
Faris pikir dia akan makan malam bersama Rizal dan Vanes namun ternyata hanya dia sendiri yang ada dimeja makan.
Ia sudah duduk disana sedari tadi, Menunggu pasangan pasutri itu turun namun tidak ada tanda tanda mereka turun untuk makan malam.
Perutnya yang sudah keroncongan sedari tadi membuat Faris tak sabar hingga makan malam lebih dulu.
Baru saja selesai makan, Rizal terlihat turun ke bawah. Pria itu terlihat sangat rapi dan siap pergi ke pesta.
"Makan yang banyak Ris." celetuk Rizal lalu melewati Faris begitu saja.
"Mas... Sendirian aja? Nggak sama mbak Vanes?" tanya Faris menghentikan langkah kaki Rizal.
"Enggak, aku sama Mira."
Deg... Lagi lagi hati Faris terasa terkoyak mendengar pengakuan Rizal.
"Berangkat dulu ya Ris." pamit Rizal lalu kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
Faris membereskan piring kotornya tak lupa Ia cuci sekalian karena tidak ingin merepotkan Bik Sri meskipun Bik Sri sering protes karena piringnya Ia cuci sendiri.
"Biar nanti Bibik yang nyuci Den." kata Bik Sri.
"Enggak apa apa Bik, cuma satu juga dan makasih ya Bik, masakan Bik Sri selalu enak." puji Faris.
Bik Sri mengulas senyuman, "Bukan Bibik yang masak Den tapi Non Vanes."
Faris tentu saja terkejut dengan pengakuan Bik Sri, "Serius? Bukan Bik Sri yang masak?" Faris terlihat tak percaya.
Bik Sri mengangguk, "Bibik tugasnya cuma bersih bersih aja, urusan masak didapur ditangani langsung sama Non Vanes."
"Nyatanya tidak hanya cantik tapi juga pintar masak, kayak gitu kenapa mas Rizal malah milih sama Mira." batin Faris.
"Non Vanes masak sendiri supaya suaminya lahap makan dirumah tapi ternyata Tuan Rizal malah jarang makan dirumah." gerutu Bik Sri "Kasihan Non Vanes." tambah Bik Sri.
"Kita hanya bisa melihat tanpa melakukan apapun, rasanya menyakitkan sekali ya Bik." ucap Faris yang langsung diangguki Bik Sri.
Setelah berbincang cukup lama, Faris kembali ke kamarnya untuk istirahat, pikirannya terguncang memikirkan tentang hubungan Vanes dan Rizal hingga lamunannya buyar saat ponselnya berdering.
Faris mengambil ponselnya yang ada dimeja, ada panggilan dari kedua orangtuanya dikampung. Tanpa berpikir panjang, Faris menerima panggilan dari orangtuanya itu.
"Assalamualaikum Nak..." suara ringkih ibunya terdengar.
"Wa'alaikum salam Ibu, Gimana keadaan Bapak sama Ibu dikampung? Sehat kan?"
"Alhamdulilah kami sehat Nak, kamu gimana? Betah nggak kerja dikota? Kalau nggak betah pulang saja Ris, nggak perlu dipaksain." nasihat sang Ibu.
"Betah kok Bu, dikasih kerjaan enak sama Mas Rizal trus Mbak Vanes juga baik." adu Faris membuat Asih merasa lega.
"Syukur kalau begitu, Ibu cuma ingin pastikan kamu baik baik saja disana, Ya sudah Ibu tutup teleponnya, takut ganggu kamu lagi istirahat." kata Asih langsung mengakhiri panggilan.
"Padahal masih kangen, malah udah dimatiin." gerutu Faris meletakan kembali ponselnya dimeja.
Faris melihat ke arah jam dinding, masih pukul 8 malam. Matanya masih enggan terpejam, Ia akhirnya memilih keluar untuk mengambil minuman, mengikuti saran dari Vanes kemarin malam untuk menyiapkan minuman sebelum tidur agar saat bangun tengah malam tidak harus keluar kamar.
Faris ke dapur untuk mengambil minuman, Ia melihat pintu belakang terbuka, Faris memutuskan untuk melihat siapa yang ada diluar.
Faris baru tahu jika dibelakang dapur ini ada taman buatan yang sangat indah. Faris bisa melihat Vanes duduk sendirian dikursi taman. Awalnya Faris tak mau menganggu namun karena kasihan, Ia akhirnya berjalan menghampiri Vanes.
"Nggak tidur mbak?"
Vanes berbalik terkejut mendengar suara Faris.
"Aku bukan hantu mbak." tawa Faris mengema melihat raut terkejut Vanes.
Vanes mengulas senyuman indahnya, "Masih jam 8 malem, terlalu awal untuk tidur."
Faris memberanikan diri duduk disamping Vanes, "Duduk disini sendirian emangnya nggak takut mbak?"
"Takut apa?" Vanes mengerutkan keningnya.
Sontak Vanes tertawa, "Mereka cuma cerita tahayul."
Faris berdecak, "Orang kota mah suka nggak percaya, coba aja lihat langsung pasti pada ketakutan."
"Ya jangan lihat kalau gitu."
"Kalau nggak mau lihat, masuk mbak jangan disini malem malem." ajak Faris mengingat udara semakin dingin dan Vanes hanya mengenakan setelan piyama pendek.
"Nantilah, masih enak disini." tolak Vanes.
"Mbak Vanes mau nungguin Mas Rizal?" tanya Faris.
"Paling dia nggak pulang."
"Kok mbak Vanes bisa tahu?"
Vanes menatap Faris dengan senyuman tipis, "Biasanya gitu soalnya."
Faris menghela nafas panjang, entah mengapa Ia ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Vanes.
Dan tanpa mengatakan apapun, Faris beranjak dari duduknya, kembali masuk ke dalam rumah.
Vanes sempat menatap Faris penuh keheranan namun seketika Ia mengabaikan itu.
Tak berapa lama, Faris keluar membawa dua cangkir coklat hangat lalu diberikan satu untuk Vanes.
"Tadi dikantor temenku beliin es coklat dan rasanya bikin perasaan yang sedih jadi lebih tenang." kata Faris.
"Siapa yang sedih? Aku nggak sedih." kata Vanes menyangkal ucapan Faris dan menyeruput coklat hangat buatan Faris, "Enak." puji Vanes.
"Memang bukan Mbak Vanes yang sedih tapi aku kok yang sedih."
Vanes mengerutkan keningnya, "Kamu sedih kenapa? diputusin sama pacar?"
Faris tertawa, "Enggak karena itu mbak, biasanya nggak pernah jauh dari orangtua dan sekarang jauh rasanya bikin aneh." ungkap Faris.
"Ohh anak mami ya kamu." celetuk Vanes membuat tawa Faris kembali mengema.
"Mbak, masakan kamu enak." puji Faris.
Vanes mengerutkan keningnya, "Masakan yang mana? Orang yang suka masak Bik Sri."
"Tadi Bik Sri bilang semua makanan yang masak Mbak Vanes."
Vanes akhirnya tertawa karena ketahuan berbohong, "Dulunya aku nggak bisa masak tapi pas mau nikah, aku kursus masak, belajar banyak untuk membuat sesuatu yang bisa dimakan setiap hari dan sekarang aku udah bisa bikin banyak masakan." ungkap Vanes.
Faris terdiam, merenungi ucapan Vanes yang begitu berjuang untuk pernikahannya, berharap Rizal bisa menerimanya sebagai istri seutuhnya namun Rizal malah bersikap brengsek.
Faris memang enggan untuk bertanya sesuatu mengenai apa yang terjadi namun Ia memberanikan diri untuk menepuk bahu Vanes, berharap itu bisa memberikan kekuatan untuk Vanes.
"Apa aku terlihat menyedihkan?" tanya Vanes dengan senyuman hambar.
Faris menggelengkan kepalanya,
"Aku masih mampu mengenggam pernikahanku saat ini, mungkin nanti jika aku lelah, aku akan melepaskannya."
Faris menghentikan tepukannya, lalu menarik tangannya dari punggung Vanes. Mendengar ucapan Vanes, Faris merasa jika Vanes sudah tahu perselingkuhan Rizal.
"Apa mungkin Mbak Vanes tahu kalau mas Rizal..."
Belum sempat Vanes menjawab, suara Rizal terdengar dari pintu dapur.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
Faris dan Vanes terkejut, sama sama beranjak dari duduk mereka, menatap ke arah Rizal yang juga menatap mereka.
Bersambung....