TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
88


Faris baru saja sampai dirumah setelah mengantar Vanes. Ia melihat Asih masih duduk diruang tamu seolah sedang menunggunya.


Faris melihat ke arah jam dinding, sudah pukul 11 malam. Ia menghampiri Asih lalu memeluknya, "Ibu kok belum tidur?"


Asih menggelengkan kepalanya, "Nunggu kamu."


Faris tersenyum, mulai saat ini Ia harus lebih tegar dan mulai mengikhlaskan Bapaknya agar tidak membuat Ibunya semakin sedih.


"Tidur sekarang yukk bu." ajak Faris.


Asih menggelengkan kepalanya, "Ada yang mau Ibu omongin sama kamu, ini wasiat dari bapak."


Faris menghela nafas panjang, Ia sudah bisa menebak apa yang akan Ibunya bicarakan. "Pasti masalah uang tabungan Bapak?" tebak Faris.


Asih mengangguk, "Bapak tetap mau kamu pakai uangnya untuk nikah."


"Ya, Faris akan pakai kalau memang itu keinginan Bapak." kata Faris tanpa berpikir.


Asih menatap Faris tak percaya, "Kamu sungguh mau?"


Faris mengangguk, "Harusnya ini yang Faris katakan pagi tadi sama Bapak, setidaknya Bapak bisa lega dan senang, Faris benar benar anak durhaka." ucap Faris tampak menyesal.


Asih mengelus punggung putranya itu, "Mana mungkin kamu anak durhaka, kamu itu anak terbaik yang Ibu dan Bapak miliki. Terima kasih Faris akhirnya kamu mau menerima uang itu."


Faris kembali menghela nafas panjang, "Nanti Faris akan nemuin Pak Wira lebih dulu."


Asih mengangguk senang, "Kapan kamu akan kesana?"


...****************...


Hari berganti minggu, kesedihan sudah tidak lagi terlihat diraut wajah Faris dan juga Asih. Keduanya tampak sudah mengikhlaskan kepergian orang yang mereka cintai itu.


"Kamu jadi berangkat nanti malam?" tanya Asih saat keduanya tengah sarapan.


Faris mengangguk, "Iya bu, kemarin motornya udah Faris service jadi aman buat ke kota."


"Kenapa nggak naik kereta saja? Lebih aman dan Ibu juga lebih tenang."


"Bulan ini Faris udah banyak izin kerja Bu, kalau naik kereta Faris harus libur 2 hari, nggak enak sama yang lainnya. Kalau naik motor kan liburnya cuma sehari." jelas Faris yang akhirnya diangguki oleh Asih.


"Ya sudah kalau memang begitu."


Selesai sarapan, Faris mencium punggung tangan Ibunya lalu segera pamit pergi ke kampus. Tak lupa Ia menjemput Vanes dikosan lebih dulu.


"Besok jangan menungguku, minta Nani mengantarmu ke kampus." kata Faris saat keduanya sampai dikampus.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?'


"Aku harus pergi ke suatu tempat." kata Faris lalu tersenyum.


Vanes semakin penasaran, "Pergi kemana?"


"Nanti kau juga tahu sendiri."


Plak... Plak... Vanes memukul lengan Faris, "Pergi kemana?" Vanes memaksa.


Faris akhirnya tertawa, "Ke suatu tempat, aku ingin menemui seseorang." ucap Faris membuat Vanes gila, gila karena penasaran.


"Sana pergi ke kelasmu." pinta Faris saat melihat Vanes mengikutinya masuk keruangan.


"Aku tidak akan ke kelas sebelum kau mengatakan ingin pergi kemana dan siapa yang kau temui itu!"


Faris kembali tertawa, "Ini rahasia, mana mungkin ku katakan padamu."


"Kenapa harus rahasia? Apa dia simpananmu?" protes Vanes lagi.


"Mungkin iya, mungkin tidak."


Vanes menghentak hentakan kakinya karena kesal lalu keluar dari ruangan Faris.


"Dasar menyebalkan! Menyebalkan!" omel Vanes saat sudah keluar.


Saat jam makan siang, Vanes kembali keruangan Faris. Kali ini Ia hanya meletakan bekalnya tanpa menemani Faris makan.


"Apa kau marah?" tanya Faris sambil cengegesan.


Vanes hanya memutar bola matanya malas lalu keluar dari ruangan Faris.


"Dia benar benar marah." gumam Faris.


Dan saat jam pulang, Vanes sudah menunggu Faris didepan ruangan dengan raut wajah ditekuk bahkan saat sudah bertatapan dengan Faris, Vanes masih saja memanyunkan bibirnya.


"Apa kau masih tak mau mengatakan padaku?"


Faris mengangguk, "Ku bilang ini rahasia."


"kalau begitu biarkan aku ikut!" ucap Vanes sesampainya ditempat parkir motor.


"Tidak bisa sayang, kau hanya akan menganggu jika ikut."


"Jadi aku penganggu? Siapa yang ingin kau temui? Wanita mana? Apa dia cantik?"


Faris kembali tertawa, rasanya menyenangkan sekali menggoda Vanes seperti ini.


"Tidak, dia tampan dan sudah berumur."


Seketika Vanes menutup bibirnya, Ia sedikit malu karena sudah salah paham.


"Kau ingin menemui saudaramu?"


Faris mengangguk, "Ya dan sebentar lagi mungkin menjadi lebih dari saudara."


Kedua pipi Vanes memerah malu karena sudah salah paham, "Aku pikir kau ingin menemui wanita lain."


Faris tertawa, "Apa kau cemburu?" goda Faris.


"Tidak!"


"Baiklah jika tidak, mungkin besok aku akan mampir untuk bertemu seorang wanita."


Mata Vanes kembali melotot, "Kau akan mengkhianatiku?"


Faris tersenyum lalu segera menaiki motornya, "Naiklah, aku sudah tidak punya waktu lagi."


"Tidak, sebelum kau menjawabku!"


Faris tersenyum, "Aku tidak akan mengkhianatimu karena aku sangat mencintaimu." ucap Faris yang langsung membuat Vanes tersenyum lega.


Faris segera melajukan motornya menuju kosan Vanes.


"Segerala pulang, aku menunggumu." ucap Vanes saat turun dari motor Faris.


Faris menoel hidung Vanes, "Besok kau akan pergi ke kampus sendiri tanpa aku. Ingat jangan nakal, aku mengawasimu meskipun tidak ada disana."


Vanes tertawa, "Jadi kau juga cemburu kan?"


Faris tersenyum lalu kembali menyalakan motornya dan melajukan motornya tanpa mengatakan apapun.


"Dia sangat manis." ucap Vanes tersenyum sumringah lalu memasuki kosan.


"Tidak ada barang yang tertinggal?" tanya Asih saat Faris siap berangkat.


"Tidak ada bu."


"Hati hati dijalan dan jangan lupa mampir mushola untuk sholat."


Faris tersenyum dan mengangguk tak lupa mencium punggung tangan Asih lalu mulai melajukan motornya.


Faris melajukan motornya dengan kecepatan rendah dan berkali kali mampir ke toko sejuta umat untuk istirahat sejenak dan minum kopi agar Ia tidak mengantuk selama perjalanan dan bisa sampai tujuan dengan selamat.


Faris sampai dikota pada waktu subuh. Ia gunakan kesempatan ini untuk mandi dan berganti pakaian serta sholat berjamaah.


Faris menyempatkan untuk mampir kewarung makan dan sarapan disana karena ini masih terlalu pagi untuk bertamu.


Tepat pukul 7 pagi, Faris kembali melajukan motornya menuju rumah tujuannya yang jaraknya tidak jauh dari warung makan tempat Ia sarapan.


"Cari siapa kamu?" tanya satpam menatap Faris sinis.


"Pak Wira."


"Ada urusan apa? Sudah buat janji?" tanya Satpam itu dengan tegas.


"Belum, katakan saja namaku Faris, aku ingin bertemu dengan pak Wira." ucap Faris.


"Ada apa ini?" ucap pria berbadan kekar dan berwajah tampan yang baru saja mendekat.


"Ada yang ingin bertemu dengan Tuan bos Ken." ucap Satpam tadi pada Ken.


Ken menatap ke arah Faris dan terkejut setelah mengetahui siapa Faris.


"Ohh tenyata kau." ucap Ken.


Faris mengangguk, "Aku ingin menemui Pak wira.


"Ada urusan apa?" tanya Ken.


"Itu bukan urusanmu, biarkan aku menemui Pak Wira."


Ken memaksakan senyumnya, "Masuklah." pinta Ken memberi jalan pada Faris.


Tanpa Faris sadari, Ken mengepalkan tangannya sambil berjalan dibelakang Faris.


Bersambung...


Jan lupa like vote dan komeennn