TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
175


Vanes dan Faris menghabiskan liburan dengan menonton film dirumah karena keduanya sedang malas untuk keluar apalagi Vanes tengah hamil muda. Keduanya masih sangat berhati hati untuk menjaga kandungan Vanes termasuk Faris yang semakin protektif, tidak ingin membuat Vanes kelelahan.


"Mau kemana?" tanya Faris saat Vanes beranjak dari duduknya.


"Ambil air mas, haus."


Faris berdecak lalu menahan lengan Vanes agar tidak pergi dan kembali duduk, "Biar aku yang ambilin." ucap Faris beranjak dari duduknya lalu pergi ke dapur untuk mengambil air putih.


Tak menunggu lama, Faris datang dengan membawa segelas air putih untuk Vanes.


"Makasih mas." ucap Vanes menerima segelas air dari Faris.


"Kalau mau apa apa itu bilang, jangan ambil sendiri, jangan sampai kamu kelelahan." kata Faris membuat Vanes tersenyum geli.


"Cuma ambil minum mas, nggak butuh tenaga yang bikin capek."


"Nggak mau tahu, pokoknya aku nggak mau kamu kelelahan!" tegas Faris.


"Iya deh iya." kata Vanes lalu mengelusi perutnya, "Kamu denger nggak sayang, Ayah kamu super protektif sama Ibu." ucap Vanes sambil tersenyum geli.


"Kamu nggak ada pengen makan apa gitu yank?" Tanya Faris setelah beberapa menit berlalu.


"Nggak ada mas, kamu nungguin aku ngidam ya?" Vanes kembali tersenyum geli.


Faris menggelengkan kepalanya, "Enggak sih, kok aku rasanya pengen nyobain makan seblak ya padahal sebelumnya aku belum pernah makan seblak sama sekali."


Vanes menatap Faris tak percaya, "Beneran mas belum pernah makan seblak sama sekali?"


Faris mengangguk, "Penasaran gimana rasanya."


Vanes kembali beranjak dari duduknya, "Aku bikinin seblak buat mas, kalau cuma seblak mah aku juga bisa." ucap Vanes.


Faris menggelengkan kepalanya lalu menahan lengan Vanes dan memintanya kembali duduk, "Dibilang jangan banyak aktifitas, kita beli aja seblaknya lewat aplikasi sayang." kata Faris.


Vanes berdecak, "Kalau aku nggak boleh buatin seblaknya, mas minta dibikinin sama Bik Sri soalnya Bik Sri kalau bikin seblak rasanya mantul."


"Oke deh, aku bilang sama Bik Sri dulu." ucap Faris lalu beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur.


"Mau ambil minum lagi Den?" tanya Bik Sri melihat Faris kembali ke dapur.


"Enggak Bik, mau minta tolong bikinin seblak bisa?" pinta Faris dengan sopan.


Bik Sri tertawa, "Bisa lah Den, apa Non Vanes ngidam minta seblak ya Den?"


Faris menggelengkan kepalanya, "Enggak kok bik, aku yang ngidam nih pengen banget nyobain seblak." akui Faris.


Bik Sri tampak senang mendengar Faris yang ngidam. Ia pun mulai membuatkan seblak untuk Faris.


"Tunggu aja di atas Den, nanti saya antar ke sana." pinta Bik Sri.


Faris menggelengkan kepalanya, "Enggak Bik, mau disini aja biar tahu resepnya apa."


Bik Sri kembali tertawa lalu mengangguk membiarkan Faris menemaninya masak seblak.


Dan tak butuh waktu lama, semangkuk seblak sudah siap dinikmati.


Dengan senyum mengembang, Faris membawa seblak buatan Bik Sri ke ruang keluarga dimana Vanes masih duduk disana menonton televisi.


"Bau nya enak mas." puji Vanes.


"Yuk dimakan bareng." ajak Faris.


Vanes mengangguk, sudah lama Ia tak makan seblak buatan Bik Sri.


Vanes membiarkan Faris mencoba lebih dulu, "Enak." puji Faris mulai menyuapkan untuk Vanes namun hal yang terduga kembali terjadi saat Vanes menerima suapan dari Faris, mendadak perutnya mual ingin muntah.


Vanes berlari ke kamar mandi, lalu memuntahkan isi perutnya diwastafel. Hal itu membuat Faris panik dan mengejar istrinya.


Faris menepuk nepuk bahu Vanes, membantu Vanes agar perutnya terasa lega.


"Katanya doyan tapi kok malah muntah sih sayang?"


Vanes menggelengkan kepalanya, "Aku juga nggak tahu mas, biasanya nggak apa apa."


"Mungkin efek hamil, yang disukai jadi nggak suka, kata Bik Sri gitu."


Setelah merasa lega, Faris memapah Vanes agar kembali duduk.


"Mas habisin sendiri aja seblaknya." pinta Vanes.


"Iya deh tapi aku mau ke dapur aja biar kamu nggak pengen." ucap Faris membawa mangkuk seblak ke dapur.


Kini Faris sudah duduk dimeja makan untuk menikmati seblaknya.


"Lho kok makan disini Den?" tanya Bik Sri saat melihat Faris kembali ke dapur.


"Takut bikin Vanes pengen Bik kalau makan disana."


Bik Sri menatap Faris heran, "Non Vanes kan juga suka sama seblak Den."


"Tadi ngicipin dikit malah muntah Bik." adu Faris.


Bik Sri tersenyum, "Efek hamil memang gitu Den."


"Kasihan ya Bik, hamil malah tersiksa." curhat Faris.


"Sudah resiko Den tapi nanti kalau baby nya sudah keluar, kebayar sudah segala rasa nggak enak saat hamil." ungkap Bik Sri mengingat kenangannya dulu saat hamil putranya.


Faris menghela nafas panjang, seberat ini menjadi wanita hamil namun masih banyak diluar sana yang menyianyiakan istri hanya demi kesenangan pribadi.


Faris berharap Ia bisa menjadi suami dan Ayah yang baik untuk keluarganya, Ia tak ingin menyianyiakan Vanes yang sudah berjuang mengandung calon anaknya.


Selesai makan, Faris kembali menghampiri Vanes dimana istrinya itu tengah terlelap di sofa. Faris tersenyum, kembali duduk disamping Vanes lalu menatap wajah ayu Vanes. Faris kembali tersenyum dan mengelus kepala Vanes tak lupa mencium kening Vanes.


Faris mengendong tubuh Vanes, membawanya ke kamar, membaringkan diranjang.


"Kok malah bangun." ucap Faris tertawa saat melihat Vanes terbangun setelah Faris berhasil membaringkan Vanes diranjang.


"Aduh kenapa digendong mas, aku pasti berat ya mas?" tanya Vanes dengan wajah khawatir.


Faris tertawa, "Berat banget, aku sampai ngos ngosan."


Vanes memukul lengan Faris, "Ih mas, jangan gendong aku lagi!"


Faris semakin terbahak lalu memeluk istrinya, "Mau kayak gimanapun kamu, aku tetep sayang dan selalu berusaha jadi suami yang baik buat kamu." kata Faris yang sontak membuat bibir Vanes tersenyum lebar.


Sementara itu dikampung halaman Faris.


Setelah melewati perjalanan dengan motor hampir 4 jam, akhirnya Rani dan Dylan sampai juga dirumah Rani.


"Ibu mana?" tanya Rani pada Rara adiknya.


Rara adik Rani yang sudah kelas 4 sd tampak senang melihat Rani pulang, "Mbak kok nggak bilang kalau mau pulang?"


"Iya dadakan."


"Itu siapa?" tanya Rara melihat Dylan.


"Itu temennya mbak Rani." balas Rani lalu menganjak Dylan masuk kerumah.


"Rumahnya sederhana nggak mewah." kata Rani pada Dylan.


Dylan tersenyum lalu mengelus kepala Rani, "Kan sama kayak punyaku sayang." balas Dylan yang langsung diangguki oleh Rani.


Saat keduanya akan masuk kerumah, suara Siti Ibu Rani terdengar, "Rani.. Kamu pulang?"


Rani dan Dylan berbalik untuk melihat ke arah Siti yang tengah mengendong Raka. Adik Rani yang paling kecil.


Rani segera mencium punggung tangan Siti diikuti oleh Dylan.


"Ini siapa?"


"Saya Dylan, temannya Rani." Dylan memperkenalkan diri.


Seketika raut wajah Siti berubah.


Bersambung....