
Sara menatap mata Ken dan Ia bisa melihat jika pria itu benar benar menyesal meski begitu, pengkhianat tetap saja tidak bisa dimaafkan. Sara tidak bisa mentolerir pengkhianatan jadi dia akan tetap menceraikan Ken dan tak akan kembali pada Ken apalagi memberi kesempatan, Sara tidak akan melakukan itu.
"Jika kau memberi kesempatan aku akan berubah lebih baik lagi untukmu." kata Ken sangat berharap.
Sara menggelengkan kepalanya, "Maaf Ken tapi aku sudah tidak bisa, aku harap kau menemukan wanita baik diluar sana dan aku akan mendukungmu bersama siapapun termasuk Alea."
Mendengar nama Alea membuat Ken kembali geram, "Aku tidak menyukai gadis itu, aku melakukan itu karena tidak bisa menahan diri setelah kau menolak ku malam itu. Maafkan aku. Aku benar benar menyesal Sara."
"Sudah terlambat Ken. Aku memaafkan mu tapi tidak untuk kembali."
"Sara... Aku mohon." pinta Ken dengan tatapan sendu.
"Aku minta maaf Ken, aku benar benar tidak bisa."
Ken menghela nafas panjang, tanpa mengatakan apapun lagi Ken menyeret kopernya dan segera pergi meninggalkan kamar Sara.
"Aku mencintaimu Ken tapi mungkin ini yang terbaik." gumam Sara menatap pintu kamarnya yang kembali tertutup setelah Ken keluar.
Diluar, Ken membawa kopernya turun ke bawah. Sebelum pergi, Ken menemui Wira terlebih dulu untuk berpamitan.
"Kau akan pergi sekarang?" tanya Wira terkejut melihat Ken membawa koper.
"Benar Tuan, saya merasa sudah tidak pantas berada disini, saya sudah menyakiti Sara."
Wira menghela nafas panjang, "Sulit memberi kesempatan untuk seorang pengkhianat, kau paham itu kan?"
Ken mengangguk, "Saya mengerti Tuan. Saya juga ingin minta maaf pada Tuan karena telah menyakiti putri Tuan."
Wira tersenyum, "Jika aku sehat mungkin aku akan menghajarmu saat ini, sayang sekali..."
Ken menunduk malu, "Sekali lagi saya minta maaf Tuan."
Wira mengangguk, "Sudahlah meskipun aku kecewa namun semua telah terjadi dan sekarang apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"Saya ingin menenangkan diri dengan pergi sejauh mungkin dari sini Tuan."
Wira kembali mengangguk, "Aku tidak bisa memaksa apapun yang sudah menjadi keputusanmu tapi selesaikan urusan kantormu sebelum kau pergi!"
"Baik Tuan."
Ken kembali menarik kopernya keluar dari kamar Wira setelah cukup berbincang dengan Wira.
Saat akan berjalan keluar, suara Vanes terdengar memanggilnya.
"Ken..."
Ken berbalik, tersenyum ke arah Vanes namun Vanes tidak membalas senyuman Ken, "Kau pergi sekarang?"
Ken mengangguk.
"Bagus tapi sepertinya kau melupakan sesuatu." ucap Vanes membuat Ken mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Aleaaaa..." Vanes berteriak memanggil Alea dan tak berapa lama gadis itu datang menghampiri Vanes sambil membawa tas jinjing.
"Seharusnya kau bawa dia pergi bersamamu juga." pinta Vanes.
"Kenapa saya harus membawa dia ikut bersama saya?" Ken tampak kesal dan tak terima.
"Karena dia selingkuhanmu, bawa dia bersamamu. Aku tidak ingin ada pengkhianat dirumah ini lagi!"
"Saya tidak mau."
Vanes menatap Ken tak percaya, "Kau gila Ken? Bagaimana bisa kau mengatakan itu! Bagaimana jika dia hamil, siapa yang akan bertanggung jawab?" Vanes terdengar emosi.
"Saya sudah membayarnya, jika sampai dia hamil itu bukan urusan saya!" ucap Ken dengan berani.
"Kau benar benar gila!" Vanes menggelengkan kepalanya, tak menyangka sikap buruk Ken seperti itu.
Meskipun Ken menolak, Alea tampak tak menyerah. Ia mendekati Ken lalu berlutut didepan Ken, "Saya mohon Tuan, bawa saya bersama Tuan."
"Saya mohon Tuan bawa saya bersama Tuan." pinta Alea lagi dan kali ini sambil menangis.
Mendengar keributan diluar membuat Wira, Sara dan Bik Sri ikut melihat apa yang terjadi.
"Ada apa ini?" tanya Wira melihat Alea bersimpuh dilantai sambil memeluk kaki Ken dan menangis.
"Ken tidak mau membawa Alea bersamanya Pa...'' adu Vanes.
"Kenapa Ken harus membawa Alea?" Wira masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.
"Ken berselingkuh dengan Alea tentu saja Ia harus membawa bersamanya." protes Vanes.
Wira menghela nafas panjang lalu menatap ke arah Ken, "Jika kau mau aku memaafkan kesalahanmu, bawa dia bersama mu Ken."
Ken ingin kembali protes namun Ia sadar jika tidak bisa melakukan itu. Ken akhirnya menyerah, membiarkan Alea ikut bersamanya.
Ken keluar dari istana Wira bersama Alea, saat akan masuk ke mobil Ia melihat Rani pulang diantar oleh Dylan.
"Kemana kalian akan pergi?" tanya Rani merasa heran melihat Ken membawa koper dan ada Rani disampingnya.
Ken tidak menjawab dan langsung masuk mobil di ikuti oleh Alea.
"Ada apa dengannya?" gumam Rani merasa aneh dengan sikap Ken dan akhirnya memilih masuk ke dalam.
Rani berjalan memasuki rumah, melihat semua orang duduk diruang tengah, ada Wira, Sara dan juga Vanes yang tengah mengelusi punggung Sara.
"Apa yang terjadi?" tanya Rani penasaran.
"Ken berselingkuh dan Sara akan meminta cerai."
Rani terkejut mendengar ucapan Vanes, kini Ia paham kenapa Ken keluar rumah membawa koper.
"Berselingkuh dengan Alea?" tebak Rani yang langsung diangguki oleh Sara.
"Astaga apa yang dia pikirkan." gumam Rani.
Selama ini Rani merasa Ken menyukainya namun ternyata Ken malah berselingkuh dengan Alea. Jika seperti ini menandakan jika Ken adalah pria brengsek yang tidak cukup hanya dengan 1 wanita. Rani merasa bersyukur karena Ia terlepas dari jerat Ken yang sempat menggodanya.
"Aku turut prihatin Mbak Sara." ucap Rani.
Sara tersenyum, "Tidak apa apa, jangan merasa kasihan padaku."
Rani mengangguk Ia pun ikut duduk diruang tengah bersama semua orang.
Sementara itu Ken melajukan mobilnya tanpa tujuan. Awalnya sebelum membawa Alea, Ken akan pergi ke villa namun karena Alea bersamanya, Ken mengurungkan niatnya. Saat ini Ia sedang berpikir bagaimana membuang gadis sialan yang sudah merusak rumah tangganya itu.
"Kita akan kemana Tuan?" tanya Alea mulai resah.
"Kenapa? apa aku takut?"
Alea menggelengkan kepalanya, "Saya mohon jangan membuang Saya Tuan. Apa Tuan tega jika nanti saya hamil anak Tuan dan-"
"Tutup mulutmu! Kau pikir aku sudi memiliki anak dari rahim mu?"
"Tapi Tuan tetap harus bertanggung jawab!" Alea masih ngeyel.
"Jangan berharap banyak padaku Alea, kita akan menunggu 1 bulan dan jika kau hamil kau harus menggugurkan kandunganmu!"
Alea menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Ken, "Tidak Tuan, saya tidak akan membuang bayi saya."
Ken tersenyum sinis, "Jika kau tidak mau membunuh bayinya bagaimana kalau sebaiknya kau yang ku bunuh sekarang?"
Alea terkejut, Ia takut mendengar ancaman Ken.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komennnn