TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
192


Sudah hampir 5 jam Arga berada dikantor polisi untuk pemeriksaaan. Polisi menemukan kamera cctv pinggir jalan dimana ada rekaman Ken yang memukul Arga.


Beruntung kamera itu tidak menyorot Sara hingga hanya Arga yang dibawa ke kantor polisi.


Arga sudah menjelaskan pada polisi jika semalam Ken hanya salah paham hingga memukulnya namun sepertinya polisi tidak percaya dan tetap menahan Arga sementara waktu meskipun belum dijadikan tersangka namun sebelum polisi menemukan tersangka sebenarnya, Arga harus ditahan untuk proses penyelidikan.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Ken sampai memukulmu?" tanya Wira yang sejak siang mendampingin Arga di kantor polisi.


Sejak siang Wira menanyakan masalah Arga dan ken namun Arga masih enggan menjelaskan apa yang terjadi diantara mereka.


"Tidak ada apa apa Om, hanya salah paham biasa." balas Arga masih tak mau mengakui.


"Katakan Arga, jangan ada yang kau tutupi dari ku."


Arga menghela nafas panjang, "Ken cemburu padaku, Ia tak terima jika Sara menikah dengan ku bahkan Ken mengancam akan membunuhku tapi sekarang, justru Ken yang terbunuh." ungkap Arga.


"Jadi Ken masih sering menganggu Sara?"


"Sepertinya om."


Sara dan Zil datang ke kantor polisi, mereka langsung menemui Arga dimana masih ada Wira disana.


"Kenapa kau bisa disini?" tanya Sara menatap Arga khawatir.


"Dia tersorot rekaman cctv, jadi Ken yang sudah membuat wajahnya babak belur?" tanya Wira pada Sara.


Sara mengangguk, "Semalam aku disana, kenapa aku tidak ikut dipanggil?"


"Arga melindungimu, Ia tak ingin kau ditangkap seperti Arga." kata Wira.


"Tidak, bukan seperti itu. wajahmu tidak tersorot jadi aku tidak ingin polisi ikut mengejarmu." kata Arga.


Sara berdecak, menghampiri salah satu polisi lalu mulai menjelaskan detail yang sebenarnya pada polisi.


"Seharusnya kau mengakui sejak tadi!" omel polisi pada Arga.


Arga hanya diam saja, tak mengubris ucapan polisi itu.


"Bos, haruskah aku memanggil pengacara kita?" tawar Zil.


"Kau gila? Kau pikir aku akan jadi tersangka? Tidak perlu. Aku bisa mengurusnya sendiri. Lagipula bukan aku yang membunuhnya!" omel Arga pada Zil namun nadanya terdengar seperti menyindir Sara.


"Jangan beri tahu Ayah ku tentang ini!" pinta Arga yang langsung diangguki oleh Zil.


Pukul 10 malam, Sara, Arga, Wira dan Zil masih berada dikantor polisi hingga akhirnya polisi menemukan pisau yang digunakan untuk membunuh Ken.


"Kita akan mengecek sidik jari yang ada pada pisau itu agar kita tahu siapa pelaku yang sebenarnya." kata salah satu polisi memperlihatkan barang bukti yang Ia temukan di kebun belakang rumah Ken.


"Baiklah, kami akan terus menunggu kelanjutan kasusnya." kata Wira.


"Apa aku sudah boleh pulang?" tanya Arga pada polisi itu.


"Ya tentu saja, tapi ingat kau akan tetap diawasi karena jika benar kau yang membunuh Ken, kami akan segera menangkapmu!" kata polisi itu.


Arga memutar bola matanya malas, Ia sangat kesal karena lagi lagi polisi itu tidak percaya padanya.


"Baiklah, tangkap saja aku jika memang kau bisa membuktikan aku pelakunya!" ucap Arga lalu pergi meninggalkan kantor polisi.


"Aku akan pulang dengan Zil, kau pulanglah dengan Om Wira." ucap Arga menepuk bahu Sara lalu memasuki mobilnya.


"Biarkan dia menenangkan diri lebih dulu. Jangan khawatir." ucap Wira pada Sara.


"Tapi aku sudah salah karena sempat menuduhnya." kata Sara mengingat kejadian pagi tadi yang membuat Arga marah.


"Kita hanya manusia biasa Sara, tidak ada yang tahu kebenaran seperti apa. Sudahlah, jangan pikirkan lagi hmm." kata Wira yang akhirnya diangguki oleh Sara.


Wira merangkul Sara, mengajak putrinya masuk ke dalam mobil.


"Apa Tuan marah dengan Nona Sara?" tanya Zil saat melihat ke arah spion dan melihat Arga tampak kesal.


"Bagaimana aku tidak marah, dia menuduhku seolah aku ini sudah membunuh mantan suaminya!" ungkap Arga.


"Ya, dia memang harus menyesal!" omel Arga.


Zil tersenyum, kali pertamanya Ia melihat Tuan mudanya mengomel karena biasanya Arga tidak pernah sekalipun mengomel.


"Lihat saja jika aku terbukti tidak bersalah, aku tidak akan berbicara lagi padanya!"


Zil malah tertawa, "Apa Tuan yakin? Bukankah Nona sudah menerima lamaran Tuan?"


"Ya memang benar tapi kali ini aku sangat marah padanya."


Zil masih tertawa sambil menggelengkan kepalanya tak percaya jika Arga akan mendiamkan Sara, rasanya tidak akan mungkin.


Sara dan Wira sudah sampai dirumah, mereka langsung disambut oleh Vanes, Faris dan Rani yang menunggu kelanjutan kasus kematian Ken.


"Bagaimana? Apa pelakunya sudah ditangkap?" tanya Vanes.


Sara menggelengkan kepalanya lalu pergi ke kamarnya.


"Dia sedang sedih." ungkap Wira.


"Kenapa? Apa karena Ia masih mencintai Ken?" tebak Sara.


Wira menggelengkan kepalanya, "Tidak, bukan karena itu. Dia sedih karena Arga marah padanya."


Vanes dan Faris tampak bengong mendengar ucapan Wira, "Kenapa Arga harus marah?"


Wira akhirnya menjelaskan jika Sara sempat menuduh Arga yang membunuh Ken dan membuat Arga marah.


"Pantas saja Arga kesal." gumam Vanes.


Faris malah tersenyum, "Jika Sara sedih karena Arga marah bukankah itu artinya Sara sudah bisa menerima Arga?"


Wira, Vanes dan Rani menatap ke arah Faris lalu mereka tersenyum bersamaan karena mungkin apa yang Faris ucapkan benar, Sara sudah mulai menyukai Arga.


Sementara itu dikampung halaman Bik Sri...


Sudah pukul 11 malam namun Arka masih belum pulang. Siang tadi saat pulang sekolah, Arka pamit pada Sri akan pergi mengantar pak lurah ke kampung sebelah namun hampir tengah malam Arka masih belum pulang.


Bik Sri bahkan belum sempat mengutarakan maksud hatinya karena belum ada kesempatan Ia bisa berbicara dengan Arka.


"Ibu kok belum tidur?" suara Arka mengejutkan Sri yang masih duduk diluar rumah.


Gelapnya jalanan didepan rumah Bik Sri membuatnya tak bisa melihat kedatangan putra semata wayangnya.


"Nunggu kamu, kenapa bisa selarut ini?"


Arka tersenyum, "Tadi diajak muter muter sama Pak Lurah dulu trus pas mau pulang diajak mampir makan nasi goreng. Nih Arka juga bungkusin buat Ibu." kata Arka memperlihatkan bungkusan plastik yang Ia bawa.


Sri tersenyum lalu menerima plastik yang dibawa oleh Arka, "Kamu capek nggak Arka?"


"Memang kenapa Bu?"


"Temenin Ibu makan nasi gorengnya."


Arka tersenyum lalu mengangguk.


Dimeja makan, Arka dan Sri duduk berhadapan. Arka mulai bercerita tentang beberapa kenalannya yang seumuran dengan Ibunya.


"Rasanya sudah lama sekali sejak Ayah kamu meninggal." kata Sri.


"Ya Bu, Arka seneng dapat teman yang seumuran Ayah jadi ngerasa kalau Arka itu punya Ayah." ungkap Arka.


"Nak... Apa Ibu boleh menikah lagi?"


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa