
Ken merasa puas dan senang karena berhasil melampiaskan kekesalannya dengan memberi Rani dan Dylan pekerjaan yang banyak.
Dengan pekerjaan ini, Ken yakin jika Rani dan Dylan tidak akan bisa makan siang bersama.
Dan benar saja, saat jam makan siang, sepasang kekasih itu masih sibuk dengan pekerjaan masing masing.
Namun kesenangan Ken hanya sesaaat. Ya hanya sesaat saja karena baru saja Ken mendapatkan panggilan dari Alea yang mengatakan jika Sara istrinya tengah dibawa kerumah sakit saat ini.
Ken terkejut, tentu saja terkejut. Ia menanyakan pada Alea dimana rumah sakitnya setelah itu Ken mengakhiri panggilan dan segera pergi kerumah sakit tempat istrinya dirawat.
Sampai dirumah sakit, Ken disambut oleh Bik Sri yang menunggu didepan IGD.
"Bagaimana Sara?"
"Dokter sedang memeriksanya."
"Sebenarnya apa yang terjadi? Dan bagaimana bisa? Apa orang orang yang ada dirumah tidak mengawasi Sara?" sentak Ken terdengar emosi.
Bik Sri hanya diam saja, tidak membalas ucapan Ken yang seolah ingin menyalahkan para maid.
Dokter keluar dari IGD, segera Ken mendekat ke arah Dokter yang baru saja memeriksa Sara.
"Sayang sekali tapi kita harus segera bertindak." ucap Dokter itu.
"Apa yang terjadi? Bayinya baik baik saja?"
Dokter itu menggelengkan kepalanya, "Tidak, maaf sekali tapi kita harus segera melakukan kuretase."
Ken terkejut sangat terkejut mendengar ucapan Dokter itu.
"Apa tidak ada cara lain untuk mempertahankan kandungannya?" tanya Ken dengan frustasi namun Dokter itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada, hanya ini satu satunya cara agar Ibunya bisa diselamatkan. Kau ingin mempertahankan bayinya sama saja kau akan membunuh ibunya secara perlahan karena janinnya sudah tidak sehat."
Ken semakin terpuruk hingga tanpa sadar Ia jatuh ke lantai.
"Tuan harus segera memberi keputusan agar Nona bisa ditangani oleh para Dokter." ucap Bik Sri yang juga mendengar penjelasan Dokter.
"Tapi aku tidak mau kehilangan anak ku."
"Lalu kita bisa apa sekarang? Apa kau lebih memilih janin yang tidak sehat dari pada istrimu?" sentak Bik Sri mulai kesal dengan ken.
Ken terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia membuat keputusan, "Baiklah, lakukan apapun yang bisa membuat istriku selamat."
Dokter itu mengangguk paham dan kembali masuk ke dalam.
Ken masih tersimpuh dilantai, Ia menunduk lesu menerima fakta jika harus kehilangan bayinya.
"Dosaku terlalu banyak... Tuhan sedang menghukumku." ucap Ken lalu menangis sesenggukan.
Awalnya Bik Sri kesal dengan sikap Ken namun kini Ia kasihan melihat Ken menangis dilantai.
Bik Sri menghampiri Ken lalu memberikan sebotol air mineral untuk Ken, "Semua pasti akan membaik."
Ken menatap Bik Sri sejenak sebelum akhirnya Ia menerima botol air mineral lalu meneguknya hingga habis.
Setelah hampir 30 menit menunggu, proses kuretase akhirnya selesai dan Sara sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
Ken memasuki ruang perawatan, melihat istrinya sudah membuka mata dan menerawang ke langit langit kamar.
"Sayang..." panggil Ken mengejutkan Sara.
Dengan mata sayu, Sara menatap ke arah Ken. Tak berapa lama, Sara menangis.
"Hey... Sudah jangan menangis hmmm." Ken mencoba menghibur Sara dengan mengelus pipi Sara.
"Apa aku masih belum pantas menjadi Ibu? Kenapa Tuhan mengambil anak ku?" ucap Sara sambil menangis.
"Sudah sayang sudah, nanti jika sudah waktunya Tuhan pasti akan memberi kita kepercayaan untuk memiliki anak." tambah Ken yang akhirnya diangguki oleh Sara.
"Kau tidak marah padaku kan mas?"
Ken tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Bagaimana aku bisa marah padamu, aku tidak akan mungkin bisa marah padamu." kata Ken lalu memeluk Sara.
Hampir 2 jam lamanya Ken menghibur Sara dan Kini Sara pun sudah mulai tenang dan bisa menerima apa yang terjadi padanya.
Sore harinya, Faris, Vanes dan Rani yang mendengar kabar tentang Sara pun segera pergi kerumah sakit bersama.
Melihat semua orang datang, Sara kembali menangis.
Vanes dan Rani pun mencoba menghibur Sara agar tak lagi sedih.
"Setidaknya Tuhan pernah memberimu kesempatan dan harapan, jangan sedih lagi." ucap Vanes yang akhirnya diangguki oleh Sara.
Ken dan Faris berdiri didekat pintu, keduanya hanya diam tidak ada yang memulai untuk berbicara hingga Vanes dan Rani pamit pun keduanya masih sama sama membisu.
"Kenapa tidak mengucapkan bela sungkawa pada Iparmu." protes Vanes saat mereka sudah memasuki mobil. "Meskipun mas masih kesal dengan Ken tapi tidak seharusnya bersikap seperti itu." ucap Vanes lagi.
"Maafkan aku." Faris terlihat menyesal.
"Jangan bersikap seperti itu lagi mas." pinta Vanes yang langsung diangguki Faris.
Rani yang ada dibangku belakang hanya diam dan menyimak obrolan Faris dan Vanes tanpa ikut mengatakan apapun.
Sejujurnya Rani juga sedang kesal dengan Ken. Seharian ini Ken memberinya banyak pekerjaan padahal Ia baru pulang dari luar kota. Rani merasa Ken bos yang kejam, tidak memberinya waktu untuk istirahat.
Dan atas apa yang menimpa Sara, Rani ikut prihatin dan sedih, meskipun Sara pernah menjadi rivalnya dimasa lalu namun kini Rani sudah mengikhlaskan segalanya.
"Bagaimana keadaan Sara?" tanya Wira saat ketiganya sampai dirumah.
Vanes menatap ke arah Bik Sri yang sepertinya belum memberitahukan segalanya pada Wira.
"Apa Sara keguguran?" tanya Wira lagi karena tak ada satupun yang menjawab.
"Apa papa sedih?" Vanes memastikan karena Ia takut berita ini akan membuat Papanya drop.
"Jadi benar ya?" gumam Wira seolah sudah menebak.
"Maaf saya tidak berani memberitahu Tuan." ucap Bik Sri merasa bersalah karena sejak Ia pulang dari rumah sakit, Wira sudah menanyakan perihal Sara namun Ia tidak menjawab.
"Papa tidak apa apa, tidak sedih dan kecewa karena apa yang terjadi sudah takdir dari Tuhan." ucap Wira.
Vanes dan Faris menghela nafas lega.
"Jadi ini yang namanya Rani?" Wira kini malah menatap ke arah Rani yang masih berdiri disana.
"Iya Tuan, saya Rani, sepupu Mas Faris dari kampung."
Wira terkekeh, "Kenapa harus memanggilku Tuan? panggil saja Papa seperti yang lain." ucap Wira.
Rani sempat menatap ragu, Ia juga menatap ke arah Faris hingga Faris menganggukan kepalanya membuat Rani tak ragu memanggil Wira dengan panggilan Papa.
"Aku sangat bahagia sekali, dimasa tua ku rumah ini ramai, aku sama sekali tidak merasa kesepian." ungkap Wira lalu menatap ke arah Bik Sri di ikuti semua orang yang juga ikut menatap ke arah Bik Sri.
"Lalu apa kau sudah bisa memberiku jawaban sekarang?"
Bik Sri tampak gugup dan bingung namun akhirnya Ia memberi jawaban juga pada Wira.
"Maafkan saya Tuan..."
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa