
Asih baru saja selesai memasak untuk makan malam keluarganya. Baru ingin memanggil Slamet yang ada didepan rumah, langkah kakinya terhenti saat mendengar suara ponsel miliknya berdering.
Asih mengambil ponsel yang tergeletak dimeja.
Tantri, nama si pemanggil. Tak menunggu lama, Asih segera menerima panggilan dari kakak sulungnya itu.
"Assalamualaikum Mbak Tantri, apa kabar?" tanya Asih dengan ramah.
"Ck, nggak usah sok baik sama aku kalau kelakuan keluarga kamu aja menusuk keluarga aku asih!" sentak Tantri membuat Asih terkejut dan tak mengerti apa maksud Tantri.
Asih merasa tidak ada masalah apapun diantara keluarga mereka, semua baik baik saja hingga akhirnya Asih ingat tentang Faris, Rizal dan Vanes.
Asih menelan ludahnya, "Menusuk gimana mbak?" Asih pura pura bertanya, mencoba memastikan jika Tantri marah karena masalah anak anak mereka.
"Nggak usah pura pura nggak tahu Asih, sekarang kamu bilangin sama Faris, jangan ganggu rumah tangga Rizal lagi. Gara gara anak kamu itu sekarang Rizal mau diceraikan sama istrinya!"
"Tapi mbak, bukankan Rizal itu-"
"Apa kamu sengaja ya Asih nyuruh Faris buat godain Vanes, kamu iri sama aku karena aku punya besan kaya jadi kamu ngelakuin ini!" tuduh Tantri memotong ucapan Asih yang belum selesai.
Dada Asih terasa nyeri mendengar ucapan Tantri, bagaimana bisa kakaknya tega mengatakan itu padanya.
"Nggak ada niatan keluarga aku buat nyakitin keluarga mbak Tantri apalagi merebut istri Rizal."
"Alah nggak usah membela diri ya Asih, pokoknya aku nggak mau tahu, jaga itu anak kamu biar nggak gangguin si Vanes lagi." ucap Tantri lalu mengakhiri panggilan.
Dengan tangan bergetar, Asih meletakan ponselnya dimeja, Ia mengucap istigfar berkali kali agar hatinya merasa tenang hingga tanpa sadar air matanya pun menetes.
"Ada apa Bu?" tanya Slamet yang baru saja masuk kerumah, melihat istrinya menangis.
"Baru aja mbak Tantri telepon Pak."
"Masalahnya apa sampai bikin ibu nangis?" tanya Slamet.
Asih mengadukan apa yang dikatakan oleh Tantri hingga membuat Slamet emosi, "Dia yang nggak bisa didik anak, kenapa salahin ke kita?"
"Sudah pak, sudah." ucap Asih akhirnya mengajak Slamet duduk dan menghentikan tangisnya.
"Apa Mbak Tantri nggak tahu bagaimana kelakuan si Rizal itu?" Slamet masih emosi.
"Ibu juga nggak tahu pak, sudahlah sebaiknya kita nasehati Faris saja."
Slamet berdecak, "Tapi Bapak masih nggak terima dengan kata kata Tantri!"
Asih akhirnya diam, jika sudah marah suaminya memang susah dibujuk.
Dan akhirnya Faris pulang, Faris terlihat sangat terkejut mendengar permintaan Asih.
"Lupakan Neng Vanes ya Nak, masih banyak wanita yang lebih baik dari Neng Vanes." kata Asih mengulang ucapannya saat Faris hanya diam saja.
"Ada masalah apa Bu?" tanya Faris akhirnya.
"Barusan Budhe kamu telepon trus marah sama Ibu gara gara Rizal mau diceraikan oleh Vanes."
Seketika senyum Faris mengembang mendengar berita bahagia itu, "Wah bagus sekali!"
"Nak..." sentak Asih.
Faris menghela nafas panjang, "Waktu Faris kerja dikantornya Mas Rizal, Faris ada teman trus kemarin dia bilang sama Faris kalau Mas Rizal kecelakaan, perusahaannya juga diambil alih oleh selingkuhannya dan sekarang Mas Rizal digugat cerai,"
Asih dan Slamet nampak terkejut, "Kecelakaan?"
"Iya Bu, mungkin ini hukuman karena selama menikah Mas Rizal sudah menyakiti hati Mbak Vanes, jadi bukan salah kita." kata Faris membela diri.
"Tapi Faris, tetap saja setelah ini jangan ganggu Vanes lagi, Ibu mohon sekali sama kamu." pinta Asih.
"Faris nggak janji Bu."
Asih menghela nafas panjang, "Apa rasa sayang kamu ke Vanes lebih besar dari kami nak?" tanya Asih dengan mata berlinang ingin kembali menangis.
Faris merasa tak sanggup menatap mata Ibunya, Ia memilih menunduk. Sungguh pilihan yang sangat membingungkan. Faris sangat mencintai orangtuanya namun Ia juga mencintai Vanes.
"Sudahlah Bu, jangan memberi pilihan yang sulit untuk Faris." nasihat Slamet.
"Baiklah Bu, Faris tidak akan mendekati Vanes lagi." ucap Faris dengan berat.
"Terima kasih nak, terima kasih sudah mau mengerti kami." kata Asih tersenyum lega.
Faris menganggukan kepalanya, apa yang Ia ucapkan tidak sesuai dengan hatinya.
"Apa sebaiknya kita ke kota untuk menjenguk Rizal dan menjelaskan semuanya pada Mbak Tantri?" ajak Asih.
"Sepertinya tidak perlu Bu, mengingat ucapan Tantri, Bapak jadi malas melihat wajahnya!" Slamet masih terlihat kesal.
"Faris mau masuk kamar dulu." pamit Faris beranjak dari duduknya dan meninggalkan orangtuanya.
"Pasti Faris sedih sekali." celetuk Slamet seolah tahu apa yang dirasakan oleh Faris.
"Ya mau gimana lagi pak, ini yang terbaik." kata Asih yang langsung diangguki oleh Slamet.
Selesai mandi, Faris berbaring diranjangnya, Ia bahkan menolak ajakan makan malam orangtuanya karena mendadak perutnya tidak lapar.
Faris mengambil ponselnya lalu melihat kembali foto fotonya bersama Vanes saat pergi ke pantai.
Tanpa disadari Faris tersenyum namun seketika senyumnya memudar setelah mengingat ucapan orangtuanya yang melarang dirinya bersama Vanes.
"Apa kamu juga merindukan aku mbak?" Faris memeluk ponsel yang berisi foto Vanes itu kemudian Ia terlelap bersamanya.
Diluar kamar, Asih nampak kembali sedih karena Faris tidak mau makan malam.
"Sudahlah Bu, mungkin Faris ingin menenangkan diri." kata Slamet.
"Tapi kalau nggak makan sama aja menyiksa diri kan pak."
Slamet menghela nafas panjang, "Ya gimana sih Bu orang lagi patah hati juga pasti nggak nafsu makan."
"Apa segitu cintanya ya pak, si Faris sampai patah hati?" tanya Asih.
"Mungkin iya Bu."
Asih kembali sedih, "Gimana ya pak, apa kita jodohkan saja si Faris sama Ani anaknya pak kades yang baru pulang kuliah dari kota itu."
Slamet terkejut, "Jangan gila dong Bu, pak kades itu orang kaya dikampung kita sementara kita ini hanya orang biasa."
"Iya ibu tahu tapi kemarin Bu kades sempet nanya sama Ibu, apa si Faris udah punya calon gitu."
Slamet berdecak, "Jangan kepedean Bu, mungkin tanya basa basi aja."
Asih akhirnya kembali mengangguk, "Ya mungkin saja ya Pak."
Asih dan Slamet akhirnya memutuskan untuk tidur karena memang sudah larut malam.
Dan paginya saat keluarga Asih tengah sarapan bersama, pintu rumah mereka diketuk.
Asih bergegas membuka pintu dan melihat ternyata itu adalah Ani anak pak kades yang sempat diceritakan olehnya semalam.
"Eh Neng ani..." sapa Asih ramah.
"Saya kesini karena diminta Mama buat nganter kue ini." ucap Ani dengan suara lembut mengulurkan sekotak kue untuk Asih.
"Sini masuk dulu, masuk dulu." ajak Asih merangkul Ani membawa ke dalam rumah.
Faris yang tengah sarapan menatap Ani yang juga menatapnya, "Masih ingat nggak Ris ini siapa?" tanya Asih.
"Masih kok Bu, Ani kan?"
Ani mengangguk lalu tersenyum.
"Tambah cantik banget ya Neng Ani." ucap Asih.
Faris hanya tersenyum lalu kembali menikmati sarapannya.
Bersambung...
Jgn lupa like vote dan komen yaa