TERGODA IPAR

TERGODA IPAR
178


Sara berusaha fokus mengemudikan mobilnya meskipun Arga menggodanya sedari tadi. Ia menyalahkan mulutnya yang tidak bisa dikontrol, bicara sembarangan hingga ketahuan jika dirinya semalam melihat Arga dari atas balkon kamarnya.


Sial... Sara tak henti hentinya mengumpati dari dalam hatinya namun meski begitu, Ia juga sangat penasaran karena Arga selalu tersenyum saat melihat pesan diponselnya. Sara hanya ingin tahu siapa yang mengirim pesan itu hingga mampu membuat Arga tersenyum.


Sara tidak cemburu, tidak.... Ia hanya penasaran ingin tahu saja.


"Belok ke kanan." pinta Arga.


Sara mengerutkan keningnya tak mengerti, "Kenapa harus belok ke kanan bukankah arah rumahmu ke kiri?" heran Sara yang saat ini ingin mengantar Arga pulang kerumah.


"Tidak tidak... Kau harus ikut dengan ku agar tidak salah paham." kata Arga, "Biarkan aku yang mengemudi." pinta Arga melepas seat beltnya dan bersiap untuk pindah ke kemudi.


Mau tak mau Sara menurut, Ia keluar dari mobil dan pindah ke kursi Arga.


Entah kemana Arga akan membawanya pergi, Sara juga tak tahu, Ia hanya menurut saja.


Kini Arga yang melajukan mobil, Sara hanya diam dan mengamati kemana Arga akan membawanya pergi. Sara merasa jalan yang dilewati Arga seperti menuju ke arah club malam yang Ia datangi sewaktu awal Ia pindah ke rumah Wira. Dan benar saja, mobil Arga berhenti didepan club malam yang masih tutup karena ini masih siang hari.


"Kenapa kita disini?" tanya Sara saat Arga melepaskan seat beltnya tanda akan keluar dari mobil.


"Kita harus menemui seseorang." balas Arga lalu melepaskan seat belt milik Sara.


"Menemui siapa?" tanya Sara masih tak paham.


"Sudahlah, ikuti saja aku." ucap Arga yang akhirnya diangguki oleh Sara.


Sara berjalan memasuki club mengikuti Arga. Awalnya mereka berjalan sendiri sendiri namun akhirnya Arga mengandeng tangan Sara dan lagi lagi Sara hanya diam menurut, tidak protes sama sekali.


"La..." Panggil Arga pada seorang bartender yang sedang membuat data minuman.


"Ngapain Lo kesini? Dia siapa?" tanya Gala si bartender teman Arga, menatap ke arah Sara yang masih digandeng tangannnya oleh Arga.


"Cewek gue!" balas Arga.


Sara berdecak, Ia ingin protes namun takut membuat Arga malu.


"Eh ralat, calon istri gue." kata Arga.


Gala pun tertawa, "Sejak kapan Lo punya rencana mau nikah?" ucap Gala tak percaya dengan ucapan Arga.


"Seriusan gue, Dia cemburu tiap kali lo ngirim pesan ke gue gara gara gue selalu senyum." ucap Arga dan kali ini Sara tak terima dengan pengakuan Arga meskipun sejujurnya memang benar. Bukan cemburu, Sara hanya penasaran.


"Lah ngapain malah Lo bawa kesini, harusnya Lo lihatin aja chat gue." kata Gala.


Arga tersenyum tengil, "Kok gue nggak kepikiran ya?" gumam Arga mengambil ponselnya dan membuka pesan dari Gala.


"Nih coba dibaca, dijamin bakal bikin kamu ketawa." ucap Arga mengulurkan ponselnya pada Sara.


Awalnya Sara tak mau namun karena Ia penasaran akhirnya menerima ponsel Arga. Sara membaca satu persatu pesan yang dikirim oleh Gala dan Ia pun tersenyum karena guyonan Arga dan Gala sangat kocak.


"Udah kan? Nggak salah paham lagi?" tanya Arga setelah melihat Sara tersenyum dan mengembalikan ponsel Arga.


"Aku nggak salah paham memang siapa yang salah paham." sangkal Sara membuat Arga gemas dan ingin mencubit pipi Sara namun Ia urungkan karena takut Sara marah.


"Dasar pasangan bucin!" omel Gala kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Pulang sekarang." ajak Sara yang langsung diangguki oleh Arga.


"Balik dulu ya bro... Ntar malem kesini lagi." ucap Arga yang langsung diangguki oleh Gala.


Arga kembali menggandeng tangan Sara, keduanya keluar dari club dan langsung memasuki mobil Sara. Arga kembali mengemudikan mobil Sara.


"Apa kau sering kesana?" tanya Sara.


"Aneh, kenapa bisa sama." batin Sara mengingat dulu Ia sering ke club namun sekalipun belum pernah bertemu dengan Arga.


"Ayahku memaksa aku pindah kesini lebih dulu, berharap aku mau menjadi penerus perusahaan tapi aku malah sering kabur hingga membuat Ayahku ikut pindah kesini." cerita Arga sambil cengegesan.


"Jadi waktu itu saat kau dikejar orang orang itu bukan mafia?"


Arga kembali tertawa, "Tentu saja bukan, mereka anak buah Ayahku yang ditugaskan untuk menangkapku!"


Plak plak... Sara memukul lengan Arga, "Dasar menyebalkan, jadi kau menipuku waktu itu!"


Arga kembali tertawa, "Maaf, aku terpaksa. Jika tidak seperti itu kau pasti tidak akan mau menolongku." ungkap Arga.


"Tentu saja tidak mau, dasar gila!" omel Sara


Arga tersenyum, "Pada akhirnya aku juga tertangkap saat bangun tidur dihotel, mereka memaksa ku mandi dan membawaku kepada Ayahku yang ternyata bertemu dengan calon istriku." kata Arga.


"Kau terlalu percaya diri, memang siapa yang mau jadi istrimu!" omel Sara.


"Kau mau, pasti kau mau!"


"Bagaimana jika aku menolak?" tanya Sara.


"Aku akan menghamilimu saat ini juga agar kau mau menikah denganku!" tegas Arga.


Sara menyilangkan kedua tangannya menutupi dadanya, "Jangan gila, aku benar benar belum siap menikah lagi."


Arga menghela nafas panjang lalu menepikan mobilnya dan menghentikan di pinggir jalan, "Aku tahu kau masih trauma dengan mantan suamimu." kata Arga, "Tapi kau juga harus tahu jika tidak semua laki laki seperti mantan suamimu. Move on Sara, ada banyak laki laki baik yang mungkin bisa membuatmu bahagia." tambah Arga.


Sara tersenyum hambar, "Semua pria pasti mengatakan itu di awal namun nanti saat wanita sudah mulai jatuh cinta, mereka akan membuang seperti sampah!"


"Aku tidak seperti itu." kata Arga meyakinkan.


"Tidak ada jaminannya." ucap Sara.


Arga menarik salah satu tangan Sara lalu meletakan di dada nya dimana Sara bisa merasakan degup jantung Arga yang berdetak kencang.


"Mereka seperti ini saat aku bersamamu," ungkap Arga, "Aku tidak baik baik saja Sara, aku juga merasa bingung kenapa harus merasakan ini padamu yang tak memiliki perasaan apapun padaku." tambah Arga.


Sara masih diam, merasakan degup jantung Arga yang masih saja berdegup kencang hingga akhirnya Ia sadar dan menarik tangannya dari dada Arga.


"Jantungku selalu berdegup seperti ini saat berada didekatmu, membuatku gila dan ini sangat menyebalkan!" omel Arga pada dirinya sendiri.


"Kau menyalahkanku?" tanya Sara.


"Tidak, aku menyalahkan diriku sendiri."


Arga bisa mendengar helaan nafas Sara.


"Apa kau juga merasakan itu Sara?"


"Merasakan jantungmu berdegup?" tanya Arga penasaran.


"Tidak."


Arga mengulurkan tangannya, "Aku ingin merasakan apa ucapanmu benar." kata Arga bersiap menyentuh dada Sara namun seketika Sara menampik tangan Arga.


"Dasar mesum!"


Bersambung...