
Nathan membuka tas milik Mira yang berisi berkas berkas penting perusahaan Rizal.
Tas yang dibawa oleh Mira pagi tadi saat keluar dari perusahaan Rizal.
"Kau benar benar cerdas sayang." puji Nathan seusai membaca satu persatu berkas yang ada disana.
"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini tapi aku tidak punya pilihan lain, Rizal sangat kejam padaku." ungkap Mira dengan suara lirih menahan tangis.
Nathan yang duduk disamping Mira pun merangkul tubuh gadis itu, "Kau memang sudah hancur, Dia merusakmu bahkan menjadikanmu pelampiasan nafsu saja tapi sekarang kau memiliki perusahaannya. Dengan 80 persen saham ini kau bisa menguasai perusahaan Rizal." kata Nathan tersenyum puas.
Mira menghela nafas panjang, rasanya masih sesak dan sakit. Sejujurnya bukan harta atau perusahaan yang Ia harapkan. Mira hanya menginginkan bersama Rizal selamanya namun karena Rizal menyakiti dan mengecewakannya membuat Mira terpaksa melakukan ini semua.
Mira menjebak Rizal dengan tanda tangan dikertas kosong yang akhirnya Ia gunakan untuk pengalihan saham 80 persen milik Rizal menjadi milik Mira.
Dan mulai besok, Mira sudah menjadi pemilik perusahaan.
Kini Mira penasaran bagaimana dengan tanggapan Rizal jika besok Ia mendepak Rizal keluar dari perusahaan, membalas perlakuan Rizal padanya pagi tadi. Pasti Rizal akan mengamuk padanya. Meski begitu, Mira sudah tidak takut lagi karena Ia merasa sudah memiliki Nathan yang akan melindunginya selalu.
"Aku tak sabar untuk besok pagi." ucap Mira.
Nathan tersenyum, "Ya besok akan menjadi hari kemenangan kita sayang." kata Nathan lalu mencium bibir Mira.
Nathan melepaskan bibir Mira lalu mengelus lembut pipi Mira, "Setelah resmi menjadi pemilik perusahaan, aku ingin kita segera menikah."
"Aku tidak ingin buru buru." kata Mira masih belum yakin dengan Nathan.
"Jika tidak menikah sekarang, perutmu akan segera membesar dan semua orang akan tahu jika kau hamil. Apa aku ingin semua orang tahu kau hamil tanpa suami?" tanya Nathan tersenyum tipis lalu mengelus perut Mira yang masih rata.
Mira menggelengkan kepalanya pelan, rasanya Ia tak punya pilihan lain selain menikah dengan Nathan.
Setelah menikah, kau akan tinggal dirumahku. Biarkan aku yang mengurus perusahaan, kau cukup dirumah, mengurusku dan anak anak kita."
"Aku tidak mau!" tolak Mira dengan tegas.
"Baiklah sayang, jika kau tidak mau, lakukan apapun yang kau inginkan asal kita menikah setelah ini." kata Nathan akhirnya.
"Aku lelah ingin tidur dan untuk menikah, aku akan pikirkan lagi." kata Mira lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Nathan.
Nathan tersenyum tipis, "Kau harus menikah denganku."
...****************...
Malam ini Vanes tidur dirumah sakit bersama Tantri mertuanya. Tatri berbaring disofa panjang yang ada diruang inap Rizal sementara Vanes duduk disamping ranjang Rizal.
Vanes masih belum bisa memejamkan matanya, Ia malah asyik menatap wajah suaminya yang masih belum sadarkan diri.
Vanes ingat saat pertama kali pertemuan mereka, saat itu Vanes diajak Papanya melayat kerumah Rizal.
Setelah Mama Vanes meninggal, Wira memang sedikit depresi, sering melamun dan mabuk hingga Ia tak sengaja menabrak Papa Rizal sampai meninggal.
Wira merasa bersalah dan berubah hidup lebih baik setelah menabrak orang hingga meninggal.
Wira bertanggung jawab penuh, memberikan uang bulanan untuk Tantri karena Tantri hanya ibu rumah tangga yang tidak bekerja.
Sejak pertama melihat Rizal, Vanes memang sudah naksir dengan Rizal karena ketampanan pria itu namun Rizal sama sekali tidak melirik Vanes sekalipun hingga keluarga mereka semakin dekat dan Tantri meminta Vanes menjadi menantu, Rizal masih belum menyukai Vanes.
Vanes bukan tak tahu perasaan Rizal, Ia tahu sangat tahu namun Vanes percaya jika cinta itu bisa tumbuh perlahan jika mereka bersama namun ternyata tidak untuk Rizal.
Sejak awal Rizal menganggap dirinya itu hanyalah penganggu hubungan Rizal dan kekasihnya.
Waktu itu Vanes belum menyerah, masih berusaha menjadi istri yang baik untuk Rizal namun akhirnya Vanes menyerah juga saat ini. Ya rasa cinta yang ada didalam hatinya untuk Rizal seolah hilang begitu saja. Rasanya sudah tak nyaman lagi dekat dengan Rizal.
Vanes menghela nafas panjang, Ia merasa sudah menjadi istri durhaka namun Ia tak ingin menyalahkan diri karena semua ini berawal dari Rizal.
Jika saja Rizal menerima dirinya sejak awal mungkin mereka akan menjadi pasutri bahagia yang memiliki anak anak lucu, ahh bahagianya pikir Vanes.
Vanes mengalihkan pandangan, Ia melihat disamping pintu ada kasur lipat yang dikirim oleh anak buah Papanya.
Vanes beranjak dari duduknya, Ia berniat tidur menggunakan kasur lipat itu.
"Kau sudah sadar?" tanya Vanes saat melihat Rizal sudah membuka matanya.
"Aku akan panggilkan dokter." ucap Vanes lagi lalu keluar untuk memanggil dokter.
Rizal akhirnya diperiksa oleh Dokter yang berjaga. "Keadaaan sudah membaik hanya tinggal memberikan perawatan hingga pasien sembuh pasca operasi."
"Terimakasih banyak dok," ucap Vanes.
Setelah dokter keluar, Vanes kembali mendekati Rizal.
Rizal menatap ke arahnya, seolah bingung dengan apa yang terjadi.
"Kau kecelakaan, apa kau ingat sesuatu?" tanya Vanes menjawab kebingungan Rizal.
"Kecelakaan?" Rizal memeganggi kepalanya lalu meringgis kesakitan.
"Jangan banyak bergerak, kau baru saja operasi." kata Vanes.
"Aku kecelakaan?"
Vanes mengangguk, "Ya kau kecelakaan. Apa kau ingat apa yang terjadi sebelum kecelakaan?" tanya Vanes.
Rizal diam, mencoba mengumpulan memorinya namun masih saja belum ingat apa yang terjadi padanya hingga Ia berakhir disini.
"Tidak perlu dipaksa jika tidak ingat. Lebih baik sekarang istirahat. Kau bisa menjawab jika sudah mengingat." kata Vanes yang langsung membuat Rizal tersenyum.
"Terima kasih."
Vanes mengangguk, "Aku akan tidur dibawah, kau bisa memanggilku jika membutuhkan sesuatu." kata Vanes.
Rizal menggelengkan kepalanya, "Jangan tidur."
"Tapi aku mengantuk." keluh Vanes karena ini sudah tengah malam.
"Duduklah dan tidurlah memeluk tanganku." pinta Rizal.
Vanes berdecak, "Tidak bisa."
"Ku mohon, aku sedang sakit. Aku tidak mau ditinggalkan." pinta Rizal.
Vanes memutar bola matanya malas namun tetap menuruti permintaan Rizal. "Dia sedang sakit jadi turuti saja." batin Vanes akhirnya kembali duduk dikursi namun Ia tidak memeluk tangan Rizal.
Yang terjadi, keduanya malah asyik pandang pandangan mata hingga Vanes memutuskan pandangan mata lebih dulu.
"Aku benar benar bodoh." umpat Rizal.
"Kau ingat sesuatu?" tanya Vanes.
"Ya, aku ingat betapa bodohnya aku karena telah menyianyiakan gadis sebaik dirimu." ucap Rizal.
Vanes memutar bola matanya malas, Ia sudah malas membahas hubungannya dengan Rizal yang sudah hancur dan tidak bisa diperbaiki.
"Jika saja waktu bisa diputar, aku tidak akan menyakitimu hanya karena memikirkan perasaan Mira."
"Apa yang sedang kau katakan?" suara Tantri terdengar membuat Rizal terkejut.
"Ma Mama..." Rizal menatap ke arah Vanes penuh tanya lalu beralih ke belakang Vanes dimana ada Mamanya yang beranjak dari sofa.
"Matilah aku."
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komenn..
Dah 4 bab... sama bayar utang yang kemarin hehe
Sehari aku usahakan 2 bab yaaa, kalau sibuk ya aku kejar hari berikutnya... Thankyouu buat para pembaca yang setia nunggu kelanjutan cerita akuu...