TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
95


Sara menatap malas ke arah Vanes dan Ken yang kini berdiri didepan kamarnya. Vanes meminta Ken berbalik yang langsung dituruti oleh Ken. Pria itu berbalik sambil tertawa geli menertawakan Vanes yang sangat panik, takut Ken melihat tubuh Sara padahal Ken sudah melihat semuanya bahkan mencicipi tubuh Sara yang masih original.


"Sara, disini ada banyak pria seharusnya kau memakai baju." pinta Vanes.


Sara memutar bola matanya malas, "Aku baru saja selesai mandi dan kau mengetuk pintu dengan tak sabar jadi aku tak sempat memakai bajuku." ucap Sara.


"Maaf, itu bukan aku." balas Vanes lalu menatap ke arah Ken yang masih membalikan badan. "Ken, pergilah sekarang!" pinta Vanes.


"Baiklah Nona." Ken segera pergi tanpa menatap ke arah Vanes dan Sara lagi.


Vanes mengajak Sara masuk ke kamar, "Pakai bajumu." pinta Vanes.


Sara mengambil baju yang sudah Ia siapkan. Ia memakai dress ketat diatas pahanya. Sangat seksi sekali membuat Vanes menatap ke arahnya tak percaya karena penampilan Sara berubah drastis.


Setelah memakai baju, Vanes memeluk Sara.


"Bagaimana kabarmu?"


"Ya seperti yang kau lihat." Sara melepaskan pelukan Vanes. "Aku baik baik saja meskipun tak memiliki orangtua dan sekarang aku bahkan tinggal dirumah saudara yang pernah disakiti oleh Papa ku." ucap Sara dengan senyuman tipis.


Vanes menghela nafas panjang, sebelumnya Ia memang sudah mendengar kabar jika Adik dari Papanya itu sudah meninggal karena dibunuh.


"Terlepas dari apapun yang terjadi diantara keluarga kita dulu, aku masih menyayanggimu sebagai adik ku." ungkap Vanes.


"Ucapanmu membuatku terharu dan aku hampir menangis tapi tenang saja, setelah aku mendapatkan pekerjaan yang layak, aku akan pergi dari sini dan mulai hidup mandiri." ucap Sara lalu mengambil tas selempangnya.


"Kau mau kemana?"


"Bersenang senang diclub malam seperti yang biasa ku lakukan." ucap Sara lalu keluar dari kamarnya.


Vanes mengejar Sara, "Kau tidak mau makan malam bersamaku dan Papa?"


Sara berbalik menatap Vanes lalu tersenyum sinis, "Tidak, aku tidak suka kehangatan keluarga." ucap Sara lalu benar benar pergi keluar meninggalkan Vanes.


"Dia memang seperti itu." suara Wira terdengar dan kini sudah merangkul putrinya itu.


"Sejak kecil dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya dan sekarang dia jadi keras kepala."


"Aku hanya khawatir Pa."


"Sama aku pun juga tapi tenang saja sayang, aku sudah meminta Ken untuk menjaga Sara." kata Wira yang akhirnya membuat Vanes merasa sedikit lega.


Diluar, Sara sedang memilah mobil yang akan Ia gunakan untuk pergi bersenang senang. Ia bisa mengemudikan mobil dan diperbolehkan membawa mobil yang Ia sukai.


Saat sedang bingung ingin memakai mobil yang mana, Mata Sara menatap ke arah Ken yang sudah memasuki mobil.


Sara berlari dan ikut masuk ke dalam mobil Ken.


"Nona?" Ken tampak terkejut karena Sara duduk dikursi depan.


"Antar aku ke club malam."


"Lagi?" Ken menatap Sara tak percaya.


"Ya dan kau harus menjagaku, jangan biarkan ada orang yang menyentuhku lagi. Aku tidak mau menjadi ****** yang tidur dengan banyak pria!''


"Tapi Nona, malam ini saya tidak bisa."


"Kau menolak ku? Akan ku adukan pada Pamanku." ancam Sara.


Ken menghela nafas panjang, "Tidak begitu Nona, malam ini saya harus mengurus segala sesuatu untuk pernikahan Nona Vanes besok pagi."


"Si janda itu mau menikah lagi?" tanya Sara tampak terkejut.


"Apa aku salah? Dia memang janda.'' balas Sara santai.


Ken yang kesal menghentikan laju mobilnya mendadak membuat Sara terkejut dan kepalanya terkena dashboard mobil.


"Kau gila!" sentak Sara menatap Ken marah.


Ken membalas tatapan Sara, Ia bahkan mendekatkan wajahnya seperti ingin mencium, Sara berusaha menjauhkan wajahnya, Sara bersiap memukul Ken yang ingin bersikap kurang ajar namun ternyara Sara salah karena Ken hanya ingin memasang sabuk pengaman Sara yang belum dipasang.


Raut wajah Sara berubah merah, Ia benar benar dipermalukan apalagi melihat Ken menahan tawa seolah sedang mengejeknya.


"Sial!" desis Sara.


"Jika Nona tidak ingin terbentur seharusnya Nona memakai sabuk pengaman sejak kita berangkat tadi. Saya pikir Nona tidak tahu cara memasang sabuk pengaman jadi saya hanya mencoba membantu memasangkan untuk Nona."


Sara berdecak, "Kau hanya beralasan!"


Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai didepan club malam.


"Kita sudah sampai dan Nona tidak turun?'' tanya Ken melihat Sara hanya diam saja tidak bergegas turun.


"Tidak, aku akan ikut denganmu menyelesaikan urusanmu lalu kau akan menemaniku masuk." kata Sara.


Ken menghela nafas panjang, "Saya benar benar tidak ada waktu untuk kesana Nona."


"Aku tidak peduli, bukankah kau ditugaskan untuk menjagaku!"


Ken menatap Sara dengan kesal lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, "Aku tidak bisa datang, kau atur semuanya sendiri. Akan ku kirimkan berkas dan uang. Buatlah acara pernikahan semewah mungkin." pinta Ken lalu mengakhiri panggilan.


"Kau bahkan memiliki anak buah, seharusnya kau suruh saja mereka tanpa harus mempersulit hidupmu." ucap Sara lalu keluar dari mobilnya lebih dulu.


Ken menatap punggung Sara, "Gadis itu benar benar menjengkelkan."


Ken akhirnya ikut masuk ke dalam club dimana Ia langsung melihat Sara sudah membawa botol whisky yang akan Ia minum.


"Jangan mabuk lagi Nona, besok Nona harus bangun pagi untuk pernikahan Nona Vanes." kata Ken ingin meminta botol yang dibawa oleh Sara.


"Persetan dengan pernikahan, aku hanya ingin bersenang senang malam ini."


Ken tetap mengambil botol minuman Sara, "Jika hanya ingin bersenang senang, pergilah kesana menari dan nikmati musiknya." ucap Ken menunjuk ke lantai dansa dimana semua orang menari mengikuti irama musik dj.


"Sial, kau benar benar menyebalkan!" ucap Sara lalu beranjak dari duduknya dan pergi ke lantai dansa ikut menari disana.


Tidak hanya Sara, Ken pun ikut masuk kesana untuk menjaga Sara dari tangan nakal para pria hidung belang yang mencoba menyentuh Sara.


Ken mendekat, semakin dekat dengan Sara hingga matanya dan Sara saling menatap lalu dengan cepat Ken mengalihkan pandagan matanya.


"Aku ingin minum saja setelah itu pulang." ucap Sara yang langsung keluar dari lantai dansa.


Ken kembali mengikuti Sara yang kini duduk disofa, menatap Sara yang meneguk isi botol whisky hingga habis setengah.


"Kau ingin?" Sara menyodorkan botolnya pada Ken.


Ken yang juga sedang frustasi dengan kabar pernikahan Vanes pun menerima botol pemberian Sara dan meneguknya hingga habis.


Plok plok plok.... Sara bertepuk tangan lalu tertawa, "Ternyata kau hebat juga." ucap Sara yang sudah mulai mabuk.


Ken sudah merasakan kepalanya sakit efek dari minuman beralkohol itu dan tanpa sadar, Ia menarik dagu Sara lalu menciumnya.


Ken kembali mencium Sara.


Bersambung....