TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
233


Rani baru selesai makan siang tiba tiba merasakan perutnya mual hingga Ia memuntahkan isi perutnya diwastafel kamar mandi ruangan Dylan.


Melihat Rani muntah pun membuat Dylan sangat khawatir, membantu Rani menepuk nepuk bahunya agar Rani bisa segera merasa lega.


"Ku antar pulang saja ya?" bujuk Dylan tak tega melihat wajah pucat Rani.


Rani menggelengkan kepalanya, "Enggak mas, kalau pulang dalam keadaan sakit gini malah bikin orang rumah curiga."


Dylan menghela nafas panjang, "Semua karena kebodohanku," sesal Dylan, "Kalau begitu istirahat saja disini, jangan bekerja lagi."


Rani mengangguk, menuruti ucapan Dylan. Ia berbaring di sofa yang ada diruangan Dylan. Saat ini Rani merasakan perutnya mual dan kepalanya sangat pusing, Ia bahkan juga merasa lemas.


"Kita pulang lebih awal untuk periksa." ajak Dylan.


Rani kembali menggelengkan kepalanya, "Jangan sekarang mas."


"Kenapa?"


"Aku malu." ucap Rani lalu menundukan kepalanya, "Jika klinik tahu kita belum menikah pasti akan sangat memalukan." tambah Rani.


Dylan kembali menghela nafas panjang, "Lalu bagaimana sekarang? Aku tak tega melihatmu seperti ini." kata Dylan.


"Mas... besok kita cuti saja ya? Kita pulang kampung." pinta Rani, "Aku hanya ingin segera menikah agar merasa tenang."


Dylan terdiam sejenak, memikirkan permintaan Rani lalu mengangguk setuju, "Baiklah, lebih cepat lebih baik." ucap Dylan.


Rani tersenyum lega lalu memeluk Dylan. Rani merasa beruntung karena pria yang menghamilinya adalah Dylan yang mau bertanggung jawab padanya tidak seperti mantan kekasih Rina yang langsung meninggalkan Rina saat tahu hamil.


Sore harinya... Dylan segera mengantar Rani pulang ke rumah. Melihat Rani yang semakin pucat membuat Dylan terpaksa meminjam mobil kantor untuk mengantar Rani. Dylan tak tega jika harus membiarkan Rani naik motornya dalam keadaan seperti ini.


"Rani kamu kenapa?" Asih yang sedang berada didepan rumah menatap Rani khawatir.


"Masuk angin Budhe." Balas Rani yang saat ini sedang dipapah oleh Dylan.


"Ini..." Asih menatap Dylan karena memang belum berkenalan dengan Dylan secara resmi.


"Mas Dylan, pacar Rani." ucap Rani memperkenalkan Dylan pada Asih.


"Ohh saya Ibunya Faris, budhe nya Rani." Asih mengulurkan tangan yang langsung dicium oleh Dylan.


"Kalau begitu masuk dulu biar Budhe buatin minum." ajak Asih.


Dylan langsung menggelengkan kepalanya, "Enggak perlu Budhe, saya langsung pulang saja biar Rani bisa istirahat soalnya besok saya dan Rani ingin pulang kampung."


Asih mengerutkan keningnya heran, "Lho kenapa pulang? Bukannya besok masih hari kerja?"


Rani terlihat gugup, "Anu Budhe mau ambil berkas buat melengkapi formulir kantor." bohong Rani.


"Ohh ya sudah kalau begitu, Nanti Budhe minta Faris beli oleh oleh buat orang rumah." kata Asih yang langsung diangguki oleh Rani.


Dylan segera pamit agar Rani bisa masuk ke dalam dan istirahat.


"Lagi ada masalah?" tanya Asih saat dikamar Rani.


"Enggak kok Budhe, nggak ada masalah apa apa."


"Yakin?" tanya Asih lagi seolah tak percaya.


Rani mengangguk lalu berbaring membuat Asih tak ingin menganggu dan keluar dari kamar Rani.


Malamnya...


Selesai makan malam, Faris dan Vanes bersiap pergi untuk membelikan oleh oleh yang diminta Asih.


Saat akan keluar, keduanya berpapasan dengan Arka yang sudah berpakaian rapi.


"Mau kemana?"


"Temenku ulang tahun mas, suruh kesana."


"Mau naik apa?"


"Taksi paling mas."


"Pake mobil Papa saja." saran Vanes yang langsung di gelengi oleh Arka.


"Enggak Mbak, naik taksi aja."


"Kalau gitu aku anterin dulu saja sekalian mau keluar ini." tawar Faris.


"Emang nggak apa apa mas?"


"Ya nggak apa apa, dimana party nya?"


"Club night apa ya tadi..." Arka tampak mengingat.


"Club? Kalian masih sekolah tapi ngerayain ulang tahun di club?" Vanes menatap Arka tak percaya.


"Pantes." gumam Faris, "Ya sudah ayo bareng saja." ajak Faris yang langsung diangguki oleh Arka.


"Itu kadonya?" tanya Vanes saat sudah berada didalam mobil dan melihat Arka membawa paper bag warna pink.


"Iya Mbak."


"Cewek?" tebak Vanes yang langsung diangguki oleh Arka.


"Duh adek gue hari kedua sekolah langsung dapat gebetan." puji Vanes.


Arka tersenyum, "Cuma temen Mbak."


"Dikota beda sama dikampung Arka, saran Mas kamu jangan aneh aneh kalau tinggal disini, jangan ikut pergaulan bebas juga." pinta Faris.


"Iya mas aku tahu kok."


Mobil Faris berhenti di club malam yang dimaksud Arka.


Setelah Arka turun, Faris kembali melajukan mobilnya menuju pusat oleh oleh terdekat.


"Apa mungkin Rani dan Dylan ada masalah ya mas kok tumben mereka ambil cuti buat pulang." tebak Vanes.


"Aku juga nggak tahu, semoga saja tidak." kata Faris.


Sementara itu di club malam..


Arka sudah bersama dengan Genta. Duduk disalah satu kursi sembari melihat lihat siapa saja yang datang.


"Minum bro!" Genta menuangkan segelas alkohol lalu diberikan pada Arka.


Arka langsung menggelengkan kepalanya, "Enggak dulu deh, belum terbiasa minum kayak gini."


"Trus maksud Lo? Mau minum air mineral?"


Arka mengangguk lalu tertawa, "Nggak masalah kan?"


"Culun Lo!" omel Genta.


"Ya mau gimana lagi." balas Arka lalu tersenyum tipis.


"Arka... Makasih sudah datang." suara centil Suci terdengar.


Suci mendekat dan ingin mencium pipi Arka namun seketika ditolak oleh Arka karena Ia tak mau terlalu intim dengan Suci.


"Aku nggak tahu kamu suka apa enggak, aku cuma bisa ngasih ini." ucap Arka memberikan kado yang Ia beli untuk Suci.


"Suka lah, apapun yang kamu beliin pasti aku pake." ucap Suci.


"Dih dasar gatel!" omel Genta mendengar percakapan Arka dan Suci.


Suci sama sekali tak merespon Genta, Ia fokus menatap Arka, "Aku mau minta sesuatu lagi boleh nggak?"


"Apa?"


"Nginep ya jangan pulang." pinta Suci.


Arka tertawa lalu menggelengkan kepalanya, "Enggak bisa, gue harus pulang."


Raut wajah Suci berubah kecewa, "Aku lagi ulang tahun loh ini, please."


Arka menggelengkan kepalanya, "Tetep nggak bisa, maaf banget."


"Dia tuh alim jadi nggak usah Lo ajak aneh aneh lah." ucap Genta pada Suci.


"Apa sih ganggu aja, pulang sana!" omel Suci pada Genta.


"Nggak akan, gue bakal jaga Arka dari cewek liar kayak Lo!"


Kedua mata Suci melotot menatap Genta, Ia sangat kesal dengan sepupunya yang tak mau membantunya malah membuat Arka ilfeel padanya.


"Tuh dicariin." ucap Arka pada Suci sambil menunjuk ke arah teman teman Suci agar Suci segera pergi dari sampingnya.


"Jangan buru buru pulang, tungguin aku ya." pinta Suci lalu pergi meninggalkan Arka.


"Bahaya tu cewek jangan sampai terjebak." ucap Genta pada Arka.


"Bahaya gimana?"


"Ya kalau Lo lengah bisa bisa besok pagi udah seranjang sama dia."


Arka terkejut tak menyangka jika Suci akan seliar itu.


"Cari aman mendingan gue balik aja." ucap Arka segera pergi meninggalkan club malam.


Bersambung...