
Herman menatap sorot mata Arga dan nampak jelas sekali terlihat jika Arga sangat kecewa dengan status Sara yang tidak mungkin tidak seperti harapan Arga.
Arga terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Herman sendirian.
Herman menghela nafas panjang, Ia cukup tahu apa yang dirasakan oleh Arga namun Ia juga tidak akan memaksa apapun keputusan Arga.
Sementara itu dirumah Wira, Sara baru saja selesai mandi, Ia segera turun untuk makan malam sendirian karena semua orang yang ada dirumah sudah istirahat dikamar mereka masing masing.
Sara mengambil nasi dan lauk yang tersisa, Ia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Sendirian Non?" tanya Bik Sri yang ternyata belum tidur.
"Iya Bik, laper kalau nggak makan."
Bik Sri tersenyum, "Gimana kerjanya hari ini Non? Seneng?"
Sara mengangguk, "Lumayan lah dari pada galau dirumah."
Bik Sri kembali tersenyum, meskipun Bik Sri hanya pembantu dirumah Wira namun Ia ikut senang jika orang orang yang tinggal dirumah Wira diberi kebahagiaan dan kedamaian.
"Baru pulang?'' tanya Faris yang baru saja turun untuk mengambil air putih.
Sara hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan nasi.
"Pasti Den Faris mau ambil minum." tebak Bik Sri saat Faris mengambil gelas.
Faris tertawa, "Tau aja bik Sri mah."
Setelah mengambil segelas air putih, Faris duduk disamping Sara, "Tadi pulang sama siapa?"
"Naik taksi." bohong Sara.
Faris berdecak, "Nggak yakin."
Sara mengerutkan keningnya menatap Faris, "Kenapa nggak yakin?"
"Aku tahu kamu dijemput sama Anaknya Pak Herman."
Hampir saja Sara tersedak karena terkejut mendengar ucapan Sara, "Kok tahu?"
Faris tersenyum tipis, "Tadi pas dibawah ketemu sama dia, aku pikir kamu ada kerjaan sama dia tapi ternyata dia sengaja jemput kamu."
Sara berdecak kesal, "Dia memang menyebalkan!"
Faris tersenyum lalu beranjak dari duduknya, "Mungkin dia tertarik sama kamu." ucap Faris lalu pergi meninggalkan Sara.
Sara menatap punggung Faris, tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Faris.
"Gila, nggak mungkin lah.''
"Nggak ada yang nggak mungkin Non seperti kata pepatah, hilang satu tumbuh seribu." kata Bik Sri yang mendengar percakapan Sara dan Faris.
"Nggak secepet ini juga kali Bik."
"Lho kenapa enggak Non, orang Non Sara aja geulis pisan, udah pasti banyak yang naksir." kata Bik Sri yang sontak membuat Sara tertawa.
"Bik Sri bisa aja deh."
Dan Faris baru saja masuk ke kamar melihat Vanes asyik memainkan ponselnya.
"Kok nggak bilang kalau mau minum, kan aku bisa ambilin buat mas." ucap Vanes meletakan ponselnya dinakas.
"Takut ganggu kamu yang asyik chatan sama orang."
Vanes tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, Ia cukup tahu jika Faris masih marah perihal siang tadi bahkan sejak pulang kerja tadi Faris lebih banyak diam.
"Mana ada gangguin mas," ucap Vanes menghampiri Faris lalu memeluk pria itu, "Masih marah ya?" Vanes mendongak menatap Faris membuat pria itu tersenyum karena gemas melihat Vanes.
"Dah senyum, udah nggak marah nih?" goda Vanes
Faris berdecak, "Kesel sama kamu." ucap Faris mencubit hidung Vanes
"Maaf mas, kalau bukan karena tugas kampus aku juga nggak akan deket deket sama dia mas, aku juga bisa jaga diri kok." jelas Vanes tak mau Faris salah paham.
"Bener? Nggak bakal macem macem?"
"Percaya kok percaya, maaf juga deh." ucap Faris.
"Maaf kenapa juga mas, kan aku yang salah."
Faris tersenyum, "Aku juga salah kan udah nggak percaya sama istriku."
Keduanya sama sama tersenyum, menatap satu sama lain hingga bibir mereka menyatu menciptakan getaran getaran rasa ingin melakukan surga dunia.
"Mas..." panggil Vanes saat keduanya baru selesai bercinta.
"Ada apa sayang hmm?"
"Apa dikantor nggak ada yang berniat godain kamu?" tanya Vanes.
"Ya ada beberapa tapi aku nggak pernah respon." jawab Faris jujur karena dikantor memang ada beberapa karyawan yang mencoba menggodanya namun sekalipun Faris tidak merespon. Bagi Faris kesetiaan itu sebuah kewajiban dan tanggung jawab. Faris tidak mau merusak hubungan halalnya hanya karena satu wanita yang menarik matanya.
"Takut?" tanya Faris melihat sorot mata Vanes berbeda dari sebelumnya.
"Dulu pernah ngerasain sama Mas Rizal dan tahu gimana sakitnya." ucap Vanes.
"Dan aku nggak akan nglakuin itu sama kamu." Faris mengenggam tangan Vanes, menunjukan keseriusannya.
Vanes tersenyum, "Kalau sampai itu terjadi lagi aku nggak tahu mas bakal gimana rasanya."
Faris memeluk Vanes, "Nggak akan sayang, nggak akan pernah terjadi lagi, percaya sama aku." ucap Faris mengelus bahu Vanes.
"Sekarang, kenapa Sara juga harus mengalami hal yang sama Mas? Ngrasain sakit yang aku rasain dulu." ucap Vanes sedih.
Mendengar nama Sara membuat Faris mengingat Arga dan Ia pun menceritakan pada Vanes tentang Arga.
"Apa dia keliatan pria baik mas?"
Faris menggelengkan kepalanya, "Aku juga nggak tahu sayang."
"Tapi mungkin dia belum mengetahui status Sara."
Faris mengangguk, "Kalau dia cinta sama Sara, mau bagaimanapun status Sara pasti dia menerima keadaan Sara."
Vanes mengangguk setuju, "Benar mas, semoga saja Arga pria baik yang bisa menyembuhkan sakit Sara."
"Ya semoga saja."
Waktu berjalan, malam semakin larut. Vanes dan Faris sudah terlelap terbang ke alam mimpi.
Suasana rumah Wira hening dan sepi terlihat dari luar tidak ada aktifitas lagi bahkan semua lampu kamar juga sudah mati.
Didepan gerbang, ada seorang pengendara sepeda motor yang mematikan motornya tepat didepan gerbang rumah Wira. Mata pria itu menatap ke salah satu kamar yang tak lain adalah kamar Sara.
Pria itu mengambil sebatang rokok lalu menyalakan dan mulai menghisapnya perlahan. Matanya masih menatap ke arah kamar Sara.
"Bagaimana kabarmu? entah mengapa perasaan gila itu muncul. Aku tidak tahu kenapa harus datang kesini dan merindukan mu." gumam Pria itu yang tak lain adalah Ken.
"Apa mungkin ini karma?" Ken tersenyum hambar, "Setelah aku kehilanganmu, aku mulai mencintaimu! Gila! Brengsek!" umpat Ken lagi membuang rokoknya disembarang tempat. Mendadak Ia marah dengan dirinya sendiri.
Ken melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, tidak sampai 30 menit, Ia sudah sampai dirumahnya dimana ada Alea yang tinggal disana.
"Tuan pulang..." Alea menyambut kedatangan Ken dengan senang namun berbeda dengan Ken yang justru mencekik leher Alea hingga wajah gadis itu berubah ketakutan.
"Semua gara gara kau! Brengsek! Besok aku benar benar bercerai dengan istriku!"
"Tu Tuan... Lepaskan... Sakit." pinta Alea memohon membuat Ken melepaskan Alea karena tak ingin Alea mati.
"Tuan ada apa? Kenapa Tuan tiba tiba marah padahal semalam Tuan baik baik saja." kata Alea merasa bingung dengan perubahan sikap Ken.
"Tutup mulutmu!'' geram Ken.
Sebelum kerumah Wira, Ken mendapatkan pesan jika besok adalah sidang perceraiannya. Entah mengapa Ken merasa sedih, hancur juga merindukan Sara dan perasaan itu yang membuat Ken marah hingga harus melampiaskan pada seseorang dan Ken melampiaskan pada Alea.
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaaa