TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
179


Sara menatap Arga kesal, bagaimana tidak kesal karena Arga berniat melakukan hal mesum padanya. Sara masih menyilangkan kedua tanganny, Ia ingin melindungi harta berharganya dari tangan mesum Arga.


"Aku hanya ingin memastikan kau berdegup sama sepertiku atau tidak, kenapa harus di tutup?" tanya Arga dengan wajah santai tanpa dosa.


"Dasar gila, kau ini mesum! Cepat lajukan mobilnya!" omel Sara namun Arga malah tertawa.


"Baiklah baiklah," ucap Arga kembali melajukan mobilnya.


Keduanya sama sama diam, sesekali Sara melirik ke arah Arga, melihat wajah Arga apakah kesal atau tidak karena Sara mengatakan Arga mesum namun dari raut wajah Arga tak terlihat pria itu sedang kesal.


"Apa ada yang salah dengan wajah tampanku?" Sindir Arga yang langsung membuat Sara terkejut dan berdehem lalu memalingkan wajahnya, menatap ke arah luar mobil.


"Aku tahu kau menatapku." ucap Arga lagi.


"Kau terlalu percaya diri." ketus Sara.


Arga tertawa, "Ya seperti itulah aku."


Keduanya kembali diam hingga Arga membelokan ke arah kafe.


"Untuk apa kita kesini?" tanya Sara.


"Belikan aku es americano."


Sara berdecak namun entah mengapa Ia menuruti permintaan Arga. Sara keluar dari mobil dan tak berapa lama Ia kembali dengan membawa 2 gelas es americano.


Arga menerima kopinya dengan raut wajah senang, "Kenapa kita tidak mencobanya?" tanya Arga setelah menyeruput es americano miliknya.


"Mencoba apa?"


"Menikah."


Sara kembali berdecak, "Pernikahan bukan lelucon."


Arga tersenyum, "Aku juga tidak menganggapnya begitu."


Sara menghela nafas panjang, "Nanti malam kau akan datang ke club, untuk apa kau kesana?"


Arga tersenyum nakal, "Apa kau cemburu jika aku menggoda gadis gadis yang ada disana?"


Sara menggelengkan kepalanya, "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin memastikan jika memilih pria yang tepat untuk jadi suamiku."


Arga tersenyum kecut, "Aku kesana hanya untuk minum, aku tidak tertarik dengan gadis club."


"Kenapa?"


Arga mendekatkan wajahnya ke arah Sara hingga membuat gadis itu terkejut, "Apa yang kau lakukan?" tanya Sara merasa jika Arga akan menciumnya.


Arga tersenyum, kembali memundurkan wajahnya, "Karena gadis diclub sudah tidak perawan."


Deg... Entah mengapa dada Sara terasa sesak mendengar ucapan Arga.


"Bukankah aku juga sudah tidak perawan?"


"Kau pengecualian."


Sara berdecak, "Aku jadi ragu, lebih baik pikirkan lagi tentang lamaranmu padaku. Aku tidak mau jadi janda 2 kali!"


Arga kembali tersenyum, "Aku juga tidak mau menjadi duda, kau pikir aku mau jadi duda?" tanya Arga membuat Sara menghela nafas panjang.


"Pikirkan lagi, kita harus mencobanya untuk menikah. Aku benar benar ingin menikah denganmu." ucap Arga lagi.


"Aku hanya masih takut." lirih Sara.


Arga menghela nafas panjang, "Aku akan menunggumu."


"Terserah." balas Sara acuh.


Arga tersenyum kecut lalu kembali melajukan mobilnya pulang kerumahnya namun saat sudah sampai didepan gerbang Arga malah membelokan mobilnya kembali ke jalan.


"Aku lupa."


"Lupa apa? Kau mau kemana?" protes Sara.


"Apa aku boleh pinjam mobilmu?" tanya Arga tak menjawab ucapan Sara.


"Kau ini kemana?" Sara mulai kesal karena merasa jika Arga hanya modus.


"Aku harus ke suatu tempat tapi sebelum itu kita harus pergi ke swalayan." ucap Arga.


Sara terheran heran dengan sikap Arga. Ia benar benar tak tahu kemana tujuan Arga.


Sara akhirnya diam dan menurut hingga mobil yang dilajukan Arga berhenti disebuah swalayan.


Cukup lama Arga di swalayan hingga pria itu keluar membawa banyak belanjaan di troli swalayan. Ada sekarung beras, 2 kardus mie instan dan kebutuhan pokok lainnya.


Sara akhirnya keluar untuk melihat Arga memasukan barang belanjaan di bagasi mobil.


"Apa kau membeli ini untuk ku?" tanya Sara.


"Tentu saja tidak."


"Lalu untuk apa?"


"Kau akan tahu nanti." ucap Arga menghembuskan nafas lega setelah semua barang ditroli masuk ke bagasi mobil.


Arga mengajak Sara kembali ke mobil, Ia pun segera melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


"Sebenarnya kau ini mau kemana?" Sara bertanya sekali lagi karena Ia benar benar penasaran.


Arga hanya diam, tak merespon ucapan Sara dan malah fokus menyetir.


1 jam perjalanan, mobil Arga berhenti ditempat terpencil jauh dari kota dimana ada panti asuhan disana.


"Kau..." ucap Sara seolah tak percaya jika Arga akan mengajaknya ke panti asuhan.


"Kau ingin mencari muka padaku agar aku menganggapmu baik?" tuduh Sara.


Arga berdecak, lagi lagi tak merespon ucapan Sara dan keluar dari mobil.


Anak anak kecil yang tinggal dipanti terlihat senang saat Arga datang dan langsung mengerubungi Arga.


Melihat banyak anak kecil, Sara keluar dari mobil dan menghampiri Arga.


"Kirain Mas Arga nggak kesini, biasanya Mas Arga kesini pagi pagi." ucap salah satu anak yang langsung membuat Sara terkejut, tak menyangka jika ternyata Arga sering kemari. Seketikan Sara merasa bersalah karena sudah menuduh Arga seenaknya.


"Maaf, Mas lupa kalau ini tanggal 15." balas Arga.


"Mas itu siapa?" salah satu gadis kecil menunjuk ke arah Sara.


"Ohh ini mbak Sara. Calon istri mas Arga."


"Wah..."


"Cie cie..."


"Mas Arga mau nikah." sorakan anak anak membuat Sara tersenyum malu.


"Arga benar benar." batin Sara.


"Yok bantuin Mas ambil barang dibagasi." ajak Arga dan semua anak anak dengan girangnya mendekati bagasi mobil Arga.


Mereka membantu Arga membawa barang belanjaan.


Sara melihat satu persatu anak panti lalu beralih menatap Arga yang sibuk membawa barang bawaan sambil sesekali mengajak Anak anak bercanda.


Sara benar benar tak menyangka, dibalik sifat menyebalkan Arga, ternyata pria itu sangat penyayang dan dermawan.


Tampak seorang wanita paruh baya keluar, tersenyum ke arah Arga dimana Arga langsung mencium punggung tangan Wanita itu.


"Tumben kesini siang begini." ucap wanita itu.


"Tadi hampir lupa kalau ini tanggal 15." ungkap Arga.


Wanita itu tersenyum, "Terima kasih Nak Arga karena masih mau memikirkan anak anak."


"Sudah jangan dibahas lagi Bu, Arga kesini sekalian mau kenalin Ibu sama calon istri." ucap Arga lalu menunjuk ke arah Sara yang tengah bermain dengan anak anak.


"Sara..." panggil Arga pada Sara.


Sara menatap ke arah Arga lalu berjalan mendekat, "Ini Ibu Narsih pemilik panti." ucap Arga memperkenalkan pada Sara.


Sara segera mencium punggung tangan Bu Narsih.


"Cantik sekali kamu nduk," puji Narsih yang hanya membuat Sara tersenyum.


"Cantik dong bu, calon istri aku." pamer Arga.


Sara hanya menghela nafas panjang karena Ia sudah lelah protes dengan Arga yang selalu mengatakan jika dirinya calon istri Arga padahal Sara belum memberi jawaban pada Arga.


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komen yaaa