
Herman menatap Arga lalu menghela nafas panjang. Ia tak menyangka jika putra semata wayangnya itu akan menerima masa lalu Sara yang pernah memiliki suami.
Herman merasa putranya benar benar jatuh cinta dengan Sara, entah apa yang dimiliki oleh Gadis itu hingga Arga berubah total dan ingin cepat menikah padahal sebelumnya, masa depan Arga sangat berantakan namun kini semua sudah berubah, Arga mulai menata masa depannya lagi dengan bekerja dikantor dan memiliki keinginan menikah.
"Apa yang membuatmu tertarik dengan Sara?" tanya Herman sangat penasaran.
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
Herman berdecak, "Kalau tidak tahu kenapa ingin menikahinya? Ingat Arga, pernikahan itu bukan lelucon."
"Astaga Ayah... Aku juga tidak menganggap ini lelucon, aku serius ingin menikah dengan Sara." kata Arga mencoba meyakinkan Ayahnya.
"Lalu katakan apa yang membuatmu ingin menikahi Sara?" Herman masih memaksa.
"Aku jatuh cinta padanya, entahlah mungkin ini terdengar bodoh tapi aku selalu ingin berada didekatnya Ayah."
Herman kembali menghela nafas panjang, "Kau bukan anak smp lagi yang jatuh cinta seperti itu, ini tentang hidup dan mati harus bersamanya juga tanggung jawab untuk menjadi suami yang baik karena gadis itu memiliki trauma."
Arga mengerutkan keningnya, "Trauma apa yah?"
"Dia putri dari seorang mafia, orangtuanya terbunuh jadi dia disini ikut pamannya setelah itu dia menikah dan brengseknya pria yang dinikahinya itu berselingkuh dengan pembantu hingga membuatnya keguguran." jelas Herman yang sudah mencari tahu tentang Sara dengan Wira dan anak buahnya yang Ia tugaskan untuk mencari tahu.
"Gila... Apa benar kisah hidupnya semengerikan itu?"
Herman mengangguk, "Itulah sebabnya Ayah nggak mau kamu main main dengan Sara. Dia sudah banyak terluka."
Arga berdecak, Ia kembali memikirkan sebelum akhirnya Ia menjawab, "Arga akan tetap menikahi Sara Yah."
"Kamu yakin?"
Arga mengangguk, "Sangat yakin."
Lagi lagi Herman menghela nafas panjang, "Nanti Ayah bicarakan sama Wira."
"Ayah merestui kami?"
Herman mengangguk, "Jika Sara bisa membuatmu berubah menjadi lebih baik, Ayah tidak akan mempermasalahkan lagi."
Arga bersorak gembira, "Yeah, Ayah memang yang terbaik."
Herman menggelengkan kepalanya tak percaya, "Sekarang kau menganggap Ayahmu ini ada."
Arga tertawa, "Aku selalu menganggap Ayah ada."
Herman berdecak, "Ayah usahakan kau bisa menikah dengan Sara secepat mungkin tapi ingat Arga, kalau sampai kau berani menyakiti Sara, Ayah akan menghajarmu lebih dulu sebelum Wira."
Arga tertawa, "Baiklah Yah, itu tidak akan terjadi, tidak akan pernah terjadi." ucap Arga penuh percaya diri.
Herman tak lagi menjawab hanya mendengus sebal.
...****************...
Faris dan Vanes sedang mengantri untuk pemeriksaan dengan dokter kandungan disebuah rumah sakit ternama hingga giliran keduanya akhirnya tiba.
Vanes mengatakan pada dokter tentang keluhannya dan Ia merasa ragu akan kehamilannya karena tidak memiliki tanda tanda hamil seperti kebanyakan wanita lainnya.
"Karena setiap orang itu berbeda, belum tentu memiliki gejala hamil yang sama." kata Dokter lalu mempersiapkan alat untuk usg agar meyakinkan Vanes jika Ia benar hamil.
"Masih sangat kecil karena baru berusia 3 minggu."
"Jadi saya benar benar hamil dok?" tanya Sara terlihat senang begitu juga Faris.
"Ya, hamil 3 minggu. Masih kecil dan masih rawan. Harus hati hati jangan sampai kelelahan atau salah makan karena ini bisa memiliki efek buruk untuk janinnya."
"Baik Dok, saya akan membantu istri saya menjaga diri." kata Faris.
Dokter itu mengangguk, "Tentu saja, harus ada kerja sama antara suami dan istri agar kehamilam sehat dan bisa melahirkan dengan lancar."
Selesai pemeriksaan, Faris dan Vanes kembali ke mobil. Mereka berencana untuk pulang dan memberitahukan pada Wira.
"Aku juga akan menelepon Ibu." ucap Faris.
Vanes terdiam sejenak, "Apa nggak sebaiknya kita pulang kampung mas trus bilang sama Ibu langsung, nggak lewat telepon?" tawar Vanes.
Faris tersenyum, "Memang nggak apa apa kalau perjalanan jauh? Aku takut baby kita..."
"Nggak apa apa mas, aku yakin semua baik baik aja kok." ucap Vanes yang membuat senyum Faris semakin lebar.
Sesampainya dirumah, Faris mengantar Vanes masuk ke dalam,
"Kenapa kalian pulang?" Wira merasa heran dengan kedatangan Faris dan Vanes.
"Papa duduk deh, ada yang mau aku omongin sama Papa." ucap Vanes menarik lengan Wira dan mengajaknya duduk.
Vanes mengangguk, "Biar mas Faris aja yang ngomong."
Faris menggelengkan kepalanya, "Kamu aja yang ngomong."
"Kalian mau ngomong apa sebenarnya?" tanya Wira sedikit geregetan.
"Vanes hamil Pa..."
Seketika senyum Wira mengembang mendengar ucapan Vanes.
"Serius kamu? Bener hamil?"
Vanes menganggukan kepalanya, "Bener Pa... Vanes hamil."
"Alhamdulilah, kabar bagus sayang, akhirnya yang kita nantikan akan segera tiba." kata Wira.
"Doakan Pa... Semoga sehat dan lancar sampai lahiran."
Wira mengangguk, "Ya pasti Papa doakan yang terbaik untuk kalian dan jangan lupa..." kata Wira.
"Lupa apa Pa?"
"Jangan lupa bilang sama Ibu kalau kalian sudah hamil."
Vanes mengangguk, "Kami sudah rencana mau pulang kampung buat ngasih tahu Ibu."
Wira mengangguk, "Pulang sekarang saja."
"Tapi Pa..." Faris ingin protes namun akhirnya Ia mengangguk juga.
"Ya sudah kita pulang hari ini saja mas." ajak Vanes yang akhirnya diangguki oleh Faris.
Setelah selesai berbincang dengan Wira, Faris dan Vanes segera bersiap untuk berkemas pulang ke kampung halaman Faris.
"Bibik ikut seneng Non, akhirnya Non Vanes hamil." kata Bik Sri yang saat ini membantu Vanes mempersiapkan barang barang yang akan dibawa oleh Faris dan Vanes.
"Vanes juga Bik... Doakan Vanes sehat sampai lahiran ya Bik."
Bik Sri mengangguk, "Pasti Non Pasti." ucap Bik Sri lalu mengelus perut Vanes.
Setelah barang barang dibawa siap, Faris dan Vanes berpamitan dengan Wira dan siap untuk berangkat.
"Nitip salam buat Ibu dikampung." ucap Wira yang diangguki oleh Vanes.
Mobil Faris melaju meninggalkan rumah Wira. Pasutri itu tak henti hentinya mengulas senyum mengingat sebentar lagi mereka akan menjadi orangtua.
"Ibu pasti seneng deh mas." kata Vanes.
Faris mencium tangan Vanes, "Ya semua orang senang dengan kabar bahagia ini sayang."
"Rasanya masih nggak nyangka ya mas..."
Faris mengangguk, "Demi kehamilan kamu aku rela deh puasa biar dedek bayinya sehat trus."
"Puasa apa mas?"
"Puasa nggak gituan."
Vanes tertawa, Ia ingat jika dokter berpesan agar mereka tidak sering melakukan hubungan suami istri sampai janin yang ada diperut Vanes kuat.
"Apa mas bisa tahan?" goda Vanes.
"Tentu saja sayang, kita buktikan kalau Mas pasti bisa menahan diri." kata Faris yang akhirnya diangguki oleh Vanes.
Kepulangan Faris dan Vanes tentu saja membuat Asih senang dan tak menyangka.
"Ibu nggak tahu kalau kalian pulang, kalau saja kalian bilang pasti Ibu masak dulu tadi." ucap Asih.
"Ibu duduk dulu, kami ada berita gembira buat Ibu."
Asih menurut, duduk disamping Vanes, "Kabar apa Nak?"
"Alhamdulilah, Vanes hamil Bu."
Seketika senyum Asih mengembang mendengar ucapan Vanes.
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaaa