
Sudah pukul 8 malam namun Arka masih belum pulang dari sekolahnya. Sri tahu jika Arka masih kesal dan marah padanya namun Sri tak menyangka jika Arka akan membuatnya khawatir seperti ini.
Sri masih duduk didepan rumah, berharap Arka segera pulang. Ia sudah berencana jika pukul 9, Arka belum pulang, Sri akan meminta bantuan Nanang untuk mencari Arka.
Belum sampai pukul 9 malam, Sri akhirnya bisa bernafas lega saat mendengar suara motor Arka dari kejauhan dan tak berapa lama, Arka terlihat memasuki halaman rumahnya.
"Ibu kok belum tidur?" tanya Arka terdengar khawatir.
"Nungguin kamu, seharian kamu nggak pulang, Ibu khawatir."
Arka tersenyum lalu duduk disampiny Sri. Saat ini Arka masih mengenakan seragam sekolahnya.
"Maaf deh udah buat Ibu khawatir." kata Arka yang kini sudah duduk disamping Ibunya.
Sri tersenyum, "Ibu sudah pikirkan seharian ini tentang rencana Ibu, kalau memang kamu nggak setuju Ibu menikah lagi, Ibu akan menolak lamaran Tuan Wira."
Arka menggelengkan kepalanya, "Kalau boleh Arka mau ketemu sama orang itu Bu."
Sri terkejut mendengar permintaan Arka, "Maksud kamu?"
"Arka mau ketemu sama orangnya dulu, Arka mau lihat dulu seperti apa orang itu dan setelah itu Arka akan memutuskan untuk mengizinkan Ibu menikah atau tidak." ucap Arka.
"Apa kamu yakin Nak?"
Arka mengangguk, "Ya... Arka juga ingin ibu bahagia dan kalau memang pria itu kebahagiaan Ibu, Arka akan mengizinkan Ibu menikah lagi dengan catatan pria itu baik dan bisa membuat Ibu bahagia."
Sri terharu dengan ucapan Arka hingga tanpa sadar meneteskan air mata bahagianya.
"Tapi jangan senang dulu Bu... Kalau menurut Arka pria itu nggak baik, Arka bakal blacklist dia." ucapnya.
Sri mengangguk, "Nanti Ibu bakal telepon Pak Wira dan minta buat dia kesini."
"Kerjanya apa Bu?" tanya Arka penasaraan.
"Dia sudah nggak kerja nak, sudah pensiun tapi dia memiliki perusahaan yang sekarang di urus menantunya." jelas Sri.
"Ck, nanti pada mempermasalahin harta nggak tuh bu... Arka nggak mau Ibu jadi dibenci kayak di sinetron sinetron gitu."
Sri tersenyum, "Mereka orang baik nak, bahkan selama ini memperlakukan ibu sangat baik jadi hal buruk yang kamu khawatirkan tidak akan terjadi." kata Sri.
"Ya sudah bu... Kita lihat saja ke depan gimana. Kalau orang itu berani menyakiti Ibu nanti urusannya sama Arka."
Sri masih tersenyum, "Anak ibu benar benar mau jagain ibu ya?"
"Dulu almarhum Ayah pernah pesen supaya Arka jagain Ibu dan sekarang baru Arka lakuin." kata Arka.
"Makasih ya Nak." Sri dibuat terharu malam ini.
"Sekarang ibu sebaiknya lekas tidur, ini udah larut malam." pinta Arka yang langsung diangguki Sri.
Keduanya memasuki rumah dengan perasaan senang dan tenang.
Sampai dikamarnya, Sri mengambil ponselnya lalu mendial nomor Wira. Satu kali panggilan tidak dijawab oleh Wira.
Sri melihat ke arah jam dinding masih pukul setengah 9 malam, biasanya Wira belum tidur, Sri mencoba sekali lagi namun masih tidak mendapatkan jawaban.
"Mungkin sudah tidur, ya sudahlah besok pagi saja." gumam Sri kembali meletakan ponselnya dimeja.
Sri berbaring, baru akan memejamkan matanya, ponsel Sri berdering. Sri mengambil ponselnya, senyumnya terukir saat melihat nama Wira yang menghubunginya.
"Apa telepon saya menganggu Tuan?" tanya Sri merasa tak enak.
"Tidak, justru aku senang. Tadi aku sedang diluar jadi tidak tahu jika ponselnya berdering." kata Wira.
"Tidak apa apa Tuan, saya menghubungi Tuan hanya ingin mengatakan jika Tuan memiliki waktu luang, bisakah Tuan datang kesini karena putra saya ingin bertemu."
"Apa putramu sudah memberi restu?" suara Wira terdengar senang.
"Belum Tuan, putra saya ingin bertemu Tuan lebih dulu."
"Baiklah, besok aku akan kesana. Lagipula urusanku sudah selesai disini." kata Wira membuat Sri penasaran.
"Urusan apa Tuan?"
"Aku belum cerita ya jika Ken meninggal karena dibunuh, kau masih ingat Ken kan?" tanya Wira.
"Innalilahi, saya turut berduka cita Tuan."
Sri tersenyum, jantungnya berdebar saat mendengar keseriusan Wira padanya.
"Kalau begitu saya tutup teleponnya Tuan, sudah malam, Tuan harus istirahat." kata Sri.
"Tunggu..." ucap Wira, "Kenapa kau masih memanggilku Tuan?"
Bik Sri tersenyum geli, "Lalu saya harus memanggil apa?"
"Apapun asal jangan Tuan."
"Jadi apa boleh saya memanggil Mas Wira?"
"Tentu, kau harus memanggilku itu karena sebentar lagi kita akan menikah."
Jantung Sri semakin berdebar tak karuan, padahal hanya lewat telepon tapi Ia bisa segugup ini. Sri tidak bisa membayangkan jika mereka dekat, mungkin Sri akan pingsan karena terlalu gugup.
"Ya sudah, segeralah istirahat. Aku akan kesana besok siang. Tunggu aku."
"Baik Tuan eh mas." Sri salah mengucap dan terdengar suara tawa renyah Wira sebelum panggilan berakhir.
Sementara itu dirumah Herman...
Arga dan Sara masih berada dibalkon kamar. mereka bercerita kesana kemari karena Arga sudah tidak marah lagi pada Sara.
Tak terasa sudah pukul 9 malam, mata Sara juga sudah mulai mengantuk.
"Aku harus pulang." pinta Sara.
"Tidak usah pulang, menginap disini saja."
"Kau gila? Tidak mau!" omel Sara.
"Apa salahnya? Banyak pasangan yang tidur bersama padahal mereka belum menikah." kata Arga santai.
Sara menelan ludahnya, mendengar ucapan Arga membuatnya ingat akan masa lalu bersama Ken dimana mereka sering melakukan hal seperti itu padahal belum menikah.
"Kita jangan seperti itu." pinta Sara.
Arga mendekatkan wajahnya, "Seperti apa?"
Sara memundurkan wajahnya lalu berpaling dari Arga, "Aku harus pulang sekarang." ucap Sara beranjak dari duduknya.
"Mungkin kau tidak bisa pulang sekarang."
"Kenapa?"
"Didepan gang ada pohon tumbang, kita tidak bisa lewat dan itu jalan satu satunya menuju jalan raya."
Sara berdecak, "Jangan membual, kau pasti mengatakan itu agar aku menginap disini kan?"
"Kau memang tidak mempercayaiku ya? Baiklah baiklah aku akan mengantarmu pulang sekarang." ucap Arga terdengar acuh lagi.
Sara berpamitan dengan Herman, "Katanya ada pohon tumbang, mungkin kalian tidak akan bisa lewat jadi menginap saja. Nanti biar aku bicara dengan Wira." kata Herman mengatakan hal yang sama.
"Dia tidak akan percaya Yah... biarkan saja akan ku antar." kata Arga.
Sara dan Arga memasuki mobil. Sara melihat raut Arga kembali kesal.
"Kau marah lagi?"
Arga menggelengkan kepalanya, "Aku menahan diriku agar tak mudah marah padamu meskipun aku sangat kesal."
Sara tersenyum.
Arga melajukan mobilnya, baru beberapa menit mobil keluar, Arga sudah menghentikan mobilnya. Didepan ada pohon tumbang yang menutupi jalan, mereka tidak bisa lewat.
"Apa kau lihat itu?" tanya Arga membuktikan jika ucapannya benar.
Sara menunduk karena lagi lagi Ia bersalah, "Maaf."
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaa