
Semua orang yang ada dimeja makan sangat terkejut dengan ucapan Wira yang mengatakan jika Ken meninggal.
Terutama Sara dan Arga yang baru semalam mereka mendapatkan ancaman dari Ken namun sekarang Ken malah sudah meninggal.
"Serius Pa?" tanya Sara memastikan jika apa yang Wira ucapjan itu benar.
"Ya, mantan anak buah Papa baru saja menelepon dan mengatakan jika Ken terbunuh di rumahnya."
Sara langsung menatap ke arah Arga yang ada disampingnya.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak tahu apapun!" ucap Arga merasa jika Sara mencurigainya.
"Tidak, aku hanya..." Sara merasa bersalah.
"Lupakan, jika kau ingin kesana aku akan menemanimu." ucap Arga yang akhirnya diangguki oleh Sara.
Sara, Arga dan Wira memasuki mobil untuk ke lokasi kejadian pembunuhan, di belakang ada mobil Faris dimana ada Vanes dan Rani yang ikut serta pergi ke lokasi pembunuhan.
Saat semua orang sudah sampai, rumah Ken sudah dipasangi garis polisi yang tidak memperbolehkan siapapun untuk masuk ke dalam.
"Bagaimana bisa ini terjadi? siapa yang membunuhnya?" tanya Wira pada polisi yang memeriksa Tkp.
"Ada 3 tusukan yang membuat korban meninggal, korban dibunuh menggunakan pisau dapur dan saat ini kami sedang menyelidiki siapa orang orang yang terakhir dia temui." ungkap polisi itu yang lagi lagi membuat Sara menatap ke arah Arga.
"Hubungi aku jika tersangka sudah ditemukan." pinta Wira memberikan kartu namanya pada polisi itu, "Dan setelah jasadnya selesai diperiksa, izinkan aku untuk mengurus pemakamannya, korban sudah lama bekerja denganku."
Polisi itu menganggukan kepalanya, "Baiklah Pak, nanti kami akan menghubungi Bapakn untuk mendapatkan informasi tentang korban."
Wira mengangguk, setelah berbincang dengan polisi mereka pergi kerumah sakit untuk melihat jasad Ken sebelum di makam kan.
"Sebelum meninggal, korban sempat berhubungan intim dengan seseorang." ucap Dokter forensik yang mengurus jasad Ken.
Seketika hati Sara terasa ngilu mendengar ucapan Dokter itu. Ken sama sekali tidak berubah, bahkan saat Ken memperlihatkan penyesalan pada Sara nyatanya Ken masih bermain dengan wanita bayarannya.
"Apa mungkin Alea yang membunuh Ken?" tebak Faris.
Vanes menggelengkan kepalanya tak setuju, "Nggak mungkin Mas, Alea masih kecil dan sangat lugu jadi rasanya tidak mungkin jika Alea yang membunuh Ken." sangkal Vanes.
"Bagaimana bisa kau mengatakan jika dia lugu sementara dia sudah berhasil merebut suami orang?" protes Sara seolah tak terima dengan ucapan Vanes yang membela Alea.
"Sudah sudah, jangan dibahas lagi masalah ini. Biarkan polisi yang bekerja. Sekarang sebaiknya kalian segera berangkat ke kantor dan ke kampus. Biarkan masalah ini, jangan dipikirkan." pinta Wira yang akhirnya diangguki oleh semua orang.
Faris memasuki mobil diikuti oleh Vanes dan Rani.
"Aku jadi nggak enak sama Sara mas, aku keliatan banget ya bela orang salah?" ucap Vanes merasa bersalah.
"Sudah jangan pikirkan lagi. Mungkin tadi aku yang salah, seharusnya aku tidak menebak yang menyulut api dihati Sara, aku salah sudah menyebut nama Alea." ungkap Faris.
"Rasanya aku tidak percaya jika Alea yang membunuh mas."
Faris mengangguk, "Sudah jangan pikirkan lagi, biarkan polisi yang bekerja. Lagipula saat ini polisi juga sedang melacak keberadaan Alea."
Vanes terdiam, meskipun Ia tahu jika Alea salah sudah merebut Ken dari Sara namun tidak seharusnya Faris menuduh Alea seperti itu. Vanes masih ingat sorot mata Alea saat Ia mengusirnya waktu itu. Dari sorot mata Alea terlihat jika Alea sangat mencintai Ken.
Sementara itu dimobil lain, Arga dan Sara baru saja memasuki mobil setelah Faris dan Vanes sudah meninggalkan rumah sakit lebih dulu.
Arga dan Sara masih sama sama diam, pikiran mereka sama sama sedang kalut. Sara yang masih berduka atas meninggalnya Ken mantan suaminya dan Arga yang merasa kesal dengan tatapan mata Sara yang seolah menuduh dirinya sudah membunuh Ken.
Arga tidak melakukan itu dan tentu saja Ia kesal jika Sara menuduhnya meskipun Ia memang marah dengan Ken namun tidak sedikit pun terlintas dipikiran Arga untuk membunuh orang.
"Kenapa minta maaf?"
"Aku tahu aku salah karena sudah menuduhmu." akui Sara.
Arga menghela nafas panjang, "Aku memang kesal padamu tapi aku tidak akan marah, wajar saja jika kau masih mengkhawatirkan pria itu, dia mantan suamimu." cibir Arga.
"Jangan salah paham, semalam kita sedang bermasalah dengan Ken, aku takut jika mungkin kau emosi hingga-"
"Hingga harus membunuh orang?" potong Arga dengan nada sinis, "Apa aku seburuk itu dimatamu?"
"Tidak, tolong jangan salah paham, aku tidak bermaksud seperti itu." pinta Sara merasa jika Ia sudah salah bicara lagi.
"Sudahlah jangan dibahas lagi, aku sedang tidak mood!"
"Kau pasti marah, kau pasti kesal?" tebak Sara.
Arga tak menjawab hanya diam hingga mobil yang Ia lajukan kini sudah berhenti didepan kantor Sara, "Keluarlah, aku akan menjemputmu saat sudah pulang."
"Kita tidak makan siang bersama?"
Arga menggelengkan kepalanya, "Aku sedikit sibuk hari ini, aku tidak bisa janji." ucap Arga yang akhirnya diangguki oleh Sara.
"Baiklah, sekali lagi aku minta maaf." ucap Sara lalu Ia keluar dari mobil.
Arga menghela nafas panjang, Ia masih diam menatap punggung Sara yang kini sudah memasuki gedung kantornya.
Arga tersenyum kecut, "Apa tidak bisa kau menganggapku baik sedikit saja." gumam Arga lalu mulai menyalakan mobilnya karena Sara sudah tak terlihat lagi.
Baru setengah hari berada dikantor, Sara tidak bisa fokus bekerja, Ia masih memikirkan tentang Ken dan juga Arga yang saat ini sedang marah padanya.
Sara melirik ke arah jam tangan, sudah pukul 12 siang, waktunya untuk makan siang namun tidak ada tanda tanda Arga datang untuk mengajak makan siang.
Sara mencoba mendial nomor Arga namun sayang tidak dijawab. Sara tak menyerah, Ia juga mengirim pesan untuk Arga namun lagi lagi masih tidak mendapatkan respon dari Arga.
Sara menyerah, Ia mencoba tak mengubris tentang Arga yang masih marah padanya. Ia pergi untuk makan siang sendiri dan kembali bekerja setelahnya hingga jam pulang tiba, Sara pikir Arga akan menjemputnya namun ternyata bukan Arga yang datang melainkan Zil yang datang untuk menjemputnya.
"Apa Arga masih marah padaku Zil?" tanya Sara dengan raut wajah sedih.
"Tidak Nona, saat ini Tuan sedang sibuk."
Sara berdecak, "Sesibuk apapun dia tidak akan pernah mengingkari janjinya apalagi tidak menjemputku." protes Sara.
Zil menghela nafas panjang, "Nona sebenarnya Tuan berada dikantor polisi sejak siang tadi."
"Untuk apa dia kesana?"
"Beberapa polisi datang untuk membawa Tuan ke kantor polisi atas kasus pembunuhan Ken."
Sara terkejut bukan main, "Jadi benar jika Arga yang membunuh Ken?"
Zil menggelengkan kepalanya, "Tidak Nona, bukan seperti itu. Tuan tidak-"
"Antarkan aku kesana sekarang juga!" potong Sara.
Zil mengangguk dan menuruti permintaan Sara.
Bersambung....