
Selama ini memang banyak yang berpikiran buruk tentang Arga namun Arga tak pernah mengubris apapun yang orang anggap tentang dirinya. Arga percaya waktu akan menjawab semuanya.
Sama halnya seperti yang terjadi saat ini. Sara pikir Arga hanya mencari muka karena mengajak Sara ke panti, memperlihatkan kebaikan kebaikan Arga padahal Arga terpaksa mengajak Sara ke panti karena Ia lupa jika hari ini tanggal 15 dan terpaksa Sara ikut dengannya ke panti.
Arga sempat kesal saat Sara mengatakan jika Ia mencari muka namun kini Arga tersenyum lega karena Sara sudah menyadari jika ucapannya itu salah.
Arga tak mencari muka, menjadi donatur sudah rutinitas yang selalu Ia lakukan setiap bulan. Arga menggunakan uang jajan yang diberikan oleh Ayahnya untuk Ia berikan pada panti dan hal itu sama sekali tidak diketahui oleh Ayahnya.
"Kau pasti sangat kesal padaku." ucap Sara membuyarkan lamunan Arga.
"Ya sangat, entah apa yang bisa membuat rasa kesal ku ini hilang."
Sara berdecak, "Jangan melunjak dan minta yang aneh aneh!" omel Sara.
"Memang aku mau minta apa?"
"Aku tahu otakmu pasti sudah dipenuhi oleh pikiran kotor!" tuduh Sara.
Arga menghela nafas panjang, "Baru saja minta maaf sudah menuduh lagi."
Sara langsung terdiam mendengar ucapan Arga, Ia kembali merasa bersalah karena menuduh Arga tapi mau bagaimana lagi, bukankah semua pria memang memiliki pikiran kotor dan lagi, Arga juga pernah mesum padanya.
"Maaf." gumam Sara dengan suara pelan namun masih bisa didengar oleh Arga.
"Tidak, kali ini aku tidak akan menerima maafmu dengan mudah!"
Sara berdecak, "Lalu apa mau mu?"
"Berkencan denganku satu malam." pinta Arga.
Sara mengerutkan keningnya, "Kemana?"
"Kemanapun, menonton film atau pergi ke taman." kata Arga.
Sara menghela nafas lega, Ia pikir Arga akan mengajaknya ke hotel, melakukan hal mesum lainnya namun ternyata Arga mengajaknya nonton bioskop.
"Baiklah, kalau begitu besok sepulang kerja kita pergi ke bioskop." kata Sara menyetujui permintaan Arga.
Arga tersenyum lebar, perlahan Ia bisa mendekati Sara, Arga akan terus berusaha meyakinkan Sara agar Sara segera menerima lamarannya.
"Kau sudah janji dan aku tidak menerima alasan apapun." ucap Arga yang langsung diangguki Sara.
Setelah melewati 1 jam perjalanan, Arga akhirnya sampai dirumah.
"Tunggu, aku akan mengambil motor ku." ucap Arga langsung keluar begitu saja.
"Apa maksudnya?" batin Sara tak mengerti maksud Arga dan memilih segera menyalakan mobilnya.
Saat Sara akan keluar dari gerbang rumah Arga, dibelakang ada Arga yang mengendarai sepeda motor.
Sara berhenti, menunggu Arga sampai disampingnya. Sara membuka kaca mobilnya, "Kau mau ke club?" tanya Sara.
"Tidak, untuk apa aku kesana?"
"Lalu kenapa kau keluar membawa motor?" heran Sara.
"Aku ingin mengantarmu sampai rumah." balas Arga yang langsung membuat Sara berdecak.
"Tidak perlu."
"Aku hanya ingin kau aman dan selamat sampai rumah, jangan banyak protes lagi." ucap Arga yang akhirnya diangguki oleh Sara.
Sara kembali melajukan mobilnya sesekali melihat ke arah spion dimana Arga masih mengikuti dirinya.
Tanpa sadar bibir Sara tersenyum melihat betapa perhatiannya Arga padanya.
Setelah memastikan Sara sampai rumah dengan aman, Arga membelokan motornya untuk pulang namun suara Sara memanggilnya membuat Arga menghentikan laju motornya.
"Ada apa?"
"Kau langsung pulang?" tanya Sara.
Arga mengangguk, "Tentu saja, mau kemana lagi."
"Tidak, jika aku kesana aku akan mengajakmu. Kau pasti takut aku digoda oleh wanita lain kan?" tanya Arga dengan nada menggoda.
"Tidak." sangkal Sara.
Arga tersenyum lalu kembali menyalakan motornya, "Aku pulang dulu, selamat malam cantik." ucap Arga lalu melajukan motornya meninggalkan Sara.
"Kenapa pipi ku rasanya panas? Bukankah aku sudah biasa dipanggil cantik oleh banyak orang." gumam Sara sambil memeganggi kedua pipinya karena terasa panas setelah mendengar ucapan Arga.
Sara masuk ke dalam rumah setelah Arga tak terlihat lagi.
"Kau baru pulang?" tanya Wira yang ternyata menunggu kepulangan Sara.
"Belum tidur Pa?" Sara menghampiri Wira yang duduk diruang tamu.
"Belum, menunggu putri Papa pulang."
Sara tersenyum, "Sara mau mandi, tunggu ya Pa... Sara mau ngomong." kata Sara yang langsung diangguki oleh Wira.
Sara bergegas ke kamarnya untuk mandi setelah selesai, Sara kembali turun ke bawah dimana Wira masih menunggunya, duduk diruang tamu.
"Seharian ini kemana?" tanya Wira.
"Sara diajak melakukan kebaikan sama Arga." ucap Sara lalu tersenyum mengingat seharian ini Ia bersama Arga.
"Kebaikan apa?" Wira tampak penasaran.
Sara akhirnya menceritakan pada Wira tentang Arga yang menjadi donatur tetap panti asuhan. mendengar hal itu Wira tampak terkejut dan tak menyangka.
"Awalnya Sara pikir Arga hanya ingin memperlihatkan kebaikannya pada Sara tapi ternyata tidak." cerita Sara.
"Dan kau sudah mulai jatuh cinta pada Arga?"
Sara terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya, "Sara juga masih belum tahu Pa... Tapi sepertinya Sara mau mulai membuka hati buat Mas Arga." kata Sara mulai memanggil Arga menggunakan embel embel mas.
Wira tersenyum, "Jika seperti itu, Papa juga ikut senang. Papa tahu apa yang terjadi padamu sangat menyakitkan namun kamu juga harus ingat jika tidak semua laki laki sama."
Sara mengangguk, "Mas Arga meminta Sara untuk mencoba memulai dan sepertinya Sara setuju. Kalau menurut Papa bagaimana?" tanya Sara ingin meminta pendapat pada Wira.
"Kalau Papa terserah kamu Sara, kamu yang akan menjalani semua ini dan kamu yang paling tahu isi hati kamu sendiri. Jika kamu merasa yakin dengan Arga, coba... Tidak ada salahnya untuk mencoba dan memberi kesempatan pada orang baru."
Sara tersenyum, "Ya Pa... Sara ingin mencoba memulai dengan Mas Arga."
"Jadi apa artinya kamu sudah menerima lamaran Arga?"
Sara mengangguk, "Ya Pa... Sara terima lamaran mas Arga."
"Alhamdulilah."
Cukup lama Sara berbincang dengan Wira. Wira memberi banyak nasihat untuk Sara tentang kehidupan pernikahan hingga tak terasa sudah tengah malam.
"Sudah cukup sekarang kamu tidur." kata Wira yang langsung diangguki oleh Sara.
Sara segera naik ke atas untuk tidur dan Wira juga bersiap ke kamar untuk tidur. Namun baru mau memasuki kamarnya, Wira melihat Bik Sri berjalan ke arah pintu depan.
"Mau kemana?" tanya Wira.
"Mau bukain pintu Tuan, Non Rani juga pulang." kata Bik Sri.
"Ohh, ya sudah sana."
Bik Sri membuka pintu dimana Rani sudah berdiri didepan pintu.
"Maaf ya Bik gangguin Bik Sri istirahat." kata Rani merasa bersalah.
"Nggak apa apa Non," Bik Sri mempersilahkan Rani masuk kerumah.
Bik Sri menutup pintu, ingin kembali ke kamarnya namun langkah kakinya terhenti saat melihat Wira duduk di kursi dapur.
"Aku ingin minum teh." pinta Wira.
Bersambung....