
Vanes menutup bibirnya dengan kedua tangannya, rasanya masih tak menyangka Faris akan melamarnya secepat ini.
Faris bahkan melamarnya dengan cara yang seromantis ini, satu hal yang tak pernah terpikirkan oleh Vanes sebelumnya.
"Aku memang masih belum mapan secara finansial Vanes tapi aku akan mengusahakan segala cara agar bisa membuatmu bahagia." tambah Faris dengan penuh kesungguhan.
Vanes menatap kedua bola mata Faris, terlihat ada ketulusan disana. Faris mencintainya dan dia juga mencintai Faris jadi untuk apa dirinya menolak?
"Yes, I will mas... Aku mau menikah denganmu." balas Vanes yang langsung membuat bibir Faris menyunggingkan senyuman lebarnya.
Faris segera memasangkan cincin dijari manis Vanes, Ia langsung berdiri lalu memeluk Vanes.
"Terima kasih sudah mempercayai ku." kata Faris merasa ingin menangis saat ini juga.
"Tapi aku memiliki syarat." ucap Vanes melepaskan pelukannya.
"Syarat apa?"
"Aku ingin kita segera menikah."
Faris tersenyum, "Tentu saja sayang, aku bahkan sudah mendapatkan restu semua orang termasuk Papa mu."
"Papa?" Vanes mengerutkan keningnya tak mengerti, "Memang kapan kau berbicara dengan Papa?"
"Sejujurnya kemarin aku pergi menemui Papa dan Budhe Tatri." akui Faris yang langsung mendapatkan pukulan dari Vanes.
"Dasar nakal, kenapa tak mengajakku sajaa!"
Faris tertawa, "Jika aku mengajakmu, aku tidak bisa melamarmu seperti ini." ungkap Faris.
Vanes berdecak, lalu berbalik pura pura marah, "Kau ingin kita menikah kapan?" tanya Faris merangkul Vanes agar gadis itu tak lagi marah padanya.
"Besok."
"Wow, mana bisa kita juga harus mengurus surat untuk menikah."
Vanes memanyunkan bibirnya, "Ya sudah jika memang tidak mau!"
Faris menghela nafas panjang, "Baiklah kita akan menikah besok."
"Serius?" Vanes menatap Faris penuh harap.
Faris mengangguk, Ia berpikir jika ingin melaksanakan sesuatu yang baik memang harus disegerakan, jangan ditunda tunda apalagi modalnya pun sudah ada.
Faris segera mengajak Vanes pulang, Ia harus mengurus surat sementara untuk menikah karena tak mungkin dalam waktu 1 hari bisa mengurus pernikahan, sangat mustahil.
"Jika aku ingin tidak ada pesta apa tidak apa apa?" tanya Vanes saat sudah sampai dikosan.
Faris menggelengkan kepalanya, "Tidak masalah, apapun yang membuatmu nyaman."
"Baiklah, aku akan bersiap dan meminta dijemput oleh sopirku. Aku menunggumu besok pagi." ucap Vanes lalu masuk ke dalam kosan.
Faris tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, Ia segera melajukan motornya pulang kerumah.
"Menikah besok? Bahkan kita belum mengadakan lamaran resmi." ucap Asih nampak terkejut saat Fadis mengumpulkan data data yang diperlukan untuk menikah.
"Vanes ingin acaranya sederhana, tidak ada pesta dan dia meminta besok Bu."
Asih menghela nafas panjang, "Tetap saja jika besok terlalu cepat."
Faris mengenggam tangan Ibunya, "Bukankah niat baik tidak boleh ditunda bu?"
Asih akhirnya mengangguk, "Baiklah, Ibu ngikut saja."
Faris tersenyum lalu beranjak dari duduknya, "Faris mau kerumah pak Rt dulu." pamit Faris lalu keluar dari rumahnya.
"Wah sudah mau menikah ya? Dapat orang mana?" tanya Pak Rt saat Faris datang dan meminta surat.
"Orang kota pak."
"Waduh, seleranya orang kota, pantes sama Anak Pak Kades nggak mau."
Faris terdiam sejenak lalu kembali membalas, "Bukan nggak mau, memang bukan jodoh pak."
Pak Rt tersenyum penuh arti, "Ya kalau udah bunting duluan kan ya tetep nggak mau lah." celetuk Pak Rt yang akhirnya membuat Faris tersenyum.
"Ternyata bukan hanya dia saja korban dari pak Kades." batin Faris.
Faris tak ingin banyak bicara, Ia hanya menjawab seperlunya saja dan saat sudah selesai, Faris pamit pulang karena Ia harus kerumah Pak Rw juga untuk meminta tanda tangan.
Setelah surat untuk melengkapi data sudah Ia dapatkan. Faris mempersiapkan banyak hal lainnya yaitu seserahan yang akan Ia bawa besok kerumah Vanes.
Faris dibantu Rani sepupunya, anak dari adik Ayahnya.
"Bagaimana bisa kau menikah tanpa memberitahuku siapa calonnya!" omel Rani saat tiba tiba Ia dihubungi oleh Faris dan diajak pergi ke pasar.
"Jika ku hubungi dan kau tahu aku menikah dengan siapa pasti kau akan terkejut."
Rani semakin penasaran, "Katakan dengan siapa kau akan menikah?"
"Nanti kau juga akan tahu."
Rani berdecak, "Sial, jangan membuatku penasaran."
Faris hanya tersenyum, berjalan lebih dulu meninggalkan Rani.
"Katakan siapa?" paksa Rani.
"Bantu aku mencari barangnya dan setelah itu aku akan memberitahumu." ucap Faris.
Rani masih berdecak tak terima, Ia pun segera membantu Faris, Barang apa yang akan dia beli untuk seserahan.
"Pasti wanita itu sangat spesial karena kau mencarikan yang harganya mahal." ucap Rani semakin penasaran.
Lagi lagi Faris hanya tersenyum, tentu saja Ia akan memilihkan barang yang kualitasnya bagus mengingat Vanes anak orang kaya dan pastilah sudah terbiasa mengenakan barang barang mahal.
Setelah selesai berbelanja, Faris mengajak Rani mampir ke warung bakso untuk mentraktir Rani makan.
"Kau berhutang penjelasan padaku bung." protes Rani lagi.
"Aku akan memperlihatkan fotonya."
Faris mengambil ponselnya lalu memperlihatkan fotonya bersama Vanes yang membuat Rani terkejut bahkan saking terkejutnya sampai mencipratkan air jeruk yang baru saja Ia minum.
"Kau gila? Kau tidak waras? Bukankah dia istri Rizal?"
Faris tersenyum lalu mengangguk,
"Bagaimana bisa kau bersama dengan dia, bekas sepupumu sendiri. Jika kau tidak bisa mencari jodoh katakan padaku, aku akan mencarikan untukmu!" ucap Rani dengan nada kesal.
"Kau ini tampan dan seorang dosen, pasti banyak yang tertarik padamu!"
"Makanlah baksonya." pinta Faris tak menjawab ucapan Rani.
"Tidak, aku masih tak terima kau menikah dengan mantan istrinya Rizal!" sentak Rani membuat semua orang yang ada diwarung bakso menatap ke meja mereka.
"Kau mempermalukan aku!" kesal Faris.
"Maaf, tapi aku benar benar tak terima!"
"Kau bahkan belum mengenal orangnya, aku yakin jika kau mengenal orangnya kau pasti juga akan senang."
"Tetap saja dia janda dari sepupumu sendiri! Gila bagaimana bisa!" Rani masih tak percaya.
"Sudah makan saja baksonya dan jangan protes lagi." ucap Faris mulai menikmati baksonya dan tak mengubris lagi ucapan Rani.
Sampai dirumah, Rani masih membantu membungkus hantaran, meski begitu Rani masih saja mengomel tak terima Faris menikah dengan Vanes hingga akhirnya Asih mendekat lalu menjelaskan betapa menderitanya Vanes saat bersama Rizal.
Raut wajah Rani berubah pucat dan merasa bersalah, "Aku tak menyangka Rizal sebrengsek itu memperlakukan wanita,"
"Jika saja Rizal belum meninggal, aku pasti akan mencabiknya." tambah Rani yang membuat Asih tersenyum lega.
"Kita tidak bisa menghindari takdir Rani, bahkan jika Ibu tidak setuju pun mereka akan tetap bersama karena Faris memang sudah bertakdir dengan Vanes."
Bersambung....
Hari ini bakal up 4 eps karena kemarin ngga up hehehe ..
staytune dan jangan lupa like vote juga komennya yaaaa