
Sara akhirnya bisa makan dengan tenang dan damai setelah mengambilkan nasi serta lauk untuk Arga.
Tak ada lagi suara Arga yang menganggu telinganya karena pria itu terlihat fokus menikmati makanannya.
"Gimana sama perusahaan Papa kamu Ga?" tanya Wira memulai pembicaraan.
"Aman Om... Sekarang mau semangat kerja dulu cari modal buat nikah." kata Arga yang seketika membuat Sara tersedak.
"Pelan pelan dong, aku nggak akan minta makanan kamu cuma mau minta hati kamu aja." celetuk Arga membuat semua orang tertawa dan mulai meledek Sara.
"Hati sekeras apapun kalau digombalin lama lama bakal luluh juga." tambah Vanes.
"Asal jangan dihancurin aja!" ucap Sara terdengar tegas membuat semua orang akhirnya diam dan kembali menikmati makanan mereka.
"Kalau udah selesai, Om mau ngomong sama kamu." ajak Wira pada Arga.
"Siap Om, mau ngomong dimana?"
"Kalian mau ngomongin aku?" Tanya Sara menatap ke arah Wira dan Arga bergantian.
"Mau ngomongin masalah kerjaan tapi kalau kamu mau ikut hayuk nggak apa apa." ajak Wira yang langsung digelenggi oleh Sara.
"Mau mandi trus istirahat."
"Aku nggak diajak?" Arga menatap Sara nakal dengan senyuman khasnya.
Mata Sara langsung melotot menatap Arga, "Dasar gila!" omel Sara langsung pergi meninggalkan meja makan.
"Yang sabar Ga, anaknya emang rada sensitif." ucap Vanes pada Arga.
"Tenang aja mbak, aman lah." Arga mengacungkan jempolnya ke arah Vanes.
"Kita ngobrolnya ditaman belakang aja Ga." ajak Wira yang langsung diangguki oleh Arga.
Wira mengajak Arga duduk di gazebo yang ada ditaman belakang, "Emang mau nanyain masalah kerjaan Om?" tanya Arga memastikan.
Wira tersenyum, "Enggak, bukan itu. Mau ngajak kamu ngomongin masalah Sara."
Arga tersenyum mendengar jawaban Wira, seolah Ia sangat bersemangat membicarakan tentang Sara.
"Hayuk Om kita mulai aja." ucap Arga tak sabar.
"Om cuma mau bilang kamu yang sabar ya ngadepin Sara." ucap Wira yang langsung diangguki oleh Arga, "Saat ini mungkin dia sedang sangat terluka jadi memang agak sulit membujuk Sara buat membuka lembaran baru lagi, Apa kamu bakal sabar Arga?"
Arga tersenyum, "Om nggak usah khawatir, saya serius sama Sara dan Saya berusaha sekuat tenaga agar Sara mau membuka hatinya untuk Saya."
Wira ikut tersenyum lalu menepuk bahu Arga, "Om percaya sama kamu hanya saja Om penasaran kapan kalian ketemu dan apa yang membuat kamu tertarik sama Sara?'' tanya Wira penasaran meskipun Wira sudah tahu perasaan Arga untuk Sara sangat jujur. Wira melihat dari cara Arga menatap Sara, sorot matanya penuh ketulusan.
"Ketemunya sih pas di bioskop Om. Nggak tau deh denger suara Sara rasanya jadi pengen ngemilikin." balas Arga sedikit cengegesan.
Wira tertawa, "Suaranya galak dan judesnya itu ya yang bikin kamu suka?"
Arga menggelengkan kepalanya, suara ******* Sara yang membuat Arga jatuh cinta pada pendengaran pertama namun Ia tak mungkin mengatakan itu pada Wira, bisa bisa Ia kena damprat jika mengatakan itu pada Wira.
"Ya gitu deh Om... Saya bakal ngejar Sara sampai perasaan saya bisa hilang sendiri om."
Wira kembali menepuk bahu Arga, "Dulu sewaktu sama mantan suaminya juga gitu, awalnya Sara nggak mau, judes dan di galakin trus tapi semakin lama Sara bisa bersikap baik bahkan sangat baik." ungkap Wira yang sempat bangga dengan Ken karena berhasil membuat Sara luluh.
"Kalau boleh nanya, saya sama manta suaminya Sara gantengan siapa yang om?" tanya Arga seketikan membuat Wira tertawa hingga terbahak.
"Serius om... Malah ketawa." ucap Arga sambil berdecak. Arga bukannya tak tahu, Arga sudah pernah bertemu dengan mantan suami Sara saat menjemput Sara, Ia hanya ingin memastikan jika posisinya aman untuk memperjuangkan Sara.
"Masih ganteng kamu, tenang."
Arga tersenyum lebar, "Bener nih om? Serius?"
Arga bersorak senang, "Yes, kalau gini bakal cepet move on dong calon istri gue." gumam Arga yang lagi lagi membuat Wira terbahak.
Sementara itu selesai mandi, Sara turun ke bawah untuk mengambil air minum sambil melihat apakah Arga dan Wira sudah selesai bicara atau belum.
"Kemana Sar?" tanya Faris yang terlihat memotong buah didapur ditemani oleh Vanes yang duduk disamping Faris.
"Ambil minum!" balas Sara acuh mengambil air mineral yang ada di kulkas.
"Ambil minum apa mau mastiin Ayank udah pulang apa belum..." goda Faris yang disusul tawa renyah Vanes.
"Gila kalian ini, Arga bukan Ayank aku. Kita cuma temen bisnis, nggak bakal jadi Ayank!" omel Sara kembali kesal mendengar godaan Faris.
"Ohh jadi gitu?" Suara Arga terdengar dari pintu belakang membuat Sara terkejut.
Sara menatap ke arah suara dimana Arga berdiri dengan raut wajah tak terbaca. Entah mengapa Sara merasa bersalah mengucapkan hal seperti itu.
"Pulang dulu ya mas... Mbak..." pamit Arga pada Faris dan Vanes tanpa melihat ke arah Sara yang masih mematung ditempatnya.
Arga melewati Sara begitu saja tanpa mengatakan apapun dan Sara bisa melihat raut wajah Arga berubah kecewa.
"Kejar Sar... Kejar!" pinta Vanes.
Sara masih mematung, diam tanpa mengatakan apapun sebelum akhirnya Ia membalas Vanes, "Ogah." ucap Sara lalu pergi dari dapur.
"Mas sih pake godain Sara." Vanes menyalahkan Faris.
"Ya maaf, aku kan nggak tahu kalau ada Arga disana." kata Faris merasa menyesal.
"Duh kira kira si Arga nyerah nggak ya ngejar cintanya Sara?" gumam Vanes.
"Nggak akan, Sara pasti bakal di bikin klepek klepek sama Arga." ucap Wira yang baru saja masuk dan mendengar ucapan Vanes.
"Tapi tadi Arga kayak kecewa sama Sara Pa." adu Vanes.
Wira tertawa, "Itu anak memang pinter akting, kalian jangan sampai tertipu."
Vanes dan Faris merasa lega mendengar ucapan Wira, sebelumnya mereka merasa bersalah, takut jika Arga akan menyerah mengejar cinta Sara.
"Bikin apa?" tanya Wira melihat Faris masih sibuk memotong buah.
"Bikin salad buah buat cemilan bumil besok siang Pa.." balas Faris.
"Kenapa nggak minta di bikinin Bik Sri?" heran Wira.
"Katanya biar debay nya ngerasain masakan Ayahnya Pa." balas Vanes sambil tersenyum geli.
Wira menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. Di hari tuanya Ia merasa bahagia dan lega melihat Vanes memiliki suami yang sangat baik.
"Ya sudah Papa mau istirahat ke kamar." pamit Wira meninggalkan Vanes dan Faris.
Dikamar atas, Sara mengintip Arga dari balkon kamarnya. Terlihat jika Arga belum masuk ke dalam mobilnya. Pria itu nampak masih berdiri disamping mobilnya sambil memainkan ponselnya.
"Ngapain sih tuh orang?" batin Sara masih mengintip Arga.
Sara melihat Arga seperti sedang mengirim pesan namun Sara tak tahu siapa yang sedang dihubungi oleh Arga. Sara hanya melihat Arga sempat tersenyum sebelum akhirnya memasuki mobilnya.
"Dasar playboy!" omel Sara lalu masuk ke dalam kamar.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komenn