
Mira berjalan menaiki tangga menuju rooftop kantor. Matanya terlihat memerah seolah menahan tangis dan jantungnya berdegup kencang merasakan gemuruh sakit dihatinya.
Mira membuka pintu rooftop, Ia melihat Nathan berdiri disana tengah menghisap rokoknya.
"Apa yang terjadi?" tanya Nathan melihat Mira sangat berantakan.
Tanpa mengatakan apapun, Mira membuang rokok Nathan lalu mencium bibir pria itu.
Awalnya Nathan terkejut namun semakin lama Nathan menikmati ciuman Mira yang terasa mengebu.
Mira melepaskan ciumannya, Ia mengalungkan kedua tangannya dileher Nathan, "Kau benar, saat dia sudah jatuh cinta dengan istrinya, dia akan membuangku." kata Mira dengan raut wajah sedih.
Kini akhirnya Nathan mengerti apa yang dirasakan oleh Mira.
Nathan membawa Mira memasuki sebuah ruangan kosong yang ada dirooftop. Tak menunggu lama, Nathan kembali mencium Mira, "Aku akan membuatmu lupa tentang rasa sakit yang kau rasakan hari ini." kata Nathan segera melucuti baju Mira dan mulai memainkam permaianan panasnya hingga Mira merasa ngefly dan lupa akan rasa sakitnya barusaja.
"Thank you." ucap Mira lalu mengecup bibir Nathan membuat pria itu tersenyum kegirangan.
Mira segera keluar dari ruangan kosong itu setelah memakai kembali semua bajunya.
"Dari mana saja?" tanya Rizal saat Mira memasuki ruangan.
"Cari angin."
"Ada banyak pekerjaan, jangan bersantai hanya karena kau sedang marah padaku. Jangan campurkan pekerjaan dengan urusan pribadi!" omel Rizal.
Mira benar benar sakit hati dengan ucapan Rizal. Pria itu tidak pernah sekasar ini padanya. Mira duduk ditempatnya dan langsung mengerjakan berkas yang ada dimeja tanpa membalas ucapan Rizal karena jujur Ia sudah sangat sakit hati dengan Rizal.
Saat jam makan siang pun, Mira berjalan keluar lebih dulu meninggalkan Rizal hingga sampai dikantin Ia bergabung dimeja yang ditempati oleh Nathan.
"Kau pindah sana." usir Rizal pada Nathan padahal baru saja datang.
"Baik pak." Nathan tak melawan dan bergegas pergi meninggalkan Mira.
Mira menatap kesal Rizal, pria itu benar benar egois bahkan tidak meminta maaf tentang apa yang terjadi diantara mereka.
Keduanya makan siang dan sama sama membisu, tidak ada obrolan hangat seperti biasa.
"Mau ku antar?" tanya Rizal saat jam pulang tiba.
"Tidak, aku bisa pulang sendiri." tolak Mira.
"Baiklah." ucap Rizal lalu meninggalkan Mira begitu saja.
Mira terlihat mengepalkan tangannya.
Rizal memasuki mobil dan melihat Faris sudah berada didalam mobil tengah memainkan ponselnya.
"Masih marah mas?" tanya Faris memasukan ponselnya ke dalam kantong celana.
"Ck kayak anak kecil aja Ris."
Faris tertawa, "Gara gara proyek baru ya mas?" tebak Faris.
Rizal mengerutkan keningnya, "Proyek baru apa?"
"Mas Rizal stres gara gara mikir proyek baru kita ya?"
Rizal berdecak, "Nggak gara gara itu, mungkin karena emang lagi masuk angin aja jadi bawaanya sensi. Lo sakit hati karna ucapan gue tadi pagi?"
Faris menggelengkan kepalanya, "Sama sekali enggak kok mas."
Rizal menepuk bahu Faris, "Thank you udah ngertiin posisi gue."
Faris mengangguk.
Sesampainya dirumah, Rizal tak lagi mengharap Vanes menyambutnya karena lagi lagi Vanes tak menyambut kepulangannya namun malam ini Vanes masak untuk makan malam.
"Kamu nggak ada rencana pulang kampung?" tanya Vanes pada Faris disela sela makan.
"Nanti mbak habis gajian mungkin, kenapa mbak?" tanya Faris merasa aneh karena tiba tiba Vanes bertanya dan didepan Rizal pula.
Rizal yang berada dimeja makan pun sangat kesal dengan sikap Vanes yang hanya berbicara dengan Faris saja tanpa mengubris dirinya sama sekali.
Rizal meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan makanannya.
"Ada apa dengannya?" heran Vanes menatap punggung Rizal.
"Dari pagi memang agak sensitif mbak, nggak tau karena apa."
"Ohh mungkin ada masalah sama pacarnya."
Faris mengangguk setuju, "Mungkin mbak."
Selesai makan malam, Faris membantu Vanes mencuci piring dan membersihkan meja makan.
"Sudah mengantuk?" tanya Vanes.
Faris menggelengkan kepalanya, "Kenapa mbak? Mau ngajak nonton lagi?"
Vanes tersenyum mengangguk,
Keduanya akhirnya duduk diruang tengah untuk menonton sambil sesekali bercerita dan tertawa bersama.
Tanpa disadari, Rizal menatap keduanya dari atas. Rizal tampak geram dan marah hingga Ia turun lagi ke bawah dan langsung menarik tangan Vanes.
"Ada yang ingin ku bicarakan." kata Rizal langsung membawa Vanes pergi dari sana.
Faris terlihat tak terima saat Rizal membawa Vanes naik ke atas namun Ia juga tidak memiliki kuasa apapun untuk membantu Vanes. Yang Ia lakukan hanya diam dan melihat Rizal bersikap kasar pada Vanes.
"Ada apa denganmu? Apa yang ingin kau katakan?" Vanes melepaskan genggaman tangan Rizal.
"Aku sakit." adu Rizal.
"Lalu? Bukankah kau bilang ingin dirawat oleh kekasihmu?"
"Aku mengatakan itu karena kau tak menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri!!" sentak Rizal.
Vanes tertawa, "Kau berbicara seperti itu seolah olah kita ini dekat."
Rizal semakin geram karena merasa Vanes meremehkannya, "Kenapa kau berubah? Kau tidak seperti ini sebelumnya." kata Rizal merasa penasaran karena selama mereka menikah Vanes selalu bersikap baik layaknya seorang istri. Vanes bahkan selalu perhatian saat dirinya sakit.
"Karena sekarang memang sudah waktunya aku untuk berubah."
"Apa maksudmu?" tanya Rizal masih tak mengerti.
"Kau memberikan waktu 1 tahun untuk pernikahan kita begitupun juga aku, memberikan waktu 6 bulan untuk menjadi istri terbaik. Jika kau merespon baik aku akan melanjutkan kewajibanku dengan baik namun nyatanya hampir 7 bulan kita menikah, aku tidak pernah mendapatkan feedback yang baik darimu jadi sepertinya aku memang harus menyerah."
Entah mengapa Rizal merasakan sesak dadanya. Ia mengakui jika selama 7 bulan bersama dengan Vanes sama sekali tidak melihat kebaikan Vanes dan setelah Vanes berubah barulah Rizal merasakan.
"Aku setiap pagi membuatkanmu sarapan meskipun sering tidak makan. Aku mengirim bekal saat kau tidak pulang dan aku selalu menunggumu pulang meskipun kau jarang pulang. Aku menunggu, aku berbohong pada orangtua kita agar hubungan kita terlihat baik baik saja didepan mereka namun apa kau pernah sekalipun melihat diriku?"
Rizal menunduk, kini Ia benar benar sadar betapa brengseknya Ia selama ini.
Rizal berjalan mendekat, ingin merengkuh tubuh gadis yang sudah sah Ia nikahi itu namun sayang Vanes malah menghindar sama sekali tak ingin disentuh.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." pinta Rizal.
Vanes menggelengkan kepalanya, "Sudah sangat terlambat."
"Tidak ada kata terlambat, masih ada 5 bulan tersisa. Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku."
Vanes tersenyum, "5 bulan waktu yang kau buat sendiri, bagiku waktu kita sudah habis." Kata Vanes lalu keluar dari kamar Rizal.
Vanes kembali turun untuk mengambil air minum dan Ia dikejutkan oleh Faris yang tiba tiba dibelakangnya.
"Kau baik baik saja?" tanya Faris dengan raut wajah khawatir.
Vanes tersenyum, entah mengapa Ia merasa diperhatikan, "Ya, aku baik baik saja."
Bersambung...