
Arga dan Sara baru saja keluar dari kantor. Keduanya memasuki mobil dan Arga segera melajukan mobilnya meninggalkan kantor Sara.
Keduanya memutuskan untuk makan malam dirumah namun ditengah perjalanan, Arga melihat mobil Herman yang terparkir didepan gerobak nasi goreng membuat Arga menghentikan laju mobilnya.
"Kenapa mas?" heran Sara menatap Arga.
"Tuh lihat ada mobil Ayah, kita minta traktir Ayah aja." ucap Arga sambil tersenyum tengil.
Sara akhirnya paham setelah Ia juga melihat mobil Herman.
Sara ikut turun bersama Arga dan keduanya terkejut saat melihat Herman tak sendiri namun bersama dengan Asih.
Seketika senyum usil Arga terbit, Ia pun mulai menyapa sepasang paruh baya yang langsung melihat ke arahnya.
Arga mendengar suara umpatan Ayahnya yang membuatnya semakin semangat untuk menggoda Herman.
"Kita makan malam disini aja sekalian sama Ayah dan Bu Asih." ucap Arga langsung menarik tangan Sara dan mengajaknya duduk disamping Bu Asih.
"Memangnya nggak ada tempat lain?" Herman terlihat kesal dengan tingkah putra semata wayangnya itu.
"Kenapa? Nggak boleh Yah?" tanya Arga menantang Herman.
Asih menatap Herman seolah mengizinkan Arga dan Sara ikut makan bersama mereka. Mau tak mau Herman tak bisa menolak Arga yang ingin ikut makan bersama mereka.
"Ya sudah terserah kalian saja." Herman mulai badmood.
Arga tersenyum sumringah karena berhasil membuat Ayahnya kesal.
"Mas... Baiknya kita nggak usah ganggu Ayah deh." bisik Sara tepat ditelinga Arga.
"Kenapa? Asik gini." Arga membalas bisikan Sara.
"Kamu kalau digangguin juga pasti kesel kan mas?" tanya Sara masih berbisik. "Jarang jarang Ayah bisa berduaan dengan Bu Asih jadi sebaiknya jangan diganggu mas."
Arga menghela nafas panjang, ucapan Sara memang ada benarnya juga. jarang jarang Ayahnya bisa memiliki waktu berdua dengan Bu Asih dan disaat seperti ini Ayahnya juga tidak akan membutuhkan dirinya yang mungkin hanya ingin usil menganggu.
Arga beranjak dari duduknya dan pergi menghampiri penjual nasi goreng untuk mengatakan sesuatu pada penjual nasi goreng.
"Ngapain lagi kamu?" tanya Herman masih dengan nada kesal.
"Ayah galak amat sih sama anaknya."
Ucapan Arga sontak membuat Asih menatap Herman seolah tak setuju jika Herman galak dengan Arga.
Herman berdecak, "Biasanya kamu suka usil makanya Ayah nanya ngapain kamu bisik bisik sama penjual nasi goreng?"
Arga tersenyum, "Usil gini juga bawaan dari Ayah kan?"
Herman menghela nafas panjang, tak bertanya lagi karena Ia sedang kesal dan malas dengan Arga.
Nasi goreng pesanan Herman dan Asih datang, tak berapa lama nasi goreng pesanan Arga dan Sara juga datang.
"Loh kalian..." Herman terkejut melihat nasi goreng Arga dan Sara dibungkus.
"Kita mau makan dirumah saja,"
Seketika Herman tersenyum lebar melihat Arga dan Sara beranjak dari duduknya.
"Nanti jangan lupa dibayar Yah." ucap Arga sebelum benar benar pergi.
Kini tinggalah Herman dan Asih yang ada disana.
"Apa mungkin mereka marah mas?" tanya Asih merasa tak enak.
"Kenapa mereka harus marah?"
"Ya karena Mas terlalu galak pada Arga."
Herman tertawa, "Tidak mungkin, jika kau mengenal Arga lebih dekat dia bukan orang yang mudah marah."
Asih menghela nafas lega dan kembali melanjutkan makan nasi goreng.
"Besok masih harus dirumah sakit?" tanya Herman yang langsung diangguki oleh Asih.
"Selama Rani dirawat, aku akan datang kerumah sakit setiap hari."
"Padahal minggu depan Wira mengadakam resepsi."
Asih tersenyum, "Mungkin minggu depan Rani sudah sembuh."
"Setelah Wira lalu Arga dan aku berharap setelah mereka kita yang menikah." kata Herman lalu tersenyum.
Asih sempat menghentikan kunyahannya lalu menatap Herman.
"Maaf aku tidak akan mengatakannya lagi."
Asih tersenyum, "Bagaimana jika aku menolak?"
Herman ikut tersenyum, "Masih ada banyak waktu, pikirkan lagi baik baik."
Selesai makan nasi goreng, Herman mengantar Asih pulang dimana Faris sudah menunggu didepan rumah Wira.
"Nggak masuk dulu Om?" tawar Faris.
"Enggaklah, mau langsung pulang aja."
"Nggak mau ngobrol sama Papa dulu?" tawar Faris lagi.
"Nggak... males." kata Herman lalu tertawa dan masuk ke dalam mobil.
"Makasih Om udah nemenin Ibu." teriak Faris yang langsung diangguki oleh Herman.
Setelah mobil Herman keluar, Faris menatap penuh goda ke arah Ibunya.
"Nggak usah ngajakin Ibu bercanda!" omel Asih yang langsung membuat Faris tertawa.
Faris memeluk lengan ibunya lalu mengajaknya masuk, "Om Herman sweet banget ya Bu, nemenin Ibu seharian padahal aslinya Om Herman itu sibuk lho."
"Sibuk?" Asih menatap Faris penuh tanya.
Faris menganggukan kepalanya, keduanya kini sudah sampai dikamar Asih, "Iya sibuk, Om Herman kan masih ngurus perusahaan."
Asih berohh ria, "Kenapa dia malah nemenin Ibu tadi."
Faris tertawa, "Namanya juga cinta Bu."
Asih gemas lalu memukul lengan Faris, "Di bilang jangan bercanda."
Faris masih tertawa, "Ee Ibu masih nganggep bercanda lagi."
Asih menghela nafas panjang lalu duduk di pinggir ranjang, "Ibu takut kalau nanti jawaban Ibu mengecewakan Mas Herman."
"Duh manggilnya udah Mas aja." goda Faris lagi.
Asih kembali memukul lengan Faris, "Serius ini!"
"Iya iya Bu... Kalau Ibu takut mengecewakan ya jangan ditolak dong."
Asih menghela nafas panjang, "Lalu gimana sama Bapak?"
"Bapak kan udah disurga Bu."
"Rasanya masih belum rela menggantikan posisi Bapak kamu."
"Kalau begitu Ibu tolak saja Om Herman." ucap Faris santai.
"Tapi kalau ditolak..."
Faris tertawa, "Ibu udah mulai suka sama Om Herman, nggak usah ditutupi lagi."
Lagi lagi Asih hanya menghela nafas panjang.
"Di pikir lagi saja Bu, masih banyak waktu dan Om Herman pun juga mau menunggu Ibu."
Asih mengangguk, "Terus gimana sama Rani?"
Faris terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia menjawab, "Nanti kalau acara Papa sudah selesai, aku anterin Ibu pulang dan kita bisa bicara sama Paklik, kita ceritakan semuanya pada Paklik."
"Apa kamu yakin?"
Faris mengangguk, "Paklik harus tahu kelakuan Bulik Siti agar Dylan dan Rani bisa segera menikah."
Asih mengangguk setuju,
"Faris cuma takut kalau Dylan menyerah dengan Rani bagaimana dengan nasib Rani?"
Asih kembali mengangguk setuju, "Siti memang keterlaluan. Ibu ikut saja dengan apapun yang ingin kau lakukan."
"Sekarang sebaiknya kamu kembali ke kamar, pasti Vanes sudah nungguin kamu."
"Siap Bu." Faris beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Asih.
Tengah malam dirumah Herman...
Lelap Sara dan Arga terusik kala mereka mendengar suara pintu kamar yang diketuk.
Dengan malas Arga beranjak dari ranjangnya untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamar tengah malam begini.
"Ngapain sih Yah?" tanya Arga dengan mata masih mengantuk namun bisa melihat jika itu Herman Ayahnya yang mengetuk pintu kamar.
"Tolong kerokin Ayah, sepertinya Ayah masuk angin."
Bersambung.
jangan lupa like vote dan komen yaaa