
Ken memasuki mobil setelah mendapatkan obat Sara. Ia segera melajukan mobilnya untuk pulang kerumah karena tak ingin membuat Sara menunggu.
Diperjalanan, Ken tak sengaja melihat Alea yang sedang berjalan kaki sambil membawa kantong plastik.
Ken menghentikan mobilnya tepat disamping Alea lalu membuka kaca mobilnya, "Masuklah." pinta Ken yang langsung diangguki oleh Alea.
Setelah Alea masuk ke mobil, Ken memutar kemudinya, melajukan mobilnya menuju rumah kosong yang lumayan jauh dari rumah Wira.
"Tuan apa kita..." Alea tak melanjutkan ucapannya saat melihat Ken tersenyum nakal.
"Malam ini mungkin aku tidak bisa ke gudang jadi aku meminta sekarang saja." ucap Ken.
"Disitu Tuan?" Alea menunjuk ke arah rumah kosong yang terbengkalai dan sangat kotor.
"Tidak, Kemarilah..." Ken menarik lengan Alea, membawa gadis kecil itu agar duduk dipangkunya.
Ken mulai menyibak rok Alea, memotong ****** ***** Alea dengan gunting agar mudah melepaskan penganggu itu.
Ken memulai permainan panasnya, membuat mobil itu bergoyang jika dilihat dari luar.
Satu permainan tidak cukup untuk Ken. Ia membawa Alea pindah ke bangku belakang agar lebih mudah berganti gaya permaianan.
Tak terasa Hampir 1 jam lamanya dan Ken baru menghentikan permaianan nakalnya itu.
Setelah puas menikmati tubuh Alea, keduanya kembali ke bangku depan. Ken memberika 1 pack pil kontrasepsi pada Alea.
"Aku tidak bisa mengeluarkan diluar karena terlalu nikmat jadi minum itu agar kau tidak hamil." pinta Ken.
"Baiklah Tuan."
Ken melajukan mobilnya keluar dari rumah kosong itu lalu kembali menghentikan mobilnya saat akan sampai didekat rumah Wira.
"Turunlah disini, aku tidak mau semua orang curiga."
Alea mengangguk mengerti, "Baik Tuan."
"Ingat, jangan datang ke gudang malam ini karena aku tidak kesana." ucap Ken lagi yang kembali diangguki oleh Alea dan Alea pun segera keluar dari mobil Ken.
Ken kembali melajukan mobilnya menuju rumah. Ken bernafas lega saat melihat Vanes berada didepan rumah dan Ia tak membawa Alea bersamanya.
"Menunggu siapa?" tanya Ken.
"Alea... Tadi aku memintanya untuk belanja tapi sampai sekarang belum sampai rumah."
"Ohh, aku melihatnya berjalan disana, aku ingin mengajaknya masuk ke mobil tapi aku masih merasa sungkan." ucap Ken.
Vanes mengangguk mengerti, "Aku paham, alangkah baiknya memang harus menjaga jarak agar tidak ada fitnah diantara kalian."
"Ya aku pikir juga begitu, aku akan masuk lebih dulu, takut Sara menunggu." ucap Ken yang kembali diangguki oleh Vanes.
Beberapa menit setelah Ken masuk kerumah, Alea terlihat memasuki gerbang, "Nona..." ucap Alea sedikit gugup.
"Aku khawatir kau tersesat karena belum mengingat jalan dengan benar." kata Vanes.
"Saya memang sedikit bingung dengan jalannya Nona tapi akhirnya saya sampai dirumah tanpa tersesat, maaf jika lama Nona." ucap Alea dengan kepala menunduk, tak berani menatap Vanes.
"Tidak masalah Alea, sekarang kau sudah sampai rumah jadi jangan pikirkan apapun lagi." ucap Vanes yang langsung diangguki oleh Alea.
Vanes membiarkan Alea masuk lebih dulu, tanpa sadar Vanes melihat cara berjalan Alea yang sedikit aneh. Tidak seperti biasanya.
"Apa kau sakit?"
Alea menghentikan langkah kakinya lalu berbalik menatap Vanes, "Tidak Nona, saya baik baik saja."
"Kenapa jalan mu seperti itu."
Seketika Vanes melihat raut wajah gugup sekaligus takut dari wajah Alea.
"Aneh... Ada apa dengannya?" batin Vanes masih memandangi Alea.
Alea menghela nafas panjang saat melihat ke belakang, Vanes tidak mengikutinya dan tidak mempertanyakan apapun lagi padanya.
Permainan kasar Ken membuat milik Alea terasa nyeri dan jalannya terlihat aneh namun meski begitu Alea sangat menyukai permainan Ken.
Menurut Alea, Ken sangat macho dan lagi pria itu memberinya banyak uang setiap hari membuat Alea sangat senang melayani Ken meskipun Alea sadar jika yang Ia lakukan itu salah.
"Apa ini?" suara Bik Sri mengejutkan Alea apalagi saat melihat Bik Sri melihat pil kontrasepsi dari Ken.
Sial... Bodohnya Alea karena tak menyimpan pil itu dengan baik dan malah memasukan ke dalam kantong plastik belanjaan.
"Milik mu?" Bik Sri menatap Alea curiga.
"Bu bukan.... Aku tidak tahu apa itu. Aku menemukan itu dijalan lalu mengambilnya." ucap Alea tanpa berpikir karena Ia tak tahu harus menjawab apa, Ia merasa sudah ketahuan sekarang.
Bik Sri menggelengkan kepalanya, "Jangan diminum, obat ini bahaya untuk rahim mu. kau belum menikah dan memiliki anak, jika minum obat ini bisa bisa rahim mu rusak." ucap Bik Sri sudah tahu obat yang dibawa Alea dan langsung membuang ke tempat sampah.
"Aku tidak tahu ada obat mengerikan seperti itu." ucap Alea dengan polosnya karena jujur ini kali pertamanya Alea diberikan obat seperti itu. Sebelumnya, orang orang yang menikmati tubuh Alea selalu bermain aman, tidak meminta Alea minum obat seperti itu.
"Ini obat penunda kehamilan, khusus untuk wanita yang baru saja melahirkan dan ingin menunda momongan, jika kau minum ini bisa bahaya." ucap Bik Sri mengingatkan.
"Terima kasih Bik, aku pikir itu vitamin."
"Jangan sekali kali minum obat seperti itu." Bik Sri mengingatkan yang akhirnya diangguki oleh Alea.
Setelah membantu Alea mengeluarkan barang belanjaan, Bik Sri segera pergi meninggalkan Alea.
Alea bernafas lega karena Ia tak ketahuan jika obat itu dari Ken.
Alea memandangi obat yang kini sudah berada ditempat sampah. Alea ingin mengambilnya namun takut jika Bik Sri akan curiga dan akhirnya Alea tak mengambil obatnya, membiarkan obat itu ditempat sampah.
"Apa benar jika minum obat itu rahimku bisa rusak?" gumam Alea sambil mengelusi perut ratanya.
Sementara itu dikamar Sara, Ken baru saja selesai mandi. Ia merasa segar dan bersih setelah menguyur keringat percintaannya dengan Alea.
Ken menghampiri Sara yang terbaring lemah menatap ke arahnya.
"Aku bosan berada disini." keluh Sara.
"Tapi kau masih harus bedrest sayang." ucap Ken mengelus kepala Sara lalu mencium keningnya.
"Baiklah, tidak ada pilihan lain." gerutu Sara membuat Ken tersenyum geli.
"Hari ini aku akan menemanimu sepanjang malam." ucap Ken kembali mengecup kening Sara.
"Apa tidak keluar merokok?"
Ken menggelengkan kepalanya, "Aku merasa bersalah harus meninggalkanmu setiap malam."
Sara tertawa, "Tidak apa apa mas, aku juga merasa kasihan denganmu jika harus menemaniku setiap saat, kau pasti akan bosan."
"Mana mungkin aku bosan, aku tidak akan bosan melihat wajah istriku yang cantik ini."
Sara tertawa, "Dasar perayu!"
Ken tersenyum, keduanya saling memandang satu sama lain hingga Ken yang lebih dulu memutuskan pandangan mata mereka.
"Bagaimana kabarnya Rani? Apa dia tidak pernah melaporkan pekerjaannya padamu?" tanya Sara yang seketika membuat Ken kesal.
Kesal karena Ken kembali mengingat Rani yang beberapa hari ini bahkan tidak Ia ingat setelah tergantikan dengan Alea.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaaa