
Arka menatap wajah Sri Ibunya, Ia terkejut sangat terkejut dengan ucapan Ibunya yang mengatakan jika ingin menikah lagi.
Arka berharap Ibunya sedang bercanda saat ini namun melihat raut wajah Sri seolah mengungkapkan jika Sri tidak bercanda saat ini.
Sri benar ingin menikah lagi.
Tidak... Arka tidak akan membiarkan itu terjadi, Arka tidak ingin posisi Ayahnya digantikan oleh pria manapun.
"Jadi Ibu sudah punya kekasih?" tanya Arka dengan tatapan sinis.
Sri menggelengkan kepalanya, "Tidak, bukan kekasih. Dia majikan Ibu, dia melamar Ibu."
Arka masih tersenyum sinis, "Apa mungkin Ibu yang mengodanya?"
"Tidak nak... Dia pria yang baik dan tulus, tidak seperti yang kau pikirkan."
"Jadi Ibu sudah jatuh cinta padanya?"
Sri menunduk, tak ingin melihat tatapan kecewa Arka karena apa yang Arka tebak itu benar, Ya mungkin saat ini Sri sudah jatuh cinta pada Wira.
Melihat Sri hanya diam tak menjawab ucapannya membuat Arka paham jika mungkin Sri tertarik dengan pria yang tak Arka kenali itu.
Arka sangat kecewa, Ia beranjak dari duduknya, meninggalkan Sri yang masih duduk disana.
Sri menghela nafas panjang, sudah beberapa tahun berlalu namun Arka masih belum mengizinkan dirinya untuk menikah lagi.
Sri sangat bingung saat ini, disatu sisi Ia tak mau mengecewakan Wira namun di sisi lain Ia juga harus memikirkan perasaan Arka.
Sri beranjak dari duduknya, mungkin malam ini Ia harus menenangkan diri juga memberi waktu Arka untuk berpikir. Sri akan mengajak Arka bicara besok pagi lagi.
Pagi harinya...
Setelah sholat subuh, Sri membuatkan sarapan untuk Arka.
Sri menunggu Arka keluar dari kamarnya namun hampir pukul 7 pagi, Arka belum keluar dari kamarmya.
Sri pikir Arka masih tidur, Ia berencana untuk membangunkan Arka namun saat Sri masuk ke dalam kamar Arka, kosong tidak ada siapapun disana.
"Kapan Arka keluar kamar?" gumam Sri.
Karena khawatir, Sri mendial nomor Arka namun sayangnya tidak ada jawaban dari Arka.
Sri memutuskan pergi kerumah tetangganya dimana ada teman satu sekolahan dengan Arka.
"Nang, bulek boleh minta tolong nggak?" pinta Sri pada Nanang yang baru akan berangkat sekolah.
"Tanya apa bulek?"
"Minta tolong telponin Arka, tanyakan sudah sampai sekolahan apa belum." pinta Sri.
Nanang mengangguk, Ia segera mengambil ponselnya lalu mendial nomor Arka.
"Sudah sampai? Oh oke." ucap Nanang lalu mengakhiri panggilan.
"Tenang saja bulek, Arka sudah sampai sekolahan."
Sri bernafas lega, "Makasih ya Nang." ucap Sri lalu pergi dari rumah Nanang.
"Apa Arka berangkat sebelum subuh ya?" gumam Sri sesampainya dirumah lagi.
Sri menatap ke arah meja makan dimana makanan yang baru saja Ia buat sia sia karena Arka tak sarapan dirumah.
"Harus gimana sekarang, Arka benar benar marah." gumam Sri dengan wajah lesu.
Baru ingin membereskan makanan yang ada dimeja, ponsel Sri berdering dan saat Ia buka ternyata panggilan dari Wira.
"Tuan..." sapa Sri dari dalam telepon.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Wira.
"Saya baik Tuan, maafkan saya Tuan, saya masih belum berhasil membujuk putra saya." ungkap Sri.
Wira terdengar menghela nafas panjang, "Jika begitu, aku akan bersabar lagi."
"Sekali lagi maafkan saya Tuan."
"Bukan salahmu, jangan terlalu menyalahkan diri seperti itu." ucap Wira, "Kita tunggu saja sampai putramu mengizinkan kita menikah, aku akan bersabar."
Sri bernafas lega, "Baiklah Tuan."
"Cepatlah kembali, kami disini merindukan masakanmu." ungkap Wira yang langsung membuat Bik Sri tersenyum.
"Baiklah Tuan."
"Telepon siapa Pa?" tanya Sara kepo.
"Bik Sri.''
Sara tak jadi meneguk segelas susunya karena takut tersedak setelah mendengar jawaban santai Wira.
"Bucin amat Pa... Baru juga nggak ketemu sehari udah ditelponin!"
Wira tersenyum, "Ya nggak apa apa, namanya juga cinta." balas Wira cuek.
Sara hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Kamu kalau sudah cinta sama Arga harusnya juga berjuang dong biar dapat maaf dari Arga." pinta Wira.
Sara menghela nafas panjang, "Nanti kalau Arga jemput, biar Sara minta maaf lagi Pa."
Wira mengangguk setuju,
"Masih belum ada perkembangan kasusnya Pa?"
Wira menggelengkan kepalanya, "Nanti Papa mau ke kantor polisi lagi buat cari tahu dan usahakan siang nanti kamu datang ke pemakaman Ken." pinta Wira yang langsung diangguki oleh Sara.
Faris, Vanes dan Rani yang baru turun langsung ikut bergabung dimeja makan.
"Nanti siang pemakaman Ken, usahakan kalian datang." pinta Wira.
Faris mengangguk, "Gimana perkembangan kasusnya Pa?"
"Masih belum tahu, nanti Papa mau ke kantor polisi buat menanyakan."
"Mau dianter Pa? Hari ini lumayan agak senggang." tawar Faris yang langsung di gelenggi oleh Wira.
"Nggak perlu, kamu anterin Vanes saja."
Faris mengangguk paham.
"Papa udah dapat kabar dari Bik Sri?" tanya Vanes penasaran dengan kelanjutan kisah cinta Wira.
"Duh kamu telat Nes, barusan Papa abis telponan sama Bik Sri." celetuk Sara.
"Ciee... Gimana Pa? Udah dapat restu belum?" tanya Vanes tak sabar.
Wira menghela nafas panjang, "Belum, sepertinya Papa harus sabar lagi."
Senyuman Vanes berubah, tidak selebar tadinya.
"Ngomong ngomong pacar Lo nggak jemput Sar?" tanya Faris pada Sara, mencoba mencairkan suasana.
Sara menggelengkan kepalanya, "Masih ngambek sama aku."
Vanes tersenyum, "Semangat berjuang Sar..."
Selesai sarapan, semua orang bersiap untuk berangkat.
"Lah itu mobilnya Arga." ucap Faris saat sudah didepan rumah dan ada mobil Arga disana.
Sara tersenyum, Ia pikir Arga datang menjemputnya namun seketika senyum Sara pudar saat melihat Zil keluar dari mobil.
"Selamat pagi Nona, saya akan mengantar Nona ke kantor." ucap Zil.
Sara celinggukan melihat ke dalam mobil dan benar benar tidak ada Arga disana.
"Tidak perlu repot Zil, aku bisa berangkat sendiri." tolak Sara.
"Tapi Nona, Tuan mengatakan jika saya harus..."
"Zil, tidak perlu. Aku akan naik mobil ku sediri." potong Sara lalu berjalan meninggalkan Zil dan memasuki mobilnya.
Didalam mobil Sara berdecak kesal, Tak menyangka jika Arga masih kesal padanya hingga tak datang menjemputnya dan malah meminta Zil untuk menjemputnya.
"Benar benar menyebalkan!" omel Sara.
Siang harinya, Sara pergi ke pemakaman Ken. Untuk terakhir kalinya Ia datang menemui Ken yang sudah tak bernyawa lagi.
Tanpa sadar, Sara menitikan air matanya, Ia kembali mengingat saat pertama kali mengenal Ken hingga akhirnya bisa jatuh cinta pada Ken.
Meskipun Ken melukiskan luka dihatinya namun Ken juga yang membuat dirinya lebih baik hingga hubungannya bersama Wira juga membaik.
"Selamat jalan Ken... Aku sudah mengikhlaskan segalanya. Semoga Tuhan mengampuni dosa dosamu."
Bersambung...