
Rizal keluar dari mobilnya, berjalan cepat melewati lobi apartemen dan langsung menaiki lift menuju apartemen Mira.
Mendengar kabar jika gadis yang Ia cintai sakit tentu saja Rizal khawatir dan buru buru pergi karena Ia tidak ingin sesuatu terjadi pada Mira.
Rizal menekan tombol sandi hingga pintu akhirnya terbuka.
Seisi apartemen gelap membuat Rizal semakin khawatir. Rizal mencari saklar lampu lalu menekannnya dan...
"Surpriseeee..." teriak Mira tanpa wajah pucat sedikit pun. Mira bahkan mengenakan dress satin tipis yang menerawang dan memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Rizal terlihat bingung, Ia khawatir setelah Mira menelepon dan mengatakan jika Mira tengah kesakitan hingga Rizal meninggalkan makan malamnya, berlari untuk Mira namun ternyata Mira hanya pura pura sakit?
"Apa apaan ini! Jangan bercanda. Ayo kerumah sakit!" sentak Rizal mengenggam tangan Mira yang sama sekali tidak panas.
"Ayolah sayang, aku tidak sakit. Aku memang sedang bercanda." akui Mira.
"Bercanda? Kau pikir ini lucu?" Rizal terlihat kesal.
"Aku kesepian karena harus berada disini sendiri. kau mengabaikan pesanku jadi aku menelepon dan terpaksa berbohong sakit agar kau mau datang kesini." akui Mira.
Rizal menjambak rambutnya sendiri, Ia terlihat frustasi dengan sikap kekanakan Mira. Rizal baru ingin mencari tahu kedekatan antara Faris dan Vanes namun rencananya gagal karena Mira.
"Aku sedang sibuk ingin melakukan sesuatu dan kau malah merusak rencanaku!" omel Rizal.
"Rencana apa? Kau tidak pernah cerita jika memiliki rencana." Mira menatap curiga membuat Rizal panik. Rizal tidak mau Mira tahu yang akan membuat Mira cemburu dan berakhir marah.
"Aku belum ingin mengatakan pada siapapun, jika rencanaku sudah berhasil, aku akan menceritakan padamu."
Mira masih menatap curiga, "Aku harap ini bukan tentang gadis lain."
Rizal berdecak, "Tentu saja tidak sayang, apa kau masih meragukan kesetiaanku hmm?"
Mira akhirnya luluh juga, Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Rizal, "Lalu sebaiknya kita melakukan apa? Aku merasakan ingin sekali." goda Mira namun Rizal langsung menolak ajakan Mira.
Rizal merasa sedang tidak ingin melakukan **** dengan Mira.
"Apa yang terjadi? Biasanya kau tidak pernah menolak!" Mira terlihat marah dan kecewa.
"Maafkan aku sayang, aku sedang lelah dan banyak pikiran jadi merasa tidak ingin." kata Rizal merasa bersalah namun Ia sendiri juga bingung kenapa tidak memiliki rasa Ingin seperti biasanya.
"Kalau begitu pergilah." usir Mira merasa malu karena ditolak oleh Rizal.
"Tidak sayang, aku akan menemanimu tidur malam ini. Hanya tidur tanpa melakukan apapun."
"Pergi saja, aku tidak ingin tidur bersamamu!" usir Mira.
Rizal mulai frustasi melihat Mira marah. Ia mencoba mendekat untuk merengkuh tubuh gadis itu namun Mira malah menghindar, "Ku bilang pergi! Aku benar benar sedang tidak ingin melihatmu!" sentak Mira membuat Rizal tidak memiliki pilihan lain selain keluar dari apartemen Mira.
Tubuh Mira seketika lemas, hingga Ia terjatuh dilantai dan menangis disana.
"Dia sudah berubah, dia benar benar sudah berubah."
Sebelumnya, jika Mira marah pada Rizal, pria itu tidak akan meninggalkan Mira. Rizal selalu mengejar Mira, menenangkan dan meminta maaf namun yang terjadi sekarang tidak seperti itu. Rizal tidak mencoba meminta maaf ataupun merayu Mira dan malah pergi begitu saja. Mira kecewa sangat kecewa dengan sikap Rizal.
Bel apartemennya berbunyi membuat Mira menghentikan tangisnya. Mira beranjak dari lantai dan segera membuka pintu. Ia pikir Rizal kembali dan mencoba merayunya namun Mira salah karena bukan Rizal yang datang melainkan Nathan. Pria tampan dikantornya dan juga teman sekolahnya dulu.
"Aku pikir datang disaat yang tepat." ucap Nathan melihat bekas air mata di mata dan pipi Mira.
Mira mengabaikan Nathan dan ingin menutup pintu namun dengan cepat Nathan menahan pintu, Nathan berhasil masuk ke dalam sebelum pintu tertutup.
Awalnya Mira memberontak namun semakin lama Ia malah terbuai oleh permainan bibir Nathan.
Melihat Mira sudah jatuh ke perangkap, Nathan membawa tubuh Mira ke sofa yang tak jauh dari sana. Nathan segera membawa Mira ke dalam surga dunia yang tak didapatkan bersama Rizal.
Kini tidak lagi tangis Mira namun suara kenikmatan Mira dan Nathan yang terdengar memenuhi apartemen.
...****************...
Faris melepaskan ciumannya setelah beberapa detik. Ia melihat wajah Vanes memerah, entah malu atau marah karena Ia sudah lancang merasakan manisnya bibir tipis milik Vanes.
"Ternyata seperti ini rasanya." gumam Vanes membuat Faris merasa lega karena ternyata Vanes tidak marah.
"Ya, aku baru tahu ternyata rasanya sangat manis." ungkap Faris.
"Rasanya aku masih ingin mel-" ucapan Vanes terhenti karena lagi lagi Faris mencium bibir Vanes dan kali ini ciuman Faris lebih panas dari sebelumnya, tangan Vanes pun mulai nakal, menyentuh dada bidang milik Faris membuat otong Faris yang ada dibawa sana semakin tegang dan keras.
Tanpa keduanya sadari, ada yang melihat adegan panas mereka sedari tadi.
Bik Sri, ya wanita paruh baya itu tampak berdiri jauh di belakang mereka.
Bik Sri hanya diam dan melihat. Tak bersuara karena takut menganggu keasyikan mereka.
Deru mobil milik Rizal kembali memasuki pekarangan rumah membuat keduanya terkejut dan menghentikan aktifitas panas mereka.
Baik Faris maupun Vanes sama tertawa geli, "Sebaiknya kita segera masuk ke kamar dan tidur." Ajak Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.
Sebelum pergi ke kamar, Vanes tak lupa mematikan televisi. Keduanya pun segera masuk ke kamar masing masing.
Deg... Deg... Deg... Suara degup jantung Faris terdengar sangat keras. Ia belum pernah merasakan sesuatu yang membuatnya sesenang ini sebelumnya. Faris bahkan menyentuh bibirnya yang baru saja bersatu dengan bibir Vanes. Hal yang sama pun juga dirasakan oleh Vanes. jantungnya sama berdegup sangat kencang, wajahnya terasa memanas dan bibirnya masih terasa basah.
Seharusnya Ia marah karena Faris berani mencuri ciuman pertamanya namun kenapa rasanya Ia tak ingin marah dan malah merasa senang.
Vanes merasa aneh dengan dirinya. Yang Ia rasakan saat ini hanyalah perasaan bahagia dan rasa ingin melakukannya lagi lebih lama dengan Faris.
Benar benar gila pikir Vanes.
Sementara dibawah, Rizal baru saja masuk kerumah. Sudah sepi tidak ada siapapun disana.
Rizal tidak langsung naik ke atas melainkan ke taman belakang untuk melihat apakah Vanes dan Faris ada disana karena biasanya mereka disana namun ternyata mereka tidak ada.
"Tuan mencari siapa?" suara Bik Sri mengejutkan Rizal.
"Rumah sepi aku pikir mereka nongkrong ditaman belakang."
"Non Vanes dan Mas Faris sudah masuk ke kamar mereka Tuan."
Rizal berohh ria, "Mereka langsung masuk kamar setelah makan malam?" tanya Rizal.
Bik Sri tampak diam cukup lama tidak segera menjawab ucapan Rizal.
"Mereka baru saja masuk kamar?" tanya Rizal menjadi semakin penasaran karena Bik Sri hanya diam.
"Tidak Tuan, Nona dan Mas Faris sudah masuk ke kamar setelah makan malam."
Bik Sri berbohong.
Bersambung....