
Faris keluar dari kamar Rani dan kembali turun ke bawah dimana semua orang menunggunya untuk sarapan bersama.
"Kita sarapan dulu saja, jika menunggu Rani bisa terlambat ke kantor." ucap Faris lalu duduk dikursinya.
"Rani baru bangun?" tanya Vanes yang langsung diangguki oleh Faris.
"Kesiangan sayang."
"Gila, gue juga masih ngantuk banget." keluh Sara dimana terlihat ada lingkaran hitam dikedua matanya.
"Pulang jam berapa Sar?" tanya Vanes.
"Jam 11 baru sampai rumah, Papa nungguin dia pulang." Wira menjawab pertanyaan Vanes.
"Puas banget ya jalan sama Ayank seharian." goda Faris.
"Nggak usah mulai deh mas, bikin mood jelek aja." omel Sara membuat semua orang tertawa geli.
"Pagi semuanya..." suara Arga terdengar membuat semua orang langsung menatap ke arahnya. "Asyik banget kayaknya." celetuk Arga ikut bergabung duduk disana.
"Ikut sarapan sekalian." tawar Wira.
"Oh makasih banyak Om tapi skip dulu deh habis sarapan sama Ayah." tolak Arga.
"Nyusu dulu deh kalau gitu." tawar Faris.
Arga menyunggingkan senyum tengilnya, "Nyusu yang mana nih?"
Sara yang sedari tadi diam kini akhirnya melotot mendengar ucapan Arga namun entah mengapa Ia tak ingin mengomeli Arga seperti biasa.
"Tumben Sar cuma diem aja, biasanya kalau Arga datang kamu pasti udah sewot?" tanya Vanes yang ternyata sudah memperhatikan Sara sedari tadi.
"Lagi nggak mood!" balas Sara acuh.
"Bukan nggak mood mbak, mungkin Sara sekarang udah jatuh cinta sama aku jadi nggak mau ngomelin aku lagi." ucap Arga penuh percaya diri.
"Dasar narsistik!" ketus Sara.
Selesai sarapan, Faris dan Vanes berangkat lebih dulu bergantian dengan Arga dan Sara yang juga sudah beranjak dari duduknya.
Sampai diluar rumah, Sara melihat ada Dylan yang duduk diatas motor, menunggu Rani.
"Rani lagi sarapan, masuk gih ikut sarapan." ucap Sara pada Dylan.
"Nggak usah deh, aku nunggu disini aja." tolak Dylan dengan sopan.
"Ya sudah, aku berangkat duluan ya." pamit Sara lalu memasuki mobil Arga dimana pria itu sudah masuk lebih dulu.
"Naksir sama si Dylan?" tanya Arga lalu melajukan mobilnya.
"Nggak doyan sama laki orang."
"Serius? Kalau sama aku gimana?" tanya Arga dengan nada menggoda.
Sara berdecak, tak menanggapi godaan Arga.
"Kalau diem artinya mau." ucap Arga penuh percaya diri.
"Bukannya kalau diem itu males ya?"
"Kamu males sama aku?" Arga mulai berdrama.
"Nggak usah banyak drama deh!" ucap Sara dan Arga hanya tertawa.
keduanya diam beberapa saat, sebelum akhirnya Sara kembali berbicara, "Semalam kamu ke club?"
Arga menggelengkan kepalanya, "Kan aku udah bilang kalau kesana sama kamu."
Sara berohh ria.
"Kamu mau kesana?"
Sara menggelengkan kepalanya, Ia tak mau minum lagi karena jika Ia mabuk hanya akan membuat Sara ingat dengan Ken.
Mobil berhenti didepan kantor Sara, Arga membantu Sara melepaskan seatbeltnya lalu membiarkan Sara keluar dari mobil tanpa sepatah katapun.
"Sedikit lagi Arga, sedikit lagi." gumam Arga tersenyum senang lalu kembali melajukan mobilnya meninggalkan kantor Sara.
Sesampainya dikantor, Arga sudah disambut dengan senyuman manis Zildan.
"Zil buat hari ini aku mau pulang awal." pinta Arga mengingat Ia nanti malam ada rencana pergi dengan Sara.
"Kenapa Tuan? Padahal malam ini kita ada pertemuan dengan pihak-"
"Batalkan!" belum selesai berbicara, Arga sudah memotong ucapan Zildan.
"Tapi Tuan..."
"Zil..." Arga menatap Zildan agar pria itu tak lagi protes dengan apa yang Ia minta.
"Baiklah Tuan, saya akan memundurkan jadwal pertemuannya." ucap Zil yang akhirnya membuat Arga tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
"Kencan dong, anak muda gitu." pamer Arga.
Zil malah tertawa,
"Kenapa tertawa? Memang ada yang lucu?"
Zil mengangguk, "Tuan sudah bukan lagi anak sekolah, kenapa tidak langsung menikah saja?"
Arga berdecak, "Kau ini bodoh atau bagaimana Zil? Bagaimana aku akan menikah jika tidak berkencan dulu."
"Saya pikir Tuan tidak menyukai wanita." celetuk Zil lagi.
"Zil, aku akan berbicara jujur padamu, sebenarnya aku tidak menyukai wanita, aku kencan dengan wanita agar ayahku tidak tahu jika ternyata aku ini menyukai pria apalagi pria yang tampan sepertimu," ungkap Arga yang membuat Zil terkejut.
"Sudah lama aku menatapmu, aku ingin-"
"Maafkan saya Tuan, saya harus memberi data untuk Sella." potong Zil lalu pergi meninggalkan ruangan Arga.
Arga tertawa melihat raut wajah takut Zil, Ia tak menyangka jika Zil menganggap ucapannya benar padahal Arga hanya menggoda Zil saja.
Arga fokus melanjutkan pekerjaan hingga jam makan siang tiba, Arga masuk ke dalam mobil melajukan mobilnya menuju kantor Sara.
Arga ingin mengajak Sara untuk makan siang.
"Bukankah nanti malam kita akan bertemu, kenapa sekarang masih mengajak ku makan siang keluar?" heran Sara.
Arga tersenyum, "Bahkan setelah ini kita akan bertemu lagi untuk membahas bisnis."
Sara menghela nafas panjang, "Itulah maksud ku, kenapa kau datang padahal nanti kita bertemu lagi." protes Sara.
"Rasanya aku ingin melihatmu, bersamamu setiap saat." ungkap Arga.
"Dasar perayu." omel Sara lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Arga.
Sara memasuki mobil lebih dulu dan barulah Arga menyusul masuk ke dalam mobil.
Arga tersenyum puas dan mulai melajukan mobilnya.
"Kau ingin makan siang apa?" tanya Arga.
"Apapun."
"Aku ingin makan di hotel." ucap Arga.
Mata Sara melotot menatap Arga, "Kau gila?"
"Gila? Kenapa bisa gila?" heran Arga.
"Aku tahu kau modus ingin mengajak ku ke hotel karena kau ingin..." Sara tak melanjutkan ucapannya.
"Ingin apa?"
"Tidak, lupakan saja!" ucap Sara lalu mengalihkan pandangan.
"Kau pasti sudah berpikiran buruk tentang ku, apa aku seburuk itu di mata mu?" tanya Arga.
"Tidak, bukan itu maksudku. Sudahlah lupakan saja." Sara merasa tak enak karena sudah salah menuduh Arga.
"Aku sudah terbiasa." balas Arga acuh.
"Kau marah?" tanya Sara.
"Tidak, kenapa harus marah." balas Arga lagi lagi terdengar acuh.
Arga menghentikan mobilnya didepan kedai mie ayam.
"Kau bilang ingin makan di hotel."
"Aku sudah tidak selera makan makanan hotel." ucap Arga lalu keluar dari mobilnya lebih dulu.
Sara menghela nafas panjang, Arga mudah tertawa namun juga mudah marah dan Sara menyadari jika Ia sendiri masih selalu berpikiran buruk tentang Arga.
Jika mengingat hal itu membuat Sara ragu akan keputusannya, apakah sudah benar jika Ia menerima Arga saat ini ataukah keputusannya itu salah.
"Apa yang kau pikirkan? Ayo keluar!" ajak Arga dari luar mobil.
Sara bergegas keluar dan Sara dibuat terkejut saat Arga tiba tiba mengenggam tangannya.
"Aku kesal padamu karena aku selalu menuduhku seperti itu dan kau harus tanggung jawab!" ucap Arga.
"Tanggung jawab apa?"
"Aku boleh mengenggam tanganmu hari ini." pinta Arga.
Sara tersenyum.
Bersambung ....
Jangan lupa like vote dan komen