TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
24


Vanes sedang sibuk didapur untuk membuat makan malam. Ia melirik jam dinding masih pukul 6 petang, biasanya Rizal dan Faris pulang jam 8 masih banyak waktu, Ia tidak harus buru buru pikir Vanes.


Namun sedetik kemudian, Ia mendengar suara mobil Rizal sudah masuk ke garasi rumah.


"Aneh, kenapa pulangnya cepat? Apa mereka tidak lembur?" batin Vanes.


"Saya buka pintu dulu ya Non." kata Bik Sri yanh juga sedang membantunya didapur.


Vanes mengangguk dan Bik Sri segera pergi untuk membukakan pintu.


Dan tak berapa lama Bik Sri kembali ke dapur.


"Cuma Tuan Rizal yang pulang."


Vanes mengerutkan keningnya, "Kok cuma mas Rizal."


Bik Sri mengangguk, Ia ingin mengatakan sesuatu namun seperti ditahan untuk tidak mengatakannya.


"Ada apa Bik?" tanya Vanes penasaran.


"Kata Tuan, Den Faris lagi jalan sama cewek Non."


Deg... Seketika Vanes menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong wortel.


Pergi dengan wanita lain? Entah mengapa mendengar itu membuat dada Vanes terasa sesak.


"Jangan salah paham dulu Non, lebih baik nanti ditanyakan sama Den Faris." kata Bik Sri seolah tahu apa yang dirasakan Vanes saat ini.


"Aku baik baik saja Bik, jangan khawatir." Vanes terlihat memaksakan senyum membuat Bik Sri khawatir.


Tak berapa lama, Rizal tampak turun dan bergabung didapur.


"Ada yang bisa ku bantu?" tawar Rizal.


Vanes yang saat ini sedang kalut pun langsung menatap Rizal aneh.


"Ada apa dengan pria ini? Apa dia kesurupan atau semacamnya?" batin Vanes.


"Mau ku bantu tidak?" tawar Rizal lagi karena Vanes hanya menatapnya.


"Tidak usah, duduk dan tunggulah. Sebentar lagi matang." kata Vanes.


"Ck, menolak kebaikan orang yang mau membantu itu tidak boleh."


Vanes meletakan tutup panci dengan kasar hingga menimbulkan suara. Suasana hatinya sedang tidak baik dan Rizal malah menganggunya.


"Kenapa marah? Aku kan hanya berniat baik." kata Rizal lalu memilih duduk tak mau menganggu Vanes.


Makan malam sudah matang, Bik Sri menyiapkan dimeja dan Vanes segera duduk untuk makan.


"Kita hanya makan berdua karena Faris sedang kencan dengan gadisnya." celetuk Rizal seolah memanasi Vanes yang memang merasakan cemburu.


"Sejak Faris tinggal disini kita tidak pernah makan berdua."


Vanes tersenyum sinis, "Sebelum ada Faris bukankah kau juga jarang makan dirumah?" cibir Vanes.


Rizal berdehem, Ia merasa tersindir dengan ucapan Vanes, "Kalau begitu kapan kapan kita makan diluar berdua, bagaimana?" ajak Rizal.


Vanes langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku lebih suka makan dirumah."


Rizal berdecak, "Dinner romantis berdua? Kau tidak mau?"


Vanes mengangguk, "Aku tidak mau."


Rizal tampak kesal, merasa jika Vanes orang yang sangat sulit didekati atau mungkin dirinya yang terlambat mendekati Vanes? Ah entahlah mungkin Rizal harus berusaha lebih keras lagi pikir Rizal.


"Kenapa hanya makan sedikit?" tanya Rizal saat Vanes sudah selesai makan sementara dirinya belum selesai.


Vanes meletakan sendoknya lalu menatap Rizal malas, "Aku heran, kenapa mas cerewet sekali malam ini? Bukankah biasanya kita hanya saling diam dan tak menganggu satu sama lain?"


Rizal kembali berdehem, Ia ingin mengapai tangan Vanes namun Vanes langsung menolaknya, "Hey dengarkan aku, mungkin selama ini aku kurang memperhatikanmu dan tidak menganggapmu sebagai istriku. Aku menyesal jadi sekarang aku sedang berusaha untuk memperbaiki hubungan kita." kata Rizal mencoba meyakinkan Vanes.


Vanes tersenyum sinis, "Sudah terlambat." ucap Vanes lalu pergi meninggalkan Rizal.


"Hey tunggu, suamimu masih makan." teriak Rizal berharap Vanes kembali namun gadis itu sama sekali tak mengubrisnya dan malah menaiki tangga pergi ke kamarnya.


Sementara dikamarnya, Vanes terlihat gelisah dan berkali kali membuka gorden untuk melihat ke luar rumah apakah Faris sudah pulang atau belum.


"Apa dia punya kekasih? Lalu kenapa kemarin dia menciumku? Apa dia sama saja dengan kakaknya?" omel Vanes lalu kembali menutup gorden.


Tak berapa lama, Vanes kembali membuka gorden namun belum ada tanda tanda Faris pulang. Vanes berdiri didekat gorden hampir 15 menit namun tetap saja Faris masih belum pulang hingga Ia merasa kakinya pegal dan memilih berbaring diranjang.


Pukul 8 berlalu, Dan masih belum ada tanda tanda Faris pulang hingga hampir pukul 9 malam, Vanes mendengar suara motor yang membuatnya langsung beranjak dari ranjang dan kembali membuka gorden untuk melihat keluar rumah.


Dan benar saja itu adalah Faris yang baru saja turun dari motor dan memberikan helmnya pada seorang gadis.


Gadis itu tersenyum ke arah Faris sebelum akhirnya melajukan motornya, pergi meninggalkan rumahnya.


Vanes segera menutup gordennya sebelum Faris berbalik dan melihat ke atas kamarnya.


Entah mengapa hati Vanes merasa sakit saat melihat ada gadis lain yang tersenyum pada Faris. Rasa sakitnya ini hampir sama saat mengetahui suaminya tidur dengan gadis lain dimalam pernikahan mereka.


"Seharusnya aku tidak memberikan hatiku dengan mudah, aku pikir dia pria baik tapi ternyata sama saja."


...****************...


Tengah malam Faris terbangun, Ia kehausan dan lupa membawa minuman membuatnya harus pergi ke dapur untuk minum.


Saat Faris akan kembali ke kamar setelah minum, Faris melihat pintu menuju taman terbuka. Karena penasaran, Faris melihat siapa gerangan yang ada ditaman tengah malam begini.


Senyum Faris mengembang saat melihat ternyata Vanes yang duduk dibangku taman.


Faris kembali masuk ke kamar untuk mengambil coklat yang sempat Ia beli untuk Vanes sebelum pulang.


"Disini sendirian tengah malam begini nanti kesambet lho mbak." goda Faris lalu mengulurkan sekotak coklat untuk Vanes.


"Habis gajian mbak, temanku bilang coklat merek ini rasanya sangat enak jadi aku beli ini untuk Mbak Vanes." kata Faris.


Vanes tak menerima coklat pemberian Faris, Ia menatap Faris dengan tatapan aneh lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Faris.


"Eh mbak Vanes kenapa?" tanya Faris langsung berlari dan menghadang jalan Vanes.


"Mbak Vanes marah? Aku salah apa?" tanya Faris dengan raut wajah yang berubah pucat.


"Minggir, aku mau tidur!" kata Vanes dengan suara galak.


Faris merasa heran dengan sikap Vanes yang berubah padahal tadi pagi mereka masih baik baik saja.


Karena tak mau membuat Vanes semakin marah akhirnya Faris memberikan jalan untuk Vanes masuk kerumah.


Faris menatap punggung Vanes dengan sedih, hatinya terasa sakit.


Setelah Vanes tak terlihat lagi, Faris ikut masuk dan Ia merasa beruntung berpapasan dengan Bik Sri yang tengah minum didapur.


"Bibik tahu nggak, Mbak Vanes kenapa marah sama Faris?"


"Den Faris punya pacar?" tanya Bik Sri.


"Enggak Bik."


"Trus tadi jalan sama siapa?"


"Ohh itu temen kantor Bik, dia baik suka bantuin Faris makanya Faris mau traktir sebagai tanda terima kasih." jelas Faris.


"Nggak ada rasa suka?"


"Nggak ada lah Bik, saya malah sudah anggap dia seperti adik sendiri."


Bik Sri akhirnya tersenyum lega, "Den Faris mau tahu kenapa Non Vanes marah?"


Faris mengangguk,


"Non Vanes cemburu."


Seketika senyum Faris mengembang.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komenn yaaasss