TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
235


Faris tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa setelah mendengar ucapan Arga. Belum juga orangtua mereka menikah, Arga sudah pandai merayunya seperti ini.


Arga segera mengungkapkan keinginannya agar Faris mau menggantikan posisi Sara untuk menemui pihak Ergo, Arga juga menjelaskan kenapa Ia tak ingin Sara bertemu dengan pihak Ergo.


"Jadi begitu?" tanya Faris.


Arga mengangguk, "Sebagai calon adik, aku nggak minta apa apa cuma minta itu saja." kata Arga.


Faris tersenyum lalu mengangguk, "Baiklah nanti biar aku temui pihak Ergo."


"Bener bener calon abang terbaik." ucap Arga tersenyum senang.


Sara yang sedari tadi berada dibelakang Arga hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Arga segera mengajak Sara keluar dari ruangan Faris.


"Sudah beres jadi kamu nggak perlu ketemu pihak Ergo!" ucap Arga.


"Besok besok aku nggak akan laporan sama kamu dari pada kejadian kayak gini lagi." ucap Sara.


Arga berdecak, "Apa salahnya? Aku cuma mau melindungi istriku."


"Ya tapi nggak gini juga mas, aku kan harus profesional." omel Sara.


"Aku emang gini kalau kamu nggak suka resign aja dan fokus ngurusin aku." ucap Arga lalu pergi meninggalkan Sara.


Lagi lagi Sara hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dan sikap Arga yang sangat menyebalkan.


"Maklumi saja Sar, cowok emang gitu." suara Faris terdengar mendekat.


"Ya tapi kan nggak harus gitu juga mas."


Faris tersenyum, "Besok besok aku bakal pilihin klien yang cewek khusus buat kamu jadi kita bisa sama sama menjaga diri." kata Faris.


"Nggak usah gitu juga mas." Vanes merasa tak enak.


"Harus gitu Sar jadi aku bisa jaga diri dari klien cewek dan kamu pun begitu bisa jaga diri dari klien cowok."


Sara menghela nafas panjang, "Ya udah deh ya udah terserah Mas saja." ucap Sara akhirnya.


Baru 3 jam berada dikantornya, Arga sudah bersiap untuk pergi.


"Tuan mau kemana? Sekarang masih pukul 11 siang, belum waktunya makan siang." tanya Zil.


"Mau ke kantor Sara." Balas Arga langsung melewati Zil begitu tanpa peduli dengan ocehan Zil.


Tak hanya Zil yang merasa heran, Sara pun merasa heran dengan kedatangan Arga yang sangat awal padahal ini belum waktunya untuk makan siang.


"Aku hanya memastikan kamu nggak jadi pergi." ucap Arga santai lalu duduk disofa yang ada diruangan Sara.


"Kamu nggak percaya sama Mas Faris?" tanya Sara mengingat Faris sudah menyetujui permintaan Arga pagi tadi.


"Percaya tapi kalau sama kamu nggak percaya. soalnya kamu suka ngeyel."


Sara berdecak, tak menjawab ucapan Arga dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Aku mau makan ramen." ucap Arga saat Sara menghentikan pekerjaannya dan bersiap untuk pergi.


"Mie lagi mie lagi. Kemarin mie ayam sekarang ramen." ucap Sara dengan wajah malas.


"Ya sudah terserah kamu saja." Arga kembali ngambek.


"Makan di resto hotel saja sekalian ngasih jatah suamiku biar nggak kayak singa." ucap Sara yang langsung membuat Arga tersenyum lebar.


"Nah begitu baru setuju, istriku benar benar sangat pengertian." puji Arga.


Sara memutar bola matanya malas.


Sementara itu...


Setelah melewati perjalanan hampir 4 jam, Dylan dan Rani akhirnya sampai dikampung halaman Rani.


Saat ini Dylan menggunakan mobil kantor, mengingat Rani tengah hamil dan Ia tak ingin terjadi sesuatu pada Rani jika harus mengendarai motor.


Saat memasuki rumah, Rani dan Dylan sudah disambut wajah manyun Siti Ibu Rani.


"Bapak mana Bu?" tanya Rani meletakan oleh oleh yang Ia bawa dimeja.


"Di sawah."


"Belum pulang?"


Siti hanya menggelengkan kepalanya.


"Kalau kalian pulang mau ngomongin masalah nikah, Ibu nggak mau denger apapun. Lagipula kemarin Ibu sudah bilang sama kalian kalau nunggu setahun lagi kan?"


Rani mengangguk, paham dengan apa yang di ucapkan oleh Ibunya.


"Tapi masalahnya-" Dylan baru ingin berbicara namun langsung dicegah oleh Rani. Dylan menatap Rani yang menggelengkan kepalanya, seolah memberi kode pada Dylan agar jangan mengatakan apapun sebelum Bapaknya pulang.


Dylan akhirnya kembali diam.


"Kami tunggu Bapak saja Bu." ucap Rani.


Siti menatap Rani curiga, "Jangan jangan kamu dihamilin sama pacarmu?" tebak Siti yang sontak membuat Dylan dan Rani terkejut.


"Benar kan?" Siti tak sabar menunggu jawaban Rani.


"Bu bukan begitu Bu." Rani terdengar gugup.


"Ibu tenang saja, jika hal seperti itu terjadi, saya pasti akan tanggung jawab." kata Dylan meyakinkan Siti.


Siti masih menatap Rani dan Sorot matanya terlihat sangat kecewa.


"Sudahlah kalian istirahat saja dulu," ucap Siti beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Rani dan Dylan.


"Aku takut..." ucap Rani.


Dylan mengenggam tangan Rani, "Semua akan baik baik saja, jangan khawatir."


Rani akhirnya mengangguk.


Keduanya masih duduk diruang tamu hingga Siti kembali keluar membawa 2 gelas air sirup.


"Minumlah kalian pasti haus." ucap Siti memberikan segelas untuk Rani dan juga Dylan.


Rani dan Dylan sempat menatap satu sama lain merasa ada yang janggal dengan sikap ibunya.


"Minumlah." pinta Siti lagi yang akhirnya membuat Rani dan Dylan segera meneguk habis minuman mereka.


Setelah melihat Dylan dan Rani menghabiskan minumannya, Siti kembali beranjak dari duduknya.


"Ibu panggil Bapak buat pulang dulu." ucap Siti lalu pergi meninggalkan Dylan dan Rani.


"Sepertinya ada tanda tanda lampu hijau." ucap Dylan yang langsung diangguki oleh Rani.


"Aku harap begitu mas."


Setelah menunggu hampir 30 menit, Siti akhirnya kembali kerumah, "Kalian pulang saja ke kota, Bapak masih sibuk di sawah. Pulangnya malam." ucap Siti.


"Nggak apa apa, kami tunggu." ucap Dylan.


Mata Siti langsung melotot menatap Dylan tak suka, "Nggak usah ngeyel, kalau ibu suruh pulang ya pulang!" sentak Siti.


"Tapi Bu, kami belum ngobrol sama Bapak." ucap Rani.


"Nanti biar Ibu yang ngomong, Ibu juga sudah tahu apa yang ingin kalian bicarakan!"


Dylan dan Rani saling bertatapan.


"Kamu hamil kan?" tebak Siti lagi dan kali ini Rani tidak menyangkal, Rani terdiam.


"Saya akan tanggung jawab!" ucap Dylan.


Siti menatap Dylan sinis, "Bukan masalah tanggung jawab, kalau sampai Bapaknya Rani tahu ini bisa bisa strokenya kambuh lagi. Sudah lah kalian pulang saja biar nanti Ibu yang bicara sama Bapak." kata Siti.


Rani menatap Siti tak percaya, "Ibu nggak marah? Ibu nggak kecewa sama Rani?"


"Ibu muak jadi sebaiknya kamu pergi dulu. Urusan Bapak biar nanti Ibu yang bicara." ucap Siti lalu pergi meninggalkan ruang tamu.


Rani terlihat menangis.


"Mungkin sebaiknya kita pergi dulu dan kembali lagi minggu depan." ajak Dylan.


Rani mengangguk setuju, keduanya segera pergi dari rumah orangtua Rani.


Ditengah perjalanan pulang ke kota, Rani merasakan perutnya sangat sakit hingga wajahnya pun ikut pucat.


Tak tega melihat keadaan Rani membuat Dylan membawa Rani ke klinik terdekat.


"Ada darah..." ucap Rani saat ada darah mengalir dikakinya.


Bersambung...


Jan lupa.like vote dan komen yaaa