
Setelah melewati perjalanan hampir 5 jam, keluarga Wira akhirnya sampai dirumah kontrakan yang sengaja disewa untuk tempat tinggal sementara selama mereka berada dikampung halaman Bik Sri.
Rumah kontrakan sederhana namun bersih dan layak untuk ditinggali.
Sara membantu Zil dan Arga mengeluarkan koper. Matanya tak sengaja menatap ke arah Yesi yang baru saja turun dari mobil bersama Pak Wang.
"Kenapa dia ikut?"
Arga melihat ke arah Pak Wang yang baru saja keluar dari mobil bersama asistennya, "Ohh, Pak Wang itu sahabat Papa sama Ayah jadi ya wajar aja kalau ikut."
"Bukan Pak Wang tapi asistennya itu." kata Sara.
"Gosipnya mereka pacaran jadi ya kemana mana selalu bersama."
"Gila!" omel Sara tak menyangka dengan fakta yang baru saja Ia dengar.
"Tak perlu digubris, biarkan saja mereka."
"Tapi mas apa kamu tahu kalau..."
"Kalau apa?" tanya Arga saat Sara tak melanjutkan ucapannya.
"Nggak jadi nggak jadi!"
Arga berdecak lalu menarik koper dan membawanya masuk kerumah kontrakan.
"Ada 7 kamar jadi kita bagi kamarnya sekarang." ucap Faris yang sudah masuk kerumah lebih dulu.
"Rani sama Yesi satu kamar, Dylan satu kamar sama Zil." pinta Faris.
Awalnya Rani ingin protes namun karena kamarnya memang terbatas Ia akhirnya menurut lagipula tidak mungkin Rani meminta satu kamar bersama Dylan, bisa bisa Faris ngamuk.
"Jika kamu tidak nyaman kita bisa cari hotel disekitar sini." ucap Wang pada Yesi.
"Mana ada hotel disekitar sini, jika ada tentu saja kami tidak menyewa kontrakan seperti ini." timpal Herman.
"Tidak Tuan, tidak masalah jika harus berbagi kamar dengan Rani lagipula Saya dan Rani juga sudah berteman." ucap Yesi.
Rani memutar bola matanya malas, "Dasar gila, siapa juga yang mau berteman dengannya!" batin Rani.
"Jangan digubris, anggap saja dia tidak ada." Bisik Dylan pada Rani.
Semua orang memasuki kamar masing masing untuk tidur mengingat saat ini masih pukul 2 dini hari.
"Aku tidak mau seranjang denganmu!" ucap Yesi saat Rani bersiap untuk berbaring di ranjang besar yang ada dikamar itu.
"Jika kau tidak mau keluar saja sana minta sama Tuanmu untuk mencarikan kamar hotel." balas Rani acuh lalu memejamkan matanya, tak lagi mengubris ucapan Yesi.
Yesi menghentak hentakan kakinya, dengan sangat terpaksa Ia tidur seranjang dengan Rani.
Pagi harinya, semua orang bersiap kerumah Bik Sri untuk menyerahkan seserahan yang sudah disiapkan oleh Wira.
Masing masing orang membawa 1 seserahan karena memang ada banyak barang yang sudah disiapkan Wira untuk calon istrinya itu.
Yesi berada dibarisan paling belakang bersama Wang, Ia berkali kali menguap membuat Wang keheranan.
"Semalam tidak bisa tidur?" tanya Wang pada Yesi.
Yesi menganggukan kepalanya, "Aku tidak bisa tidur disamping Rani karena dia tidak bisa tenang."
Wang menghela nafas panjang, "Nanti malam kita cari hotel disekitar sini."
Yesi menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu tapi tidak bisakah kamu berbicara dengan Rani agar dia mau mengalah padaku dan tidur di lantai?"
Wang berdecak, "Mana bisa seperti itu, Rani itu saudaranya Wira bukan bawahanku, aku tidak bisa melakukan itu." kata Wang.
Yesi terlihat kesal lalu mengabaikan Wang, selama ini setiap kali Ia meminta sesuatu pada Wang pasti langsung dituruti tapi kali ini, ah benar benar menyebalkan batin Yesi.
Sesampainya dirumah Bik Sri semua orang disambut hangat oleh Bik Sri, Arka dan semua sanak saudara Bik Sri.
Acara seserahan pun segera dimulai, Arka terlihat banyak tersenyum hari ini seolah sudah benar benar memberikan restu untuk pernikahan Ibunya.
"Aku ingin ke toilet." bisik Sara pada Arga yang ada disampingnya.
"Aku antar."
Sara menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, kau disini saja." pinta Sara yang akhirnya langsung diangguki oleh Arga.
Sara keluar lewat pintu depan menuju pintu belakang, saat sudah berada dipintu belakang Sara tampak sungkan mau masuk ke dalam apalagi tidak ada orang karena semua orang sedang berada diruang tamu.
"Eh kamu anaknya Bik Sri ya?" tanya Sara yang memang belum mengenal Arka secara dekat.
Arka mengangguk, "Kenapa diluar?" tanya Arka.
"Kamar mandinya dimana?" tanya Sara.
Akhirnya Arka mengantarkan Sara ke kamar mandi miliknya yang ada di samping dapur.
Tak menunggu lama Sara segera membuang hajatnya dan saat keluar, Arka masih ada disana.
"Kamu siapanya?"
Sara tersenyum, "Aku keponakannya calon Papamu tapi aku sekarang sudah jadi salah satu anaknya. Sebentar lagi kita akan tinggal serumah." ucap Sara.
Entah mengapa Arka langsung tersenyum mendengar ucapan Sara.
Sara kembali lagi ke dalam rumah dimana Arga sudah menunggunya.
"Kenapa lama sekali?" tanya Arga setengah berbisik.
"Aku tidak tahu dimana kamar mandinya jadi mencari dulu, kenapa? Apa sudah rindu?" goda Sara.
Arga mengangguk, "Aku merindukanmu setiap saat."
"Dasar gombal!" ucap Sara yang langsung membuat Arga tertawa.
Setelah selesai acara seserahan, semua orang dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan.
"Siapa pria muda itu?" bisik Arga sambil memperlihatkan seorang pria muda pada Sara.
"Oh itu Arka, anaknya Bik Sri."
Arga berdecak, "Sedari tadi dia melihat ke arahmu, mungkin dia tertarik padamu."
Sara memutar bola matanya malas, "Mana mungkin, dia masih dibawah umur."
"Memang kalau dibawah umur tidak boleh menyukaimu?"
Sara menggelengkan kepalanya, "Kau terlalu posesif, dia tidak mungkin menyukaiku." kata Sara yang hanya membuat Arga menghela nafas panjang.
Selesai acara semua orang kembali ke kontrakan untuk istirahat termasuk Wira yang harus banyak istirahat agar saat acara ijab kabul besok pagi bisa berjalan lancar.
"Pantas saja kau tertarik, dia cantik." ucap Wang saat sedang berkumpul dengan Wira dan Herman.
"Ya dia memang cantik meskipun hanya asisten rumah tangga." celetuk Herman.
Wira berdecak, "Tapi hatinya sungguh baik, aku sama sekali tidak mempermasalahkan statusnya."
Herman menepuk bahu Wira, "Kau memang seperti itu dari dulu, tidak pernah berubah."
Disela sela obrolan mereka, Faris datang mendekat, "Pa... mau izin jemput Ibu." ucap Faris mengingat Ia ingin mengajak Ibunya menjadi saksi pernikahan Wira.
"Ya sudah sana, minta antar Mang Ujang saja." kata Wira.
"Mau sama Vanes saja Pa, sekalian jalan jalan."
Wira mengangguk, "Berapa jam perjalanan?"
"Cuma 2 jam Pa..." kata Faris.
"Ya sudah sana hati hati."
Setelah berpamitan, Faris segera pergi meninggalkan ketiga pria paruh baya itu.
"Aku harap kau tidak tergoda dengan besanku." ucap Wira pada Herman.
"Apa dia cantik?''
"Tak hanya cantik tapi dia juga sudah janda."
Ketiganya tertawa bersamaan.
"Kenapa selera kalian seperti itu padahal bisa mencari yang lebih muda." cibir Wang.
"Lalu apa kau bahagia bersama dengan gadis muda?"
Wang akhirnya terdiam.