tanya Vanes dengan raut khawatir.
Rani mengusap air matanya lalu menggelengkan kepalanya, "Enggak apa apa mbak, aku baik baik saja."
Vanes mendekat lalu mengelus punggung Rani, "Jangan bohong, pasti kamu lagi sedih kan karena ini pertama kalinya jauh sama Keluarga?" tebak Vanes yang akhirnya diangguki oleh Rani.
Vanes tersenyum, "Kamu belum terbiasa Rani, nanti kamu pasti akan terbiasa." kata Vanes mencoba menghibur Rani.
Rani hanya mengangguk saja, tak mengatakan apapun lagi.
"Sudah sebaiknya kamu istirahat dikamar biar pikiran kamu juga tenang."
Rani mengangguk, berjalan meninggalkan Vanes dan memasuki kamar.
Didalam kamar, Rani menghela nafas lega karena Vanes tak tahu apa yang sebenarnya membuat Rani menangis.
Rani menangis bukan karena rindu dengan keluarganya, bukan karena itu. Rani menangis karena Ia mengetahui fakta jika Ken, pria yang mengambil ciuman pertamanya, sudah menikah dengan Sara.
Sakit... Rani merasa dadanya sakit dan sesak mengetahui fakta itu.
Alasan Rani bekerja dikota, karena Rani ingin mengejar Cinta Ken karena Rani sangat yakin jika sebenarnya Ken juga tertarik padanya.
Namun sekarang, melihat Ken sudah menikah dengan Sara. Rani sudah tak bersemangat lagi bekerja dikota, rasanya Ia ingin pulang saja agar bisa melupakan Ken.
Rani berbaring diranjangnya yang empuk, Ia kembali memikirkan apakah harus pulang atau bertahan disini.
"Jika aku pulang... Rasanya malu sekali, pulang tanpa menghasilkan apapun tapi jika aku tetap disini... Aku takut, benar benar takut akan semakin jatuh cinta dengan Mas Ken." gumam Rani lalu mengacak rambutnya merasa frustasi.
Saat makan malam tiba.
Sejujurnya Rani malas keluar untuk makan malam namun karena Vanes masuk ke kamarnya dan membujuknya, terpaksa Rani keluar untuk makan malam.
Rani melihat ada Sara dan Ken yang duduk berdampingan dan asyik menikmati makan malam mereka, juga ada Faris dan Vanes yang duduk berdampingan. Hanya Rani, ya hanya Rani yang belum memiliki pasangan diantara mereka.
"Makanlah yang banyak dan jangan sedih lagi." celetuk Vanes yang langsung membuat semua orang menatap ke arah Rani.
"Sedih kenapa?" tanya Sara penasaran.
Rani menggelengkan kepalanya, Ia tak ingin semua orang tahu apa yang dirasakan olehnya saat ini namun Vanes malah menjelaskan pada semua orang, "Rani sedih karena harus berpisah dengan keluarganya, Dia masih belum terbiasa." Jelas Vanes membuat Rani kesal karena Vanes terlalu sok tahu.
"Kenapa belum terbiasa? Bukankah sebelumnya kau juga kuliah diluar kota?" protes Faris merasa ada yang aneh dengan adiknya itu.
"Aku sedang tidak enak badan dan teringat orang rumah jadi aku merasa sedih." ungkap Rani terpaksa berbohong.
Sara, Vanes dan Faris berohh ria mendengar penjelasan Rani berbeda dengan Ken yang tak berkomentar apapun bahkan tak menatap ke arah Rani.
"Aku benar benar harus mengikhlaskan mas Ken." batin Rani kembali menunduk sedih.
Bersambung....
Jan lupa like vote dan komen yaaa