TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
220


Mobil yang dikemudikan Faris akhirnya sampai dirumah kontrakan dimana kedatangan mereka langsung disambut hangat oleh Wira dan yang lainnya.


"Selamat atas pernikahan Bapak, semoga sakinah sampai maut memisahkan." ucap Asih pada Wira.


"Terima kasih banyak atas doanya dan terima kasih banyak sudah menyempatkan untuk datang dan menemani kami." balas Wira.


Asih mengangguk lalu mengambil kotak hadiah yang sudah Ia siapkan untuk Wira. Kain tenun yang sudah Ia siapkan untuk Wira.


"Hanya hasil tangan saya sendiri, tidak bisa memberikan yang lebih layak lagi."


Wira tampak senang menerima hadiah dari Asih, "Terima kasih banyak Bu, ini sangat indah lebih dari apapun. Saya justru tidak enak karena merepotkan." kata Wira.


Asih menggelengkan kepalanya, "Sama sekali tidak merepotkan Pak."


Mereka pun duduk dikursi untuk berbincang sebentar.


"Budhe nanti tidurnya sama Rani saja." ajak Rani pada Asih.


"Lho memang Yesi kemana?" tanya Faris dan Vanes hampir bersamaan.


"Wang mengajak Yesi pulang, entah ada masalah apa." balas Wira mengingat sore tadi Wang pamit padanya akan pulang. Wira pikir Wang masih marah karena ucapan Herman tapi ternyata bukan tentang Herman. Wira sempat melihat Wang mengacuhkan Yesi yang artinya mereka sedang bertengkar.


"Tadinya aku mau tidur diluar biar Ibu sama Vanes tapi karena Yesi sudah pulang jadinya Ibu sama Rani saja." kata Faris yang langsung diangguki oleh Asih.


"Kalau begitu Rani anter ke kamar sekarang aja yuk Budhe, pasti capek kan habis perjalanan jauh." ajak Rani.


"Iya silahkan istirahat, kami juga mau istirahat." ucap Wira.


Asih mengangguk, "Baiklah kalau begitu saya ke kamar sekarang."


Dengan raut wajah senang, Rani merangkul lengan Asih dan mengajaknya ke kamar.


"Besar sekali kamarnya." ucap Asih.


"Besar Budhe, bisa buat main bola disini." kata Rani.


Asih tertawa, "Kamu kelihatan gemukan ya Ran?"


"Masa sih Budhe?" Rani berlari ke arah lemari dimana ada cermin disana, Ia melihat dirinya dicermin, "Nggak ah Budhe, masih sama saja."


Asih tersenyum, "Nggak apa apa gemuk, menandakan kalau kamu bahagia sekarang."


Rani tersenyum lalu duduk disamping Asih, "Bahagia terus kok Budhe."


"Kamu jarang pulang ya sekarang? Dulu awal awal ke kota kamu pulang seminggu sekali." kata Asih.


Rani mengangguk, "Nggak pulang yang penting transferan lancar kan Budhe." kata Rani lalu tertawa.


Asih tersenyum, "Kamu lagi marah sama Ibumu?"


Rani mengangguk jujur, "Rani mau nikah tapi nggak dibolehin sama Ibu karena Ibu takut kalau Rani sudah menikah nggak transfer uang buat rumah lagi."


"Kalau bapak gimana?"


"Bapak sudah setuju tapi Ibu saja yang susah, disuruh nunggu satu tahun lagi." ungkap Rani.


"Berarti Rani harus sabar nunggu 1 tahun lagi, nggak lama kok cuma sebentar yang penting kan Ibu ngasih restu."


Rani berdecak, "Tapi kasihan sama Mas Dylan Budhe, mas Dylan sudah pengen nikah tapi malah Rani nya belum dibolehin nikah."


"Kalau Mas Dylan bener cinta dan sayang sama kamu pasti dia akan sabar nunggu kamu. Jangan khawatir."


"Tapi kalau Mas Dylan nggak sabar trus berubah pikiran gimana Budhe?"


"Ya berarti itu bukan jodoh kamu."


Rani menghela nafas panjang, "Gimana bisa nggak jodoh padahal aku udah kasih segalanya yang aku punya buat mas Dylan." batin Rani.


"Budhe cuma mau ingetin kamu harus hati hati, harus bisa jaga diri kamu sebagai perempuan agar tak menyesal nantinya. Jadikan Mbak Rina sebagai pelajaran jangan kamu ulangi perbuatan Mbak Rina yang tidak baik. Kasihan Bapak sama Ibu kamu." nasihat Asih.


"Iya Budhe, Rani bakal jaga diri dengan baik."


Sementara itu dikamar samping, Wira memasuki kamar Herman dan melihat Herman tengah berkutat didepan layar laptopnya.


"Kerja terus... kerja terus." cibir Wira ikut duduk disamping Herman membawa kotak hadiah pemberian dari Asih.


"Ya gimana, gue juga butuh makan kalau nggak kerja nggak bisa makan."


Herman ikut tertawa.


"Mau pamer nih." celetuk Wira memperlihatkan kotak hadiah dari Asih, "Tenunan home made dari besan."


Mata Herman langsung melotot melihat kain tenun indah yang dibawa oleh Wira.


"Dari emaknya Faris?"


Wira mengangguk, "Betul sekali, pengen nggak?"


Herman mengangguk, "Mau kasih ke gue?" tangan Herman terulur ingin mengambil kain tenun milik Wira namun seketika dipukul oleh Wira.


"Enak saja, kalau mau ya sana minta sendiri." kata Wira lalu tertawa.


"Udah datang orangnya?"


Wira mengangguk,


"Keluar ah, penasaran." kata Herman menutup laptopnya lalu beranjak dari duduknya meninggalkan Wira begitu saja.


Wira menggelengkan kepalanya, "Keluar mau cari siapa orangnya aja udah masuk didalam kamar."


Herman yang baru sampai didepan pintu berdecak lalu berbalik kembali duduk disamping Wira.


Tengah malam, Herman masih berkutat menatap layar laptopnya hingga matanya terasa perih barulah Herman menghentikan pekerjaannya.


Herman keluar dari kamar untuk mengambil air minum dan Ia dikejutkan oleh keberadaan seorang wanita yang berada di meja makan tengah minum segelas air.


Kedatangan Herman pun juga membuat wanita itu terkejut. Wanita itu tersenyum menatap Herman. Dilihat dari raut wajah wanita itu, Herman bisa menebak jika wanita itu pastilah Ibu Faris yang dimaksud oleh Wira.


"Anda Ibunya Faris?" tanya Herman memberanikan diri.


Asih mengangguk,


"Saya Ayah mertuanya Sara." ucap Herman sambil mengulurkan tangannya.


Cukup lama tangan Herman terulur hingga akhirnya Asih mengapai uluran tangan Herman.


"Kalau begitu saya permisi mau kembali ke kamar." pamit Asih.


Herman menganggukan kepala.


Ia masih berdiri ditempatnya, masih menatap punggung Asih yang semakin lama menjauh dan menghilang.


"Sial, ternyata tidak hanya cantik tapi tuturnya sangat lembut." gumam Herman.


Paginya...


Semua orang sudah bersiap pergi ke masjid tempat untuk ijab kabul Wira dan Bik Sri.


Hanya butuh beberapa detik untuk Wira mengucapkan ijab dan kabul hingga kini mereka sah menjadi suami istri.


Wira terlihat lega dan bahagia begitu juga dengan Bik Sri dan semua keluarga yang menjadi saksi pernikahan mereka.


Setelah ijab dilanjutkan acara resepsi yang sudah disiapkan oleh pihak Bik Sri.


"Ibu mau pamit ke toilet dulu." ucap Asih pada Vanes.


"Biar aku anterin Bu."


Asih menggelengkan kepalanya, "Nggak perlu, nanti kamu capek." kata Asih yang akhirnya dituruti oleh Vanes.


Asih pergi ke toilet sendiri saat keluar dari toilet Asih berpapasan dengan Herman. Melihat Herman, Asih tersenyum mencoba menyapa ramah Herman.


"Sudah makan?" tanya Herman saat Asih mau melewatinya membuat wanita itu menghentikan langkah kakinya untuk menjawab pertanyaan Herman.


"Sudah."


"Kenapa-"


"Ayah... Ngapain dah?" suara Arga terdengar membuat Herman tak melanjutkan ucapannya.


Herman menatap kesal ke arah Arga yang menjadi penganggu.


Bersambung....