TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
58


Slamet menatap putra semata wayangnya itu. Slamet bisa melihat jika ada keraguan dimata Faris.


"Jika tujuan mu menikahi Ani hanya karena kasihan pada Kami, seperti Bapak tidak akan setuju." ucap Slamet.


Asih menghentikan tangisnya lalu menatap Slamet penuh protes, "Lalu bagaimana jika Pak Kades benar benar menghancurkan keluarga kita Pak? Kalau semua juragan jagung tidak menerima hasil panen kita, dari mana kita bisa mendapatkan uang Pak?" keluh Asih.


"Ibu benar pak, jika memang ini yang terbaik untuk keluarga kita, Faris tidak masalah menikahi Ani."


Slamet berdecak, "Yang kau katakan tadi sudah benar Faris, seharusnya kita curiga kenapa tiba tiba Pak Kades mau menjadikanmu menantu, jika bukan karena sesuatu yang mendesak rasanya tidak mungkin mengingat selama ini Pak Kades juga tidak pernah bersikap baik pada kita.


Bapak lebih setuju jika kita mencari alasan Pak Kades mau menjodohkanmu dengan Ani. Pasti ada sesuatu." ucap Slamet membuat Faris langsung tersenyum lebar.


"Benar kata Bapak, lebih baik kita cari tahu alasan Pak Kades membuat perjodohan ini." ucap Faris.


"Ibu tidak perlu sedih lagi dan mengkhawatirkan tentang rezeki kita karena rezeki kita sudah diatur dan tidak akan salah jalan jika memang itu milik kita." kata Slamet yang akhirnya diangguki oleh Asih.


Setelah pembicaraan itu Faris tidak bisa tidur karena terlalu memikirkan tentang Ani. Faris benar benar penasaran apa yang terjadi dengan Ani.


"Sepertinya aku harus mendekati Ani lebih dulu agar aku tahu apa yang mereka rencanakan." gumam Faris.


Karena semalam tidak bisa tidur, paginya Faris bangun sedikit terlambat.


Faris buru buru mempersiapkan diri agar sampai kampus tepat waktu.


Beruntung jalan raya tidak macet jadi Faris sampai dikampus pas, tidak terlambat.


Setelah mempersiapkan bahan untuk mengajar, Ia segera masuk ke kelas dimana semua mahasiswa sudah menunggu dirinya.


"Selamat pagi semuanya." sapa Faris seperti biasa.


"Pagi Pak Faris..."


"Hari ini kita akan membahas tentang..." ucapan Faris tiba tiba terhenti dan tubuhnya membeku setelah melihat seseorang yang sangat Ia kenali.


Faris menggelengkan kepalanya, Ia tak mau berhalusinasi tentang Vanes hanya karena sangat rindu dengan Vanes.


Faris juga sempat mengucek kedua matanya, meyakinkan dirinya jika Ia tidak sedang berhalusinasi, wanita yang duduk ditengah itu memang Vanes, benar Vanes bahkan sekarang Vanes tersenyum padanya.


"Pak..." sapa satu orang mahasiswa membuyarkan lamunan Faris.


"Maaf, maafkan saya." ucap Faris kembali melanjutkan apa yang Ingin Ia bicarakan.


Setelah 1 jam berlalu, kelasnya berakhir. Semua mahasiswa tampak keluar kecuali Vanes. Wanita itu kembali tersenyum seolah menunggu Faris agar menghampirinya.


Dan benar saja Faris memang langsung menghampiri ke mejanya.


"Bagaimana bisa?" Faris menatap tak percaya.


"Bagaimana kabarmu?" Vanes tidak menjawab malah bertanya hal lain.


"Kau terlihat baik baik saja... Tanpa aku." ucap Vanes yang langsung membuat hati Faris terasa nyeri.


"Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu sementara kau tidak tahu apa yang kurasakan!"


Vanes langsung tertawa, tawanya membuat Faris mau tak mau tersenyum, "Kau sensitif sekali, aku hanya bercanda kenapa harus marah."


Faris sedikit menunduk malu, Vanes memang hanya bertanya, kenapa pula dirinya harus marah, dasar bodoh, batinnya.


"Bagaimana bisa kau berada disini?" tanya Faris.


"Aku melanjutkan sekolahku disini, tidak apa apa kan?"


"Aku sudah resmi bercerai, aku sekarang sudah menjadi janda."


Tanpa disadari, Faris tersenyum lebar. Ia terlihat senang namun langsung disembunyikan rasa senangnya itu.


"Aku turut prihatin."


Vanes tertawa, "Apa yang kau katakan itu, aku justru sangat bahagia, bukankah ini yang kita inginkan dulu?"


Deg... Seketika jantung Faris terasa berhenti berdetak. Faris sadar memang ini yang Ia inginkan dulu namun Ia juga tak lupa akan nasehat Bapak dan Ibunya jika dirinya tidak boleh bersama Vanes lagi.


Sakit, rasanya menyakitkan sekali.


Tinggal selangkah lagi mungkin Ia bisa meresmikan hubungannya dengan Vanes namun ternyata semua tidak semudah itu.


Ada Papa Vanes yang harus diyakinkan, ada orangtuanya yang kini sudah menentang dengan Vanes dan juga keluarga besarnya yang pasti tidak akan pernah menerima hubungannya dengan Vanes.


Ternyata jalan yang harus dilalui sedikit terjal.


"Kenapa hanya diam? Apa kau berubah pikiran?"


Faris menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku hanya sedang banyak pikiran. Kalau begitu aku mau kembali keruanganku dulu untuk menyiapkan bahan selanjutnya." kata Faris langsung pergi begitu saja meninggalkan Vanes.


Vanes terlihat bengong, menatap Faris tak percaya. Ia bisa merasakan Faris terkejut dengan surprise yang sengaja Ia berikan namun kini malah giliran dirinya yang terkejut melihat respon balik Faris padanya. Sepertinya Faris sedikit acuh padanya.


Vanes menggelengkan kepalanya, "Tidak Vanes, jangan berprasangka buruk lebih dulu. Mas Faris itu pria baik, dia tidak mungkin menyakitimu seperti Rizal yang menyakitimu." batin Vanes menghibur dirinya sendiri.


Vanes sudah berjuang sejauh ini demi membuktikan cintanya pada Faris dan sekarang Ia hanya bisa menunggu balasan baik dari Faris.


Vanes berharap hubungannya dengan Faris berakhir bahagia agar Ia tidak lagi membuat Papanya kecewa.


Sementara itu diruangannya, Faris tampak memijati kepala dengan kedua tangannya. rasanya pusing sekali karena Ia terlalu bingung dengan keadaan.


Jauh dari lubuk hatinya Faris merasa senang akan kedatangan Vanes. Faris yakin Vanes melanjutkan pendidikan dikampus ini karena ingin lebih dekat dengannya, Faris sangat mempercayai itu namun sekarang waktunya sangat tidak tepat karena dirinya kini juga tengah dilanda masalah perjodohan dengan Ani.


Faris ingin menyelesaikan masalahnya dulu dengan Ani namun jika ada Vanes disini, pasti akan banyak kendala dan mungkin malah menambah masalah baru.


"Arghhhh... Harus bagaimana sekarang!" keluh Faris mengacak rambutnya.


Faris kembali masuk ke kelas dan Ia sedikit lega karena tidak ada Vanes dikelasnya.


Namun setelah kelas berakhir, Faris terkejut karena Vanes ternyata menunggunya diluar kelas dengan membawa sebotol minuman dingin.


"Kau pasti haus kan?" tebak Vanes mengulurkan botol minuman itu dan mau tak mau Faris menerima botol minuman dari Vanes, tidak memperdulikan orang orang disekitar yang kini menatap ke arahnya.


"Lebih baik kita ke ruanganku saja." ucap Faris berjalan lebih dulu meninggalkan Vanes.


Vanes menghela nafas panjang, Ia benar benar merasakan perubahan Faris.


"Apa kau malu?" tanya Vanes saat sudah berada diruangan Faris.


"Apa yang kau katakan, aku tidak-"


"Kau pasti malu jika dekat dengan janda sepertiku, aku merasa kau banyak berubah." ucap Vanes dan lagi lagi membuat hati Faris teriris.


Faris berjalan mendekati Vanes lalu memeluk wanita itu, "Bagaimana bisa kau mengatakan hal sekeji itu sementara disini aku menahan rindu sangat banyak padamu."


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen...