
Faris dan Pak Kades saling bertatapan sengit. Meskipun tatapan Pak Kades penuh ancaman namun Faris sama sekali tidak takut pada Pak Kades justru Faris semakin berani seolah sudah mendapatkan kelemahan pak Kades.
"Apa yang kau katakan itu tidak benar!" Pak Kades masih tidak mau mengakui.
Ani yang terjatuh dilantai pun sudah mulai menangis.
"Ya, kau tidak bisa menfitnah keluarga kami seperti ini!" sentak Bu Kades dengan bibir bergetar.
Faris tersenyum sinis, "Lalu kenapa Dik Ani malah menangis dan ketakutan seperti itu?"
Semua orang menatap ke arah Ani bergantian menatap Hani yang berdiri disamping Ani.
"Apa yang kau lakukan? Bangun!" sentak Bu Kades membuat tangis Ani semakin kencang.
"Dia tidak hamil, hanya sedang sakit. Mendengarmu mengatakan itu sudah pasti Putriku akan shock." kata Pak Kades masih membela diri.
"Kalau begitu izinkan aku mengantarkan Dik Ani ke klinik untuk periksa."
Wajah Pak Kades dan Bu Kades semakin memerah padam, antara marah dan malu.
"Sudahlah Bu, biarkan saja jika memang dia tidak mau menikahiku." ucap Ani sambil menangis.
"Diam kau!" teriak Pak Kades dengan suara lantang lalu menatap ke arah Faris, "Kau harus tetap menikahi putriku apapun yang terjadi!" kata Pak Kades memaksa.
"Saya tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan orang lain. Seharusnya Bapak meminta ini pada orang yang sudah membuat Dik Ani hamil bukan malah meminta pada saya!" ucap Faris dengan tegas, "Jika Bapak tetep memaksa, saya akan bawa ini ke jalur hukum." ancam Faris tak mau kalah.
Pak Kades malah tertawa, "Kau pikir siapa berani mengancamku seperti itu? Kau mau melaporkan ke polisi? Memang kau punya bukti?" ejek Pak Kades.
"Kau harus tetap menikahi putriku atau aku akan membuat keluargamu menderita." ancam Pak Kades.
"Aku ini orang terpandang disini, semua orang pasti lebih mempercayaiku ketimbang orang miskin sepertimu!" kata Pak Kades tersenyum puas diikuti oleh Bu Kades yang ikut tersenyum puas disamping Pak Kades.
"Sudahlah Faris, berhenti melawan kami. Sebaiknya kau persiapkan mahar yang banyak untuk putri kami. Jangan melawan terus seperti ini karena percuma." ucap Bu Kades.
Faris malah tertawa membuat Pak Kades dan Bu Kades bingung menatap ke arahnya.
"Terima kasih sekali atas kebaikan Pak Kades dan Bu Kades karena sudah memberikan bukti yang cukup untuk saya." ucap Faris lalu membuka ponselnya yang sedari tadi Ia genggam dan tanpa Pak Kades tahu, Faris sudah merekam semua pembicaraan mereka.
Faris memutar rekamannya dimana jelas sekali suara Pak Kades dan Bu Kades yang ada disana.
"Mulai sekarang jangan pernah ganggu saya dan keluarga saya lagi, jika Pak Kades tetap memaksa, saya tidak akan tinggal diam!" ancam Faris lalu keluar dari rumah Pak Kades dengan senyuman puas.
"Brengsek!" umpat Pak Kades yang tak lagi bisa melakukan apapun.
"Bagaimana sekarang pak? Ibu nggak mau semua orang dikampung tahu tentang kehamilan Ani, kita bisa malu!" ucap Bu Kades dengan wajah pucat.
Pak Kades menepuk bahu Bu Kades, "Sudah tenang saja, Bapak akan pikirkan caranya."
Ani yang masih tersungkur dilantai kini sudah bangun, "Sudahlah Pak, jangan memaksa lagi jika memang tidak mau. Kita malah bisa malu nanti." ucap Ani dengan bibir bergetar.
"Diam kau! Semua ini karena ulahmu Ani. kau sudah mencoreng nama keluarga kita!" sentak Pak Kades pada putrinya.
"Lalu biarkan aku menikah dengan Mas Tomo, dia Ayah dari bayi ini dan sudah mau menikahiku." Ani tampak melawan.
"Aku tidak akan sudi menjadikan pria miskin dan pengangguran itu sebagai suamimu!"
"Tapi Pak, bukankah Mas Faris juga sama miskinnya?" protes Ani lagi masih belum menyerah.
"Faris itu tidak miskin, keluarganya hanya tidak pernah mengumbar harta yang Ia miliki. Faris itu dosen dan ladang milik keluarganya pun berhektar hektar jadi jangan bandingkan kekasih miskinmu itu dengan Faris!" ucap Pak Kades penuh penekanan.
Pak Kades mengambil ponsel yang bergeletak dimeja lalu menghubungi nomor seseorang, "Aku memiliki pekerjaan untukmu." ucap Pak Kades lalu tersenyum licik.
...****************...
Faris menghentikan motornya didepan kosan Vanes. Seperti biasa setiap pagi Ia tak lupa menjemput Vanes.
Vanes sudah berdiri didepan pintu gerbang, sedang menunggu kedatangannya.
"Maaf aku terlambat karena ada beberapa hal yang harus ku urus."
Vanes mengangguk dan langsung naik ke atas motor Faris.
"Lalu bagaimana kelanjutan masalahmu dengan Pak Kades? Kau tetap menikah dengan anaknya?"
Faris tersenyum, mengenggam salah satu tangan Vanes yang melingkar diperutnya, "Tentu saja tidak, aku baru saja berhasil menjebak mereka dan kini mereka tidak lagi bisa memaksaku."
Vanes ikut tersenyum, "Jadi kau tidak akan menikah dengan putri mereka?"
Faris mengangguk, "Tidak sayang, apa kau masih khawatir?"
Suara lembut Faris membuat jantung Vanes berdegup kencang.
"Aku tidak khawatir, aku hanya bertanya." bohong Vanes tidak ingin Faris tahu jika sebenarnya Ia sangat mengkhawatirkan Faris akan menikah dengan wanita lain.
Faris berdecak, "Padahal aku ingin kau khawatir."
Dibelakang Vanes tersenyum geli, Ia dan Faris memang sudah bucin satu sama lain.
Sampai dikampus, Faris menuju keruangannya dan Vanes langsung pergi ke kelasnya.
Mereka mulai dengan kegiatan masing masing hingga jam makan siang tiba, Vanes pergi keruangan Faris untuk makan siang bersama.
Vanes tak mengetuk pintu, langsung masuk begitu saja karena biasanya dia juga seperti itu. Vanes terkejut saat ada satu mahasiswi yang berada diruangan Faris. Vanes merasa tak enak hingga Ia memutuskan untuk keluar.
"Jangan keluar, duduklah disana sampai aku selesai." pinta Faris menunjuk ke arah sofa.
Mau tak mau Vanes mengikuti apa yang Faris katakan. Vanes bisa melihat wajah kesal mahasiswi yang ada diruangan Faris.
"Kamu kerjakan ini saja lalu kumpulkan pada saya besok pagi." ucap Faris memberikan selembar kertas berisi tugas pada mahasiswi itu, "Sekarang kamu boleh keluar." pinta Faris yang langsung diangguki oleh mahasiswi itu dan segera keluar dari ruangannya.
Faris tersenyum lalu menghampiri Vanes yang tengah menyiapkan makan siang untuknya.
"Dia tampak kesal." ucap Vanes saat Faris sudah duduk disampingnya.
"Jangan pedulikan siapapun, kadang aku bersyukur ada kamu disini karena mahasiswi disini sangat menakutkan."
Vanes tersenyum lalu memberikan jatah makanan untuk Faris yang sudah Ia siapkan, "Apa mereka menggodamu?"
Faris mengangguk, "Mereka berusaha menggodaku tapi imanku sangat kuat, aku tidak akan tergoda karena sudah memiliki wanita yang jauh lebih cantik dari mereka.
Seketika wajah Vanes memerah malu mendengar pujian Faris, jantungnya bahkan berdegup kencang.
Faris selalu menyelipkan kata kata romantis untuknya saat keduanya bersama, membuat Vanes semakin jatuh cinta dan tidak mau kehilangan Pria itu.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komennn