
Wang masih diam, entah mengapa pertanyaan Herman masuk ke dalam pikirannya. bahagia? Bahkan sudah lama Wang tidak pernah merasakan kebahagiaannya lagi.
Sejak istrinya di nyatakan mandul lalu kecelakaan yang membuat istrinya lumpuh hingga akhirnya membuat perasaan Wang semakin memudar karena Istrinya tak lagi cantik dan bisa membuatnya bangga didepan teman temannya lagi.
Istrinya kini sudah cacat, Ia mencari pelampiasan dengan mengencani Yesi yang tak hanya enak dipandang mata namun juga mampu memuaskan kebutuhan biologisnya meskipun Ia harus mengeluarkan uang bulanan yang lumayan untuk Yesi, Wang tidak mempermasalahkan itu hanya saja saat ada yang menanyakan kebahagiannya entah mengapa Ia tidak bisa menjawab karena Wang tak merasa bahagia sama sekali saat ini.
Memiliki banyak harta, gadis cantik nyatanya tidak membuat Wang bahagia.
"Perbaiki hubunganmu dengan istrimu jika kau ingin bahagia Wang." Ucap Wira.
"Lalu apa yang bisa ku harapkan dari Nadia? Dia mandul, bertahun tahun kami menikah tidak memiliki anak lalu sekarang, dia lumpuh. Sudah tak cantik lagi bahkan tidak memenuhi kebutuhan biologisku, apa lagi yang ku harapkan dari Nadia?"
Herman tersenyum, "Jika kau tidak bisa mengharapkan Nadia lagi sebaiknya kau ceraikan saja dia lalu menikah dengan Yesi, semudah itu."
Wang menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak akan meninggalkan Nadia."
Herman berdecak, "Kau bilang sudah tak mengharapkan Nadia lagi dan juga ku lihat cintamu untuk Nadia juga sudah memudar jadi tunggu apa? Ceraikan dia."
"Tidak, ku bilang tidak!" sentak Wang mulai emosi.
"Jika memang tidak bisa jangan sakiti Nadia lagi. Kau tahu kita dulu bertiga menyukai Nadia namun kau yang berhasil mendapatkan Nadia. Jadi seharusnya kau bisa menjaga Nadia dengan baik tapi lihatlah apa yang terjadi sekarang." ucap Wira.
Wang terdiam, Ia sendiri juga tak tahu kenapa tidak bisa menceraikan Nadia. Pernah satu hari Yesi meminta Wang menceraikan Nadia namun Ia langsung menolak permintaan Yesi. Ia bisa mengkhianati Nadia namun tidak bisa jika harus meninggalkan Nadia cinta pertamanya itu.
"Ceraikan Nadia biarkan aku yang akan menggantikannya untukmu." kata Herman.
Wang semakin emosi, Ia tak terima dengan ucapan Herman.
"Bagaimana bisa kau mengatakan itu padaku!"
"Lalu bagaimana bisa kau melakukan itu pada Nadia?" balik Herman.
"Sudah sudah, kalian ini sangat kekanakan. Jangan bertengkar lagi!" omel Wira melerai adu mulut antara Wang dan Herman.
Wang tampak masih kesal, pria itu beranjak dari duduknya, meninggalkan Herman dan Wira tanpa sepatah katapun.
"Kenapa harus membuatnya marah seperti itu?" tanya Wira pada Herman.
"Aku kesal saja dengan sikapnya, apa kau tidak kesal melihat dia menyakiti Nadia?"
Wira mengangguk, "Sama saja aku juga kesal tapi itu juga bukan urusan kita."
"Bagaimana bisa bukan urusan kita, Nadia itu bahkan cinta pertama kita." protes Herman.
Wira tersenyum, "Semua sudah berlalu, tak perlu dipermasalahkan lagi."
Herman berdecak, tetap saja Ia kesal dengan sikap Wang yang menurutnya sangat keterlaluan.
Sementara itu, Wang kini berada di belakang rumah. Ia duduk disana dengan perasaan sangat kesal.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Yesi yang kini ikut duduk disamping Wang.
"Herman si pria gila itu memintaku untuk menceraikan Nadia." ungkap Wang pada Yesi.
Yesi berdecak, "Apa yang Herman ucapkan itu benar, untuk apa kau mempertahankan istri cacat mu itu."
"Tutup mulutmu!" sentak Wang pada Yesi membuat Yesi terkejut, sangat terkejut.
"Kau membentak ku?" Yesi tak terima.
"Bu bukan begitu, maafkan aku." ucap Wang seketika sadar dan merasa bersalah namun percuma karena Yesi sudah terlanjur marah dan pergi meninggalkannya.
"Sial apa yang sudah ku lakukan!" omel Wang pada dirinya sendiri.
Yesi masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu kamar dengan kasar hingga menimbulkan suara dan mengejutkan Rani yang tengah asyik membaca buku di kamar.
"Sialan, dasar pria tua menyebalkan!" omel Yesi yang bisa didengar oleh Rani namun Rani hanya diam karena Ia benar benar tak ingin berurusan dengan Yesi.
Yesi duduk di pinggir ranjang, menatap Rani sebentar sebelum akhirnya Ia memilih kembali keluar dari kamar.
Yesi berjalan tanpa arah hingga Ia melihat ada Dylan yang asyik memancing di kolam milik tetangga kontrakan.
Yesi tersenyum lebar lalu mulai mendekati Dylan, Ia bahkan tak sungkan duduk disamping Dylan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Dylan menatap Yesi dengan tatapan tak suka.
"Menemanimu."
"Aku tak butuh, pergilah. Aku tidak ingin semua orang salah paham." ucap Dylan dengan malas.
"Tapi aku mau membuat semua orang salah paham."
Dylan yang kesal akhirnya beranjak dari duduknya, meletakan alat pancingnya lalu pergi meninggalkan Yesi.
"Dylan tunggu..." Yesi mengejar Dylan lalu menyentuh lengan Dylan namun seketika Dylan menyentak tangan Yesi.
"Jangan berani menyentuhku!" ucap Dylan dengan tegas.
"Kenapa? Apa aku sama sekali tidak membuatmu tertarik?"
Dylan tersenyum sinis, "Kau pikir kau cantik? Dimataku kau terlihat sangat murahan!"
Yesi mengepalkan tangannya, lagi lagi Dylan menyakiti hatinya.
"Aku cantik, jika dibandingkan dengan Rani aku lebih cantik." kata Yesi penuh percaya diri.
"Ya kau benar tapi maaf aku sama sekali tak tertarik." kata Dylan ingin meninggalkan Yesi namun lagi lagi Yesi menahan tangannya dan kali ini Yesi mencium pipinya.
Dylan terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Yesi dan sialnya ada Rani yang melihat mereka, Rani berdiri tak jauh dari sana.
"Sial!" umpat Dylan.
Yesi tersenyum puas apalagi melihat Rani berjalan menghampiri mereka.
Plak... Rani menampar pipi Yesi. Cukup mengejutkan untuk Dylan karena biasanya Rani selalu bersikap lemah lembut.
"Kau gila!" teriak Yesi tak terima.
"Kau yang gila dan juga tak tahu malu, bagaimana bisa kau mencium pipi pria yang sudah memiliki kekasih, apa kau begitu kurang kasih sayang?" ejek Rani membuat Yesi marah dan ingin membalas tamparan Rani, beruntung Dylan menangkap tangan Yesi hingga tak mengenai pipi Rani.
"Jika kau berbuat kasar, mungkin aku yang akan menamparmu setelah ini!" ucap Dylan pada Yesi.
"Ada apa ini?" suara Wang terdengar mendekat.
"Mereka menyakitiku, Rani bahkan menampar pipiku." adu Yesi pada Wang.
"Ada apa? Kenapa kau menampar pipi Yesi?" tanya Wang pada Rani tampak tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Rani.
"Kekasih Tuan ini sangat keterlaluan, bagaimana bisa Yesi mencium pipi Dylan." adu Rani tak mau kalah.
"Aku tak sengaja, percayalah padaku. Aku tak sengaja. Dylan hampir jatuh dan aku ingin menolongnya namun aku malah tak sengaja menciumnya." kata Yesi membela diri.
"Berhenti membual! Jelas jelas kau menarik tanganku lalu menciumku!" ucap Dylan yang akhirnya membuat Yesi tak berkutik lagi.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen...