
Jantung Faris berdegup kencang setelah mengatakan hal jujur pada Vanes apalagi Faris langsung melihat raut kecewa diwajah Vanes. Tidak lagi rasa bahagia yang ada hanya rasa kecewa dan sedih yang mungkin tengah dirasakan oleh Vanes saat ini.
Faris ingin mengenggam tangan Vanes namun tangan Vanes menghindar. Bibir Vanes tersenyum kaku lalu menatap Faris dengan mata berair hampir menangis.
"Ku mohon jangan menangis, dengarkan aku." ucap Faris.
Faris akhirnya menceritakan segalanya pada Vanes, tentang perjodohan yang tak Ia inginkan itu padahal tadinya Faris ingin berbohong namun karena Ia selalu bersikap jujur selama ini akhirnya Ia mengakui segalanya pada Vanes.
"Aku sama sekali tidak menyukainya namun pak Kades terus memaksa agar aku segera menikahinya." ungkap Faris.
Vanes malah tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum?"
"Karena kini akhirnya aku tahu apa yang dirasakan Rizal dan kekasihnya waktu itu."
Faris mengerutkan keningnya tak mengerti,
"Dulu mungkin Rizal juga mengatakan ini pada Mira kekasihnya tentang perjodohan yang dibuat oleh Mama nya sendiri.
Waktu itu Aku sempat membenci Mira karena tak bisa melepaskan Rizal untuk ku tapi kini aku mengerti rasanya." jelas Vanes yang akhirnya dimengerti oleh Faris, "Ternyata rasanya sangat menyakitkan." Vanes kembali memaksakan senyumnya.
Faris mengenggam tangan Vanes dan kali ini tidak ada penolakan dari Vanes, "Aku berbeda dengan Mas Rizal, aku tetap tidak akan melanjutkan perjodohan ini." balas Faris dengan mantap.
"Apa orangtuamu tidak kecewa?"
Faris menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak, orangtuaku selalu mendukung apapun yang ku lakukan selama itu terbaik untuk ku."
Vanes kembali tersenyum dan kali ini senyuman Vanes terlihat lega bukan lagi karena dipaksa.
"Lalu bagaimana jika Pak Kades itu tetap memintamu untuk menikahi putrinya?"
"Mungkin aku akan mengajak kedua orangtuaku pindah dari kampung itu." kata Faris yang langsung mengundang gelak tawa Vanes.
Vanes melihat ke pergelangan tangan, sudah hampir pukul 6 petang dan hari juga sudah mulai gelap, "Sepertinya kita harus pulang sekarang."
Faris mengangguk setuju, "Aku akan mengantarmu sampai kos."
"Apa kau ingin makan malam bersamaku?" ajak Vanes.
Faris langsung merangkul Vanes, "Baiklah mari kita cari makan malam terenak disekitar sini."
Keduanya pun keluar dari taman menuju kedai nasi goreng yang tak jauh dari taman. Keduanya makan malam disana sambil bercerita banyak hal hingga tak terasa sudah pukul 8 malam.
Faris dan Vanes pun bergegas untuk pulang.
"Tidak mau masuk dulu?" tawar Vanes yang lansung digelengi oleh Faris.
"Aku tidak mau digrebek orang sekampung." kata Faris sambil tertawa.
Vanes tersenyum, "Aku spesial disini, sepertinya tidak masalah jika kau mampir sebentar." ucap Vanes.
Faris tetap menggelengkan kepalanya, "Tidak sekarang mungkin lain kali."
Vanes akhirnya menyerah, "Baiklah, hati hati saat pulang."
Faris mengangguk lalu kembali melajukan motornya meninggalkan Vanes.
Sesampainya dirumah, Faris melihat ada mobil milik Pak Kades dipekarangan rumahnya, Ia pun sudah bisa menebak jika Pak Kades sedang berada dirumahnya.
Dan benar saja, saat masuk pria paruh baya itu tampak duduk diruang tamunya, tersenyum licik melihat kedatangan Faris.
"Baru pulang? Apa Dosen juga ada lemburan?" tanya Pak Kades dengan nada menyindir.
Faris menghela nafas panjang lalu duduk disalah satu kursi, tepat disamping Slamet yang hanya diam saja tak mengatakan apapun.
"Untuk apa kesini lagi?"
"Faris..." suara Asih terdengar seolah melarang Faris berbicara kasar.
"Tentu saja untuk menemui calon menantuku!"
Faris akhirnya diam karena Ia bingung harus menjawab apa.
"Bulan depan tanggal 30 adalah waktu yang tepat untuk kalian menikah jadi aku ingin pertengahan bulan kalian datang kerumahku untuk melamar putriku." kata Pak Kades lagi "Aku harap maharnya tidak mengecewakan karena aku ingin membuat pesta besar besaran." Tambah Pak Kades lalu berdiri dari duduknya dan keluar dari rumah Faris begitu saja tanpa menunggu jawaban dari keluarga Faris.
"Lihatlah, dia bersikap seenaknya sendiri." umpat Faris.
Asih menghela nafas panjang, "Nasib e wong cilik ya kayak gini."
"Aku akan tetap menolak pernikahan ini Bu." ucap Faris mantap.
"Apa kau sudah memikirkan caranya?" tanya Slamet.
Faris menggelengkan kepalanya, "Belum, jika pun tidak ada cara lain, aku akan membawa Bapak dan ibu pergi dari kampung ini. Disini semua orang sudah Dzalim pada kita selama ini, untuk apa kita bertahan!"
Asih dan Slamet menghela nafas bersamaan, sepertinya sangat berat meninggalkan kampung halaman yang sudah ditinggali puluhan tahun namun jika itu yang terbaik, mereka akan melakukan itu.
"Ya sudah jika hanya itu jalannya, kita lakukan. Sekarang sebaiknya kamu segera mandi dan makan malam."
Faris mengangguk, meskipun Ia baru saja makan bersama Vanes, Ia tetap makan lagi karena ingin menghargai Asih yang sudah susah payah memasak untuknya.
Selesai mandi dan makan malam, Faris berbaring diranjang. Sedikit melamun memikirkan apa yang harus rencanakan untuk mengetahui rahasia keluarga Kades.
"Mungkin aku harus mulai besok pagi." gumam Faris.
Paginya Faris memiliki kegiatan baru yakni menjemput Vanes dikosan dan mengajaknya berangkat bersama.
"Kau yakin tidak ada masalah dengan kampus jika kita berangkat bersama seperti ini?" tanya Vanes yang sudah membonceng Faris.
"Tentu tidak, masalahnya paling mereka mengosipkan kita."
Vanes tertawa, "Itu maksudku."
"Itu bukan masalah untuk ku. Abaikan saja apapun yang mereka ucapkan jangan terlalu memikirkan ucapan orang lain." kata Faris.
"Baiklah, aku mengikutimu."
Dan benar saja, sesampainya dikampus mereka menjadi pemandangan para mahasiswa karena memasuki area kampus dengan berboncengan motor.
Tak sedikit dari mereka yang langsung berbisik dan mengosip.
"Apa Mereka membuatmu tak nyaman?" tanya Faris saat keduanya sampai ditempat parkir.
"Aku akan mengabaikannya seperti yang kau katakan tadi."
Faris tersenyum lalu mengelus kepala Vanes, "Pintar sekali."
Vanes berdecak karena Ia jadi salah tingkah dengan perlakuan Faris.
Faris segera masuk ke ruangannya sementara Vanes memasuki kelasnya.
Saat jam makan siang, Vanes datang keruangan Faris untuk mengajaknya makan siang disana.
"Aku merindukan masakanmu." ucap Faris tersenyum lebar saat tahu jika Vanes membawakan bekal untuknya.
"Kalau begitu, makanlah yang banyak."
Faris mengangguk dan langsung makan dengan lahapnya. Vanes yang melihat itupun merasa senang karena Faris menyukai makanan buatannya.
"Bagaimana kelanjutan perjodohanmu?" tanya Vanes membuat Faris menghentikan kunyahannya.
"Dia meminta akhir bulan besok untuk menikah."
Vanes menghentikan gerakan tangannya, mendadak dadanya terasa sesak.
"Jika memang itu yang terbaik aku akan berusaha mengikhlaskanmu."
"Tidak," ucap Faris menatap Vanes sebal, "Aku tetap tidak akan melanjutkan pernikahan itu. Aku pikir kau bisa lebih sabar lagi."
Vanes tersenyum namun Faris tahu jika senyuman Vanes itu karena terpaksa.
Bersambung...