
Faris memanjat pohon mangga ditaman belakang rumah Wira. Ia kembali mengambil beberapa mangga mentah untuk Vanes yang lagi lagi ngidam ingin dibuatkan rujak.
Setelah berhasil memetik 3 buah mangga muda, Faris turun dari pohon dimana Bik Sri dan Vanes sudah menunggunya dibawah.
"Biar saya kupasin mangga nya Den, sambelnya juga sudah Bibik buatin." pinta Bik Sri.
Faris memberikan mangga pada Bik Sri, "Memang nggak apa apa Bik kalau sore gini makan rujak?"
Bik Sri tersenyum, "Nggak apa apa Den, orang hamil kalau minta memang sudah nggak tepat waktu tapi aman kok Den nggak bakal terjadi apa apa." kata Bik Sri langsung membawa mangganya masuk ke dapur.
"Aku udah nggak sabar mau makan mangganya mas." ucap Vanes.
Faris tersenyum, "Ya sudah sana ditungguin, aku mau mandi dulu." ucap Faris yang langsung diangguki oleh Vanes.
Faris pergi ke kamar untuk mandi dan Vanes sudah berada dimeja makan, menunggu Bik Sri selesai mengupas dan memotong mangga.
"Papa pulang..." suara Wira terdengar mendekat dan langsung ikut duduk disamping Vanes.
"Sara mana Pa?" tanya Vanes beranjak dari duduknya untuk mengambilkan Wira air minum.
"Kencan sama si Arga."
Vanes tersenyum lalu memberikan segelas air minum dan kembali duduk bersama Wira, "Trus Papa pulang sama siapa?"
"Dianterin sama Herman."
Vanes berohh ria, "Kok bisa Sara mau kencan sama Arga? Sudah diterima cintanya Arga?" tanya Vanes masih terheran heran.
Wira menggelengkan kepalanya, "Papa juga nggak tahu, ya doakan saja semoga Sara bisa membuka hatinya untuk Arga."
Vanes mengangguk, "Vanes juga setuju sama Arga, meskipun anaknya usil tapi Arga keliatan baik."
Wira menghela nafas panjang, "Arga itu cuma kesepian, setelah ditinggal meninggal oleh Ibunya dia merasa kesepian jadi anaknya gitu."
Vanes berohh ria menanggapi ucapan Wira.
"Eh Papa sudah pulang." suara Faris terdengar bersamaan dengan Bik Sri yang sudah selesai mengupas dan memotong mangga muda.
"Dapet ikan berapa Pa?" tanya Faris ikut bergabung.
"Dapet 5 Papa kasih ke orang." balas Wira.
"Papa mah gitu, suka mancing tapi nggak suka makan ikannya." protes Vanes sambil mengunyah mangga mudanya.
"Namanya juga hobi." kata Wira lalu tertawa.
Faris menatap ke arah Vanes yang sangat lahap menikmati mangga muda hingga sepiring ludes dihabiskan oleh Vanes sendirian.
"Papa takut perutmu sakit." ucap Wira merasa khawatir.
"Nggak Pa... Aman kok aman."
"Ngeyel memang ya." Wira mencubit pipi Vanes.
"Papa ih." Vanes melepaskan tangan Wira dari pipinya.
Wira dan Faris tertawa melihat Vanes kesal.
"Papa mau mandi dulu." ucap Wira lalu beranjak dari duduknya.
"Biar saya siapkan air hangatnya Tuan." ucap Bik Sri bergegas ke kamar Wira.
Tanpa sadar, Wira memandangi ke arah Bik Sri.
"Bisa bisa matanya copot tuh Pah kalau dibuat ngeliat wanita cantik." celetuk Vanes yang langsung membuat Wira tertawa.
"Memang susah ya mau dapet wanita cantik." Kata Wira masih tertawa.
Wira berjalan meninggalkan meja makan, langkahnya terhenti saat mendengar panggilan Vanes, "Pa..."
Wira kembali berbalik, "Apa lagi?"
"Bik Sri jangan diperkosa." celetuk Vanes lalu tertawa bersama Faris.
Wira ikut tertawa, "Gila, Papa udah tua. Nggak mau nambah dosa lagi." ucapnya lalu pergi meninggalkan Vanes dan Faris yang masih tertawa.
Wira masuk ke kamar dan masih melihat Bik Sri disana sedang menyiapkan baju ganti yang akan dia pakai.
"Airnya sudah siap Tuan." kata Bik Sri bersiap untuk keluar dari kamar Wira.
"Maaf Tuan..." Bik Sri menunduk, tak berani menatap Wira.
"Apa karena aku sudah tua dan penyakitan?"
Bik Sri segera menggelengkan kepalanya, "Tidak Tuan, bukan seperti itu."
"Lalu apa?"
"Saya hanya masih belum siap Tuan." akui Bik Sri.
Wira menghela nafas panjang, "Ya sudah, aku tidak bisa memaksa." ucap Wira.
"Maafkan saya Tuan." Bik Sri segera keluar dari kamar Wira.
Setelah menutup pintu kamar Wira, Bik Sri masih berdiri didepan kamar Wira. Menghela nafas berkali kali dan kembali memikirkan tawaran Wira.
Waktu itu Bik Sri sudah menolak lamaran Wira, Bik Sri pikir Wira tak lagi menawarinya masalah pernikahan namun siapa sangka Wira masih berharap padanya.
Bik Sri benar benar bingung saat ini.
Jika boleh jujur dari dalam hatinya, sebenarnya Bik Sri juga sudah menaruh hati pada Wira. Menurutnya Wira itu pria yang hangat dan baik hati hanya saja ada beberapa alasan yang membuatnya masih belum menerima Wira. Bik Sri takut jika menikah dengan Wira akan banyak orang yang mengatakan Ia hanya menginginkan harta Wira saja dan belum lagi Ia harus meminta restu pada anaknya, dulu saja setelah suaminya meninggal, ada yang datang melamar Bik Sri langsung ditolak oleh putranya karena putra Bik Sri tak ingin ada yang menggantikan posisi mendiang ayahnya, hal itu membuat Bik Sri sampai sekarang enggan menikah lagi.
Bik Sri menghela nafas panjang, sepertinya Ia harus pulang kerumah untuk menanyakan hal ini pada putranya. Entah putranya akan menerima atau tidak yang penting Bik Sri akan berusaha untuk meminta restu putranya lebih dulu.
Sementara itu dipanti asuhan....
Selesai makan malam bersama anak anak dan pengurus panti, Arga dan Sara pamit untuk pulang.
"Mas Arga jangan lupa tanggal 15 kesini lagi, kita main bola lagi." teriak salah satu anak.
Arga mengangguk, "Siap, tapi janji jangan kalah lagi ya?"
"Nanti kita bakal latihan biar bisa ngalahin mas Arga!" teriak anak anak itu bersahutan.
"Sudah sudah, sekarang pergi ke kamar untuk belajar." pinta Wida pada anak anak asuhnya.
"Siap Ibu."
Setelah mencium punggung tangan Arga dan Sara, Anak anak segera masuk ke kamar.
Kini giliran Arga dan Sara yang mencium punggung tangan Bu Narsih.
"Kami pamit ya bu." ucap Arga.
"Terima kasih ya Nak, semoga rejekinya bertambah banyak dan jangan lupa nanti kalau nikah ibunya di undang." ucap Bu Narsih.
"Siap Bu." balas Arga sambil cengegesan.
Arga dan Sara memasuki mobil, Sara sempat melambaikan tangan pada Bu Narsih, Bu Wida dan Bu Heni hingga mobil melaju meninggalkan panti asuhan.
"Seneng nggak?" tanya Arga pada Sara.
"Seneng, main sama anak anak ternyata bisa bikin mood baik." akui Sara.
"Ya memang gitu,"
Sara ingat jika Ia ingin mengucapkan sesuatu pada Arga.
"Mas Arga..."
"Mas?" Arga malah tertawa saat Sara memanggilnya mas.
Sara berdecak, "Sudahlah, nggak jadi."
"Oke oke udah nggak ketawa sekarang, ada apa?" tanya Arga mulai fokus meskipun harus menahan rasa gelinya.
"Nggak jadi."
"Dih ngambek."
Sara menghela nafas panjang, "Aku cuma mau minta maaf karena sudah menuduhmu mencari muka." kata Sara.
Arga hanya tersenyum tipis.
Bersambung ....
Jangan lupa like vote dan komennn.